Terima Anugerah CreSHome Awards 2026, Fahira Idris: Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Indonesia Lebih Kuat

by Bambang Tri |
Terima Anugerah CreSHome Awards 2026, Fahira Idris: Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Indonesia Lebih Kuat
Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta yang juga aktivis perempuan Fahira Idris menerima Anugerah CRESHOME Awards 2026.Foto: Ist

telusur.co.id, JAKARTA -Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta yang juga aktivis perempuan Fahira Idris menerima Anugerah CRESHOME Awards 2026 Kategori Perempuan, Pemberdayaan & Kesetaraan yang diselenggarakan oleh Creative Student Home (CreSHome) di Auditorium MNC University, Sabtu (7/11). Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan dedikasinya dalam memperjuangkan pemberdayaan perempuan, memperkuat perlindungan perempuan dan anak, serta mendorong kesetaraan dan keadilan di Indonesia.

Fahira Idris menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar CreSHome atas penghargaan tersebut. Menurutnya, penghargaan bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga pengingat bahwa upaya menciptakan kehidupan yang lebih adil, aman, dan memberikan kesempatan setara bagi perempuan dan anak membutuhkan perjuangan serta kolaborasi berkelanjutan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada CreSHome atas penghargaan ini. Bagi saya, penghargaan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan agar perempuan semakin berdaya, perempuan dan anak semakin terlindungi, serta setiap orang memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang harus terus kita kuatkan bersama,” ujar Fahira Idris.

Senator Jakarta ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan, perlindungan perempuan dan anak, serta kesetaraan merupakan tiga hal yang saling berkaitan dan menjadi fondasi penting bagi pembangunan masyarakat yang lebih kuat dan berkeadilan.

Menurutnya, terdapat tiga pesan penting yang perlu terus diperkuat dalam upaya mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif.

*Pertama, pemberdayaan perempuan harus diwujudkan melalui penguatan kapasitas dan perluasan kesempatan.* Fahira Idris menilai perempuan berdaya bukan berarti perempuan harus berjalan sendirian ataupun berhadapan dengan laki-laki. Pemberdayaan berarti memastikan perempuan memiliki akses pendidikan, keterampilan, kemandirian ekonomi, ruang berpartisipasi, serta kesempatan mengembangkan potensi dan mengambil keputusan.

Menurutnya, dampak pemberdayaan perempuan tidak berhenti pada individu, tetapi meluas pada ketahanan keluarga, kualitas pengasuhan dan pendidikan anak, penguatan ekonomi, serta kemajuan lingkungan dan masyarakat.

“Ketika satu perempuan berdaya, dampaknya tidak berhenti pada dirinya. Ia dapat menguatkan keluarga, mendidik generasi, menggerakkan lingkungan, bahkan ikut mengubah masyarakat. Karena itu, perempuan tidak cukup hanya diberi ruang, tetapi juga perlu diperkuat kapasitasnya agar mampu memanfaatkan kesempatan tersebut,” katanya.

*Kedua, pemberdayaan harus berjalan seiring dengan perlindungan perempuan dan anak.* Fahira Idris menegaskan bahwa kesempatan untuk berkembang akan sulit diwujudkan apabila perempuan dan anak masih menghadapi kekerasan, perundungan, eksploitasi, diskriminasi, maupun rasa tidak aman.

Perlindungan perlu dibangun mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, komunitas, hingga ruang digital. Selain penguatan layanan dan mekanisme penanganan, diperlukan budaya yang berani mendengar korban, tidak menyalahkan korban, dan tidak membiarkan kekerasan maupun ketidakadilan berlangsung.

“Kita belum bisa mengatakan perempuan benar-benar berdaya jika masih ada yang takut berbicara ketika mengalami kekerasan. Kita juga belum bisa berbicara tentang masa depan bangsa jika masih ada anak yang kehilangan rasa aman. Perlindungan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pemberdayaan,” tegas Fahira Idris.

*Ketiga, kesetaraan harus menghadirkan kesempatan yang adil bagi setiap orang.* Fahira Idris menilai kesetaraan bukan berarti mengharuskan semua orang menjadi sama, melainkan memastikan setiap individu memperoleh penghormatan, perlindungan, akses, dan kesempatan yang adil sesuai kebutuhannya.

Karena itu, menurutnya, isu perempuan dan anak tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan perempuan semata. Pemberdayaan dan kesetaraan merupakan tanggung jawab bersama, termasuk generasi muda, baik perempuan maupun laki-laki.

“Kesetaraan bukan tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Kesetaraan adalah tentang memastikan setiap orang dihormati, terlindungi, dan memperoleh kesempatan untuk tumbuh. Kita tidak sedang membangun dunia yang hanya lebih baik bagi perempuan, tetapi masyarakat yang lebih manusiawi bagi semua,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fahira Idris juga menyampaikan apresiasi kepada CreSHome yang memasuki perjalanan lima tahun sebagai wadah pembelajaran, kreativitas, pengembangan kepemimpinan, dan kepedulian sosial bagi pelajar serta mahasiswa.

Ia mengapresiasi berbagai program CreSHome, mulai dari Sekolah Politik, Sekolah Legislatif, Sekolah Parlemen, Parliament Tour, Sekolah Hukum, hingga kegiatan sosial dan pengembangan kreativitas anak muda.

Menurutnya, pendekatan CreSHome yang mengajak anak muda mengenal secara langsung lembaga-lembaga negara, berdialog, dan memahami proses demokrasi merupakan kontribusi penting dalam membangun generasi yang kritis, berwawasan, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Fahira Idris berharap CreSHome terus menjadi ruang bagi lahirnya anak-anak muda yang berani menyampaikan gagasan, menghargai perbedaan, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitarnya.

"Saya percaya perempuan yang berdaya akan menguatkan keluarga, anak yang terlindungi akan menguatkan masa depan, dan kesempatan yang adil akan menguatkan Indonesia,” pungkas Fahira Idris.

Komentar

Berita Terkait