telusur.co.id | Jakarta | Heboh, ribuan orang membagikan kembali (share) status akun facebook Iramawati Oemar, Sabtu (29/7) yang menyajikan tulisan menohok bertajuk Sri Mulyani, Sudahlah, Berterus Terang Sajalah! (Dari Soal Hutang Negara, Dana Haji, Hingga Gaji PNS).

Tulisan panjang Iramawati Oemar  yang mengkritik langsung Menteri Keuangan Sri Mulyani itu, tak hanya dikomentari dan dibagikan kembali ribuan orang di jejaring sosial facebook, tapi juga melalui aplikasi pesan whatsapp yang kini digandrungi jutaan orang di Indonesia.

“Kali ini, Mbak Sri jadi buah bibir. Gegara beliau tidak mampu menjawab KEMANA LARINYA HUTANG NEGARA.
Ini pertanyaan yang MEWAKILI RASA INGIN TAHU RAKYAT BANYAK,” ujar Iramawati Oemar.

Iramawati juga mempertanyakan “duitnya dikemanain?! Bahkan menurutnya, beberapa tulisan panjang lebar dari mereka yang punya kompetensi untuk menganalisis, yang memaki Sri Mulyani, juga muncul karena jawaban Menteri Keuangan yang tampak seakan “bodoh”.

“Ada pula yang mengatakan bahwa SMI seakan mengulang isyarat bahwa dia tak tahu apa-apa dalam soal pemakaian hutang,” ujarnya.

Artinya, menurut tulisan Iramawati ada pihak lain yang lebih berkuasa yang tahu, bukan Sri Mulyani yang hanya Menteri Keuangan.

“Saya cenderung sependapat dengan yang terakhir. Sebab saya yakin seorang secerdas SMI tidak mungkin mendadak bodoh, apalagi di depan forum DPR,” tegasnya seraya mengatakan dulu waktu dicecar DPR soal Century, Sri Mulyani tampak tegar bahkan berani.

Bahkan Iramawati menyebut dalam kasus bail out bank Century, SMI berani berkata dia bertanggung jawab atas pengucuran dana yang sejumlah sekian ratus milyar, namun menolak untuk bertanggungjawab atas jumlah yang sekian trilyun selebihnya.

Artinya menurut Iramawati, Sri Mulyani memiliki integritas berani bertanggungjawab atas apa yang dia tahu betul hitung-hitungannya dan bisa dipertanggungjawabkan secara logis dan akademis.

Tapi kali ini, ternyata menteri cantik yang cerdas itu tak bisa jawab. Alasannya, karena duit hutang masuk ke kas negara, bercampur dengan penerimaan pajak dan lain-lain.

“Oooh…, NO!!! Itu sama sekali bukan sebuah jawaban yang saya harapkan keluar dari seorang secerdas Sri Mulyani Indrawati,” sesalnya.

Belum habis kegaduhan karena Sri Mulyani tak tahu kemana larinya hutang, disaat hampir bersamaan ada instruksi presiden agar dana haji diinvestasikan saja untuk infrastruktur. Besarannya tak tanggung-tanggung, 80% alias 4/5 bagian!

BACA JUGA :  Jokowi: Pengkritik Sri Mulyani Tak Ngerti Ekonomi Makro

Padahal, uang itu adalah dana ummat Islam yang terkumpul dari setoran minimum ONH para calon jamaah haji yang telah mendapat porsi haji namun masih harus berada di daftar tunggu sekian tahun ke depan. “Sama sekali tak ada hak pemerintah disana, itu uang amanah ummat sebagai bentuk kesungguhan mereka siap berangkat haji, sehingga dananya sudah disetor lebih dulu,” ujar Iramawati.

Dikatakan penulis produktif media sosial ini, bagi publik instruksi presiden ini bermakna, bahwa pemerintah sedang sangat butuh dana segar tambahan. Menurutnya, ini makin mengherankan, sebab setiap kali berhutang rakyat disuguhi retorika untuk membangun infrastruktur.

“Lalu infrastruktur yang mana dan dimana yang sudah dibangun dengan dana hutang segitu banyak?,” tanya Iramawati. Sebab, menurutnya infrastruktur yang banyak diresmikan Jokowi adalah proyek-proyek lama yang sudah dimulai pembangunannya sejak jaman pemerintahan SBY.

“Di era Jokowi tinggal melanjutkan saja, bahkan tinggal proses finishing. Jadi infrastruktur mana yang benar-benar sudah didanani dengan hutang?,” ungkapnya.

Lebih mengherankan, kata dia, kok sekarang malah mau mengincar bagian terbesar dana haji, alasannya juga buat bangun infrastruktur. “Jadi sebenarnya kemana larinya hutang luar negeri sebanyak itu?,” ujarnya kembali mempertanyakan.

Seakan tak berkesudahan, kembali Sri Mulyani membuat pernyataan yang bikin gaduh di masyarakat, “Pilih berhutang atau gaji PNS dipotong?” ujar Menteri Keuangan itu.

Penyataan ini menurut Iramawati, seolah rakyat, seperti sedang berhadapan dengan perampok (maaf) yang sedang menodongkan sajam sambil memberi pilihan “Pilih (serahkan) harta atau nyawa (melayang)?!”, dua pilihan yang sama-sama tidak enak dan tidak bisa dipilih.

Kalau orang sedang menghadapi perampok, dia akan pilih serahkan seluruh harta benda yang ada asalkan nyawanya bisa selamat. “Apakah nasib kami rakyat Indonesia saat ini seperti itu?! Tak ada pilihan lain yang sedikiiiit saja agak enak?!,” ujarnya.

Iramawati juga menegaskan, kita sudah memilih presiden melalui pilpres yang berbiaya trilyunan rupiah. Saat kampanye dulu, pasangan Jokowi-JK berjanji tidak akan menambah hutang, berjanji akan mensejahterakan rakyatnya, bukan memalaknya.

BACA JUGA :  Soal Dana Haji, Indonesia Kalah Jauh Sama Malaysia

Apa salah PNS sampai mereka harus dipotong gaji?!
Tidak semua PNS/ASN bergaji tinggi. Mereka mendapatkan gaji karena bekerja. Optimalkan saja kinerja mereka, itu tugas Mentri PAN & RB. Kalau ada yang indisipliner atau kinerjanya rendah, segera beri sanksi, bila perlu diberhentikan.

“Karena pernyataan itu keluar dari mulut seorang Menteri Keuangan, ini jelas mengisyaratkan satu hal : PEMERINTAH TIDAK ADA UANG! sehingga jika tak berhutang, maka gaji PNS tak bisa dibayar penuh. Ini serupa tapi tak sama dengan niat memakai dana haji tadi” jelas Iramawati.

Iramawati menengarai semuanya mengerucut pada satu kesimpulan : UANG HASIL HUTANG SUDAH HABIS, BERHUTANG LAGI SUDAH TIDAK BISA, maka dana haji akan dimanfaatkan secara paksa (pakai instruksi presiden, tanpa meminta kesediaan pemilik dana), dan pilihan pahit berikutnya adalah memangkas gaji PNS jika hutang sudah tak bisa lagi jadi pilihan.

“Sudahlah Bu Sri, kami rakyat juga tidak bodoh-bodoh amat. Kami cukup bisa berpikir dan menganalisa kalimat demi kalimat getir yang keluar dari mulut anda,” tegasnya kembali.

Sri Mulyani dengan segala integritasnya diminta Iramawati menjelaskan kepada rakyat, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada keuangan negeri ini.

“Biar kami bisa bersiap-siap untuk kondisi paling tidak menyenangkan ke depan. Hutang negara akan jatuh tempo bulan Oktober tahun ini, bukan begitu, bu Sri?,” tegasnya.

Masih adakah cadangan uang negara untuk membayarnya?! Kalau jawabnya, “TIDAK ADA” apa konsekwensinya bagi negara dan bangsa Indonesia?!

Iramawati juga mengaku tak percaya, mendadak dana haji akan dialihkan untuk infrastruktur. Sebab, menurutnya kemungkinan besar untuk bayar hutang jatuh tempo yang sudah di depan mata! 2-3 bulan lagi itu tidak lama.

Jika uangnya sekarang tidak ada, tentu Pemerintah sudah panik dari sekarang. Kami melihat pernyataan-pernyataan Ibu Sri Mlyani akhir-akhir ini adalah cermin dari kepanikan itu. Ketika negara sudah tak ada uang, pilihan tersulitlah yang disodorkan pada rakyat,” ujarnya. | red-03 |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini