Hasil Simulasi Sainte Lague : Golkar Tambah 4 Kursi, PAN Hilang 4

0

telusur.co.id | Semarang | Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mengatakan Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD 2019 tidak lagi menggunakan bilangan pembagi pemilih (BPP) seperti pada Pemilu 2014.

Bagi partai politik peserta pemilu yang memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 4 persen dari total suara sah secara nasional, baru menerapkan metode konversi suara “sainte lague”, kata Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini, Ahad (23/7) pagi di Semarang.

Diungkap Titi, meski sistem penghitungan konversi suara hasil pemilu mendatang dinilai lebih adil dan demokratis, namun data simulasi menggunakan metode divisor dengan teknik penghitungan “sainte lague” murni menunjukkan, sejumlah partai besar memang bertambah kursinya.

“PDI Perjuangan, misalnya, yang pada Pemilu 2014 meraih 109 kursi DPR dengan 23.673.018 suara (18,95%) akan bertambah menjadi 110 kursi bila menerapkan metode tersebut,” ujarnya.

Begitu pula, Partai Golkar juga bertambah menjadi 95 kursi dari 91 kursi dengan 18.424.715 suara (14,75%). Sementara Partai Demokrat yang semula 61 kursi dengan 12.724.509 suara (10,18%), menjadi 62 kursi

PPP 39 kursi yang meraih 8.152.957 suara (6,52%) bertambah menjadi 40 kursi; Partai Hanura dari 16 kursi dengan total 6.575.391 suara (5,26%) pun bertambah menjadi 17 kursi.

Sebaliknya, Partai Gerindra yang meraih 14.750.043 suara atau 11,81% suara sah nasional, justru jumlah kursinya berkurang dua, yakni dari 73 menjadi 71 kursi DPR RI. Demikian halnya dengan PKB yang memiliki 47 kursi dengan 11.292.151 suara (9,04%) menjadi 46 kursi.

Begitu juga PAN yang memiliki 49 kursi dengan 9.459.415 suara (7,57%) menjadi 45 kursi. Sementara PKS yang meraih 40 kursi dengan 8.455.614 suara (6,77%) menjadi 38 kursi.

“Hanya Partai NasDem yang pada Pemilu 2014 meraih 8.412.949 suara (6,73 persen) tidak bertambah maupun berkurang, atau tetap 36 kursi DPR bila menggunakan teknik penghitungan ‘sainte lague’ murni,” katanya.

Ia menambahkan bahwa “sainte lague” murni ini lebih menjamin kesetaraan antara persentase perolehan suara dan persentase perolehan kursi. Dengan demikian, lebih ada kesetaraan atau proporsionalitas bagi parpol.

“Jadi, bukan soal menguntungkan partai besar atau merugikan partai kecil. Akan tetapi, kami menghitung menggunakan rumus agar sesuai dengan asas pemilu yang kita anut, yakni adil dan demokratis,” kata Titi. | red-03/Ant |

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini