telusur.co.id | Jakarta | Anjloknya elektabilitas seiring dengan kisruh di tubuh partainya, Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan perlu memilih kader cerdas bukan mencari pemimpin baru Golkar. Pasalnya, menurut Bupati Purwakarta ini, stok kader-kader cerdas di Golkar banyak dan menunggu antrian untuk dipilih.

“Saya tidak setuju ini dengan judul mencari pemimpin baru, karena di Golkar ini banyak pemimpin cerdas, ngantre. Jadi bukan mencari tapi memilih,” tegas Dedi, Rabu (22/11) saat diskusi bertema Partai Golkar Mencari Pemimpin Baru di PPK Kosgoro, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Diskusi yang digelar di Sekretariat PPK Kosgoro 1957, Jln Hang Lekiu, Kebayoran Baru, Jaksel, itu menghadirkan pembicara Ketua DPD I Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi, Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Tengah Wisnu Suhardono, Ketua GMPG Ahmad Doli Kurnia, Ketua Dewan Pakar Golkar Agung Laksono, dan pengamat politik Ray Rangkuti.

BACA JUGA :  Dapat Restu Airlangga, Golkar Persilakan Dedi Pilih Cawagubnya

Soal terus menurunnya elektabilitas seiring dinamika yang terus memanas di tubuh partainya, Bupati Purwakarta itu menilai Golkar perlu segera berinovasi dengan kreatif untuk menjadi partai yang modern.

Karena itu Dedi juga menyatakan keheranannya, mengapa seolah-olah kader-kader Golkar tidak bisa berkreasi dan tidak diberi petunjuk, padahal menurutnya Golkar penuh dengan orang-orang cerdas.

Dedi menegaskan bahwa suara Partai Golkar saat ini telah tumbang akibat adanya kisruh gonjang-ganjing para elit partai di Jakarta, dengan mencontohkan penurunan yang terjadi di Provinsi Jawa Timur dan di Jawa Barat.

“Ada 2 Pohon Beringin yang tumbang saat ini, di Jawa Timur dan Jawa Barat. Di Jabar ini saya pimpin naik 14 persen, sekarang ini turun 6 persen, karena ada gonjang ganjing di Jakarta,” kata Dedi.

BACA JUGA :  Kader Golkar Kritik Airlangga, Tagline Golkar Bersih Hanya Lif Service

Ditegaskan Dedi, sesungguhnya Partai Golkar merupakan partai masa depan yang modern. Karenanya sangat disayangkan bila partainya hanya dikuasai satu orang saja.

“Cuma ada satu orang kader Golkar yang takut hilang kekuasaan,” sindirnya.

Dedi pun meminta kepada lembaga survei untuk mempublikasi profil seluruh kader Golkar, agar publik bebas mencari pemimpin yang mereka inginkan.

“Kita hubungi lembaga survei, researchnya seperti apa. Resep itu harus disiapkan oleh dokter bukan oleh kita, kalau kita yang pilih mah ‘manis-manis’ jadi mencari pemimpin itu mudah, kita ngapain urusin elite, kita urusin publik apa yang dia mau kita ikuti,” ujar Dedi | red-03 |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini