Mushtar Efendi Harahap/telusur.co.id

telusur.co.id | Jakarta | Pemutaran film G 30 S/PKI merupakan sarana sosialisasi nilai-nilai politik, dalam hal ini prilaku negatif PKI terhadap kelompok perwira militer dan prilaku penghianatan PKI terhadap negara.

Peneliti senior dari Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap menilai, Sarana sosialisasi tersebut telah digelar semenjak era Orde Baru (Orba) hingga era reformasi.

Namun, Kali ini pengadaan sarana sosialisasi politik ini mendapat resisten terbuka dari sejumlah warga yang cenderung punya kerangka berpikir dan ideologi sayap kiri.

Bahkan, dikatakan Muchtar, di era pemerintahan Jokowi kaum kiri ini jauh lebih berani menunjukan diri dalam bentuk pernyataan dan juga seminar. Rumor pelarangan oleh Kapolri terkait pemutaran film G 30 S/PKI tidak faktual. Sebab, hal Itu hanya ada dalam perdebatan di Media Sosial (medsos).

BACA JUGA :  Catatan 72 Tahun Indonesia Merdeka, Muchtar Effendi : Belum Masuk Kedalam Kehidupan Rakyat..!

“Di lapangan tidak ada Polri melarang nobar dimaksud. Namanya juga rumor, tentu digelembungkan untuk memenangkan pertarungan opini publik,” ucapnya kepada wartawan telusur.co.id di Jakarta, Sabtu (23/9).

Ia menduga, rumor itu hanya ditujukan untuk menekan kelompok anti Komunis PKI. Dimana, sangat tidak mungkin Polri berbeda sikap dengan TNI tentang PKI atau Komunisme.| red-06 |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini