telusur.co.id | Jakarta | Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, menilai tindakan kekerasan terhadap anak masih terjadi.

Ia melihat banyaknya kekerasan yang terjadi dikalangan dunia pendidikan, karena lemahnya sistem pengawasan sekolah.

“Data kekerasan di sekolah dari berbagai sumber menunjukkan bahwa kekerasan di pendidikan semakin memprihatinkan,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (23/11).

Menurut Retno, dari data yang diperoleh KPAI, menunjukan 84 persen siswa pernah mengalami kekerasan atau bullying di sekolah.

Penjabarannya, 7 dari 10 siswa atau 45 persen siswa laki-laki menyebut bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan.

BACA JUGA :  Guru Tonton Film Porno, KPAI: Contoh Buruk Bagi Siswa

Sedangkan, 40 persen siswa yang berusia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh temannya.

“Sebayak, 75 persen siswa mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah, 22 persen siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, dan 50 persen anak melaporkan mengalami perundungan (bullying) di sekolah,” katanya.

Maka dari itu, dikatakan Retno, KPAI berencana melakukan advokasi terkait dorongan revisi Instruksi Gubernur (INGUB) nomor 16 Tahun 2015, tentang pencegahan kekerasan di Sekolah.

KPAI menyadari bahwa pengaturan yang holistik dan taat nilai serta prinsip HAM pastilah akan melahirkan kebijakan yang sejalan dengan sekolah ramah anak dan juga ramah hak asasi manusia.

BACA JUGA :  KPAI Gandeng KOMINFO cari Lokasi Sekolah Guru Lihat Video Porno di Kelas

“Sebab anak sejak dini harus dibukakan pemahamannya bahwa ia harus menghargai sesama manusia dan hal tersebut harus dimulai pula oleh pemerintah dari kebijakannya yang memanusiakan manusia,” tambahnya.|red-06 |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini