telusur.co.id | Jakarta | Ratusan nelayan dari berbagai daerah menggelar sidang Istimewa membahas Cantrang (alat tangkap ikan), di Gedung Parlemen, Senayan.

Salah seorang Perwakilan nelayan dari Lamongan, Agus mengaku tidak terima apabila cantrang, yang sedari dahulu ia gunakan, dilarang oleh pemerintah karena dianggap akan merusak lingkungan.

“Kami tidak menerima kalau nelayan dibilang tidak ramah lingkungan. Tidak ada bukti cantrang itu tidak ramah lingkungan,” tegasnya di gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (29/11).

Menurutnya, Cantrang merupakan alat penangkap ikan tradisional yang telah ada sejak zaman nenek moyang sehingga pantas dibilang sebagai budaya.

“Itu budaya kita yang digunakan sejak lama. Itu budaya kita kenapa harus dihanguskan. Kita setuju pelestarian lingkungan,  kenapa kita di kambinghitam kan. Saya jamin cantrang aman untuk lingkungan.”tegasnya.

Apabila Cantrang tidak dilegalkan, maka dirinya akan menolak kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ke daerah para nelayan.

“Kita ini memang bodoh tapi jangan dibodohi. Kami sudah mendesak (pemerintah) siapa lagi kalau bukan MPR atau DPR,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Kapal Perikanan baru memberikan bantuan sekitar 4.126 paket alat penangkapan ikan (API) untuk kapal di bawah 10 gross tonnage (GT), hingga 10 November 2017.

Program penggantian alat tangkap ini bagian dari transformasi untuk mengubah kebiasaan nelayan yang menangkap ikan dengan alat tidak ramah lingkungan, seperti cantrang, menjadi ramah lingkungan, seperti gillnet.| red-08 |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini