Peminat Sejarah Lukman Hakiem/telusur.co.id

Oleh M. Natsir {Soeara Moeslimin Indonesia No. 11 Tahun 3, 19 Jumadil Akhir 1364/1 Juni 2605 (1945)}

IKHLASKANLAH mati untuk agama, nusa, dan bangsa! Begitu bunyi salah satu dari 33 pasal yang telah dianjurkan oleh Sidang Cuoo Sangi In (semacam Dewan Perwakilan Rakyat di masa pendudukan Jepang) yang ke-7, supaya menjadi tuntunan perjuangan dan filsafat hidup kita semua dalam membentuk masyarakat baru, mencapai Negara Indonesia Merdeka. Ikhlas! Apakah gerangan yang dinamakan ikhlas itu?

Ikhlas adalah kedudukan niatnya seseorang yang mengamalkan sesuatu. Ikhlas adalah keadaan jiwanya seseorang dalam berbuat dan bertindak. Ikhlas adalah sumber kekuatan batin yang mendorong seseorang menciptakan sesuatu.

Sifat dan harkat sesuatu amal bergantung kepada sifat dan harkat dorongan batin yang menggerakkan anggota lahir. Corak amal perbuatan adalah coraknya niat yang menjadi dasarnya.

Kewajiban Selesai atau Hancur-Binasa

Perhubungan rapat antara amal dan niat yang semacam ini seringkali tidak lekas kelihatan oleh kita,  yang senantiasa bisa terpengaruh oleh gerak-gerik yang lahir, yang menurut istilah sekarang dinamakan dengan perkataan “bukti dan nyata” itu.

Mahaguru dan filosof Imam Ghazali telah berkata: “Umumnya manusia itu mati,  kecuali yang mempunyai ilmu. Umumnya yang berilmu itu mabuk,  kecuali yang membuktikan ilmu itu dalam amal perbuatan. Umumnya yang beramal itu tertipu oleh amalnya sendiri,  kecuali orang yang ikhlas.”

Hanya orang yang mempunyai ilmulah yang bukan ibarat mayat berjalan, atau kuburan jiwa mati. Hanya orang yang beramal-berbuat dan memperjuangkan ilmu untuk cita-citalah yang tidak berpenyakit mabuk ilmu.

Hanya orang yang ikhlaslah yang tidak tertipu oleh amalnya sendiri, yang tak tertipu oleh puja-puji makhluk. Hanya orang yang ikhlaslah yang dapat menahan gelombang masyarakat hidup yang senantiasa membantingkannya antara sanjung dan maki. Hanya orang yang ikhlaslah yang dapat menahan umbuk dan umbai lawan dan kawan dengan berupa bayangan kemewahan dan kebahagiaan sementara,  untuk membelokkannya dari tujuan yang asal.

Oleh karena itu pada saat menghadapi perjuangan yang hebat-dahsyat,  tidak heran hanya orang yang ikhlaslah yang sanggup menentangnya sampai ke akhir perjuangan. Yang tidak ikhlas dan pura-pura ikhlas, akan jatuh-gugur di tengah jalan. Gugur dengan sendirinya.

Ini satu undang-undang dunia, satu sunnatullah yang terbukti dalam riwayat manapun juga. Tatkala seorang pemimpin umat yang sedang menghadapi perjuangan mahadahsyat, perjuangan untuk mengangkat umatnya, berhadapan dengan kekuatan yang berlipatganda besarnya, tatkala itu datanglah pihak lawan menawarkan kekayaan, kedudukan, pengaruh, dan apa saja yang dikehendakinya, asal mau menghentikan perjuangannya.

Akan tetapi, pemimpin umat tersebut dengan mata yang menyala-nyala dan berlinang-linang menahan kemarahan, berkata: “Walaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan mempersembahkan bulan pada tangan kiriku,  agar aku menghentikan perjuangan ini, demi Allah, aku tidak akan menghentikannya sampai kewajibanku selesai atau aku binasa!” Kewajiban selesai atau hancur binasa!

BACA JUGA :  Bung Karno Dan Bung Hatta Lebih Samurai Dari Samurai

Apabila Agama dan Tanah Air Kita Terancam

Itulah pedoman hidup orang yang ikhlas. Tidak ada satupun yang mungkin memalingkan tujuan niatnya. Kesenangan, tidak. Janji-janji kebahagiaan diri, tidak. Apa juapun, tidak!

Itu baru kesenangan. Itu baru kepangkatan. Itu baru pengaruh dan nama yang harum. Jangankan itu,  andaikata dunia ini seluruhnya, bahkan matahari dan bulan bulat-bulat, itu semua dipandangnya kecil dan remeh. Bukan itu yang menghalalkan darah dan nyawa yang dipertaruhkannya dalam perjuangan.

Tak ada di atas dunia, tak ada dalam cakrawala ini yang dapat mengganti tujuan jihasnya. Yang mahaakbar, yang mahabesar baginya hanya ini: “Ilaai kalimatillah dengan keridhaan Allah!”

Inilah yang dinamakan ikhlas. Dan inilah sumber kekuatan yang abadi. Serta inilah resianya (rahasianya) tiap-tiap perjuangan!

Jika kita perlu kepada kekuatan batin yang sungguh-sungguh, inilah dia satu-satunya yang dapat menjamin kemenangan dunia dan kemenangan sesudahnya dunia ini. Kemenangan sebelum dan sesudahnya menemui mati!

Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kita dalam surat al-‘Ankabut sebagai berikut: “Barangsiapa yang mengharapkan perlindungan selain daripada Allah,  adalah ibaratnya seekor laba-laba memperlindungi dirinya dengan sarangnya sendiri (yakni yang diperbuat dari air liurnya sendiri). Sesungguhnya yang selemah-lemah tempat berlindung adalah sarang laba-laba itu.”

Peringatan ini patut menjadi buah permenungan kita dalam kesibukan kita melakukan perjuangan yang kita hadapi sekarang dab mencari-cari sumber kekuatan.

Agama kita, adalah agama yang suka kepada aman dan damai. Bukan agama yang mencari-cari permusuhan. Tetapi apabila agama kita terancam oleh musuh,  apabila tanah air kita hendak dirampas, apabila rumah tangga dan hak kita hendak disiar-bakar, maka di sana seseorang hamba Allah setapakpun berpantang mundur. Di sana halal jiwa dan raga kita. Di sana, tidak berhak membungkus-bungkus jiwa, lebih mementingkan hidup panjang, rezeki murah daripada berjuang, berkelahi, berperang mempertahankan hak dan kewajiban. Berperang membunuh musuh atau terbunuh oleh musuh. Musuh Allah dan musuh kita. Berjuang dan berperang, sampai kapan? Sampai kewajiban selesai atau hancur-binasa.

Agama dan Negara Hanya Subur dengan Darah Pahlawan Syahid

Hakikat jihad kita,  menjunjung kalimah Allah. Tujuan jihad kita, keridhaan Allah. Bagi orang yang ikhlas, mati yang berdasarkan dan bertujuan inilah tugas dan kewajibannya, cita-cita kehidupannya diatas dunia ini.  Lain,  tidak! Tidak ada yang lebih lezat daripada mati terbunuh mempertahankan hak,  keadilan, dan kebenaran pada jalan Allah.

Dengarlah teriakan jiwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjuangan! Beliau bersumpah: “Demi Allah yang jiwa dan diriku terletak dalam kekuasaan-Nya, tak ada yang paling aku ingini selain daripada mati terbunuh dan berjihad menegakkan kalimah Allah. Kemudian aku dibangkitkan kembali untuk berjihad, lalu terbunuh dalam jihad itu,  kemudian aku dibangkitkan kembali,  lalu terbunuh lagi dalam jihad dan perjuangan.”

BACA JUGA :  Harjono Dari Cibulan ke New York (2)

Beginilah kiranya sinar jiwa seseorang yang mendasarkan perjuangannya kepada keikhlasan itu. Tak mungkin kita menegakkan agama, bila tidak dengan perjuangan. Tak mungkin kita menegakkan negara bila tidak dengan perjuangan. Agama dan negara hanya bisa subur dengan siraman darah perjuangan pahlawan syahid.

Tak ada ragu-ragunya bagi seorang yang ikhlas untuk mempertaruhkan segala-galanya dalam menghadapi apapun juga yang ditakdirkan Allah baginya.

Seorang yang ikhlas menerima semua penderitaan sebagai akibat perjuangannya, sebagai karunia Ilahi yang harus diterimanya dengan rela dan ikhlas. Dalam hal ini,  soal mari atau hidup, apakah dia akan melihat hasil perjuangannya atau tidak, tidak menjadi soalnya.

Yang menjadi soalnya setiap hendak bertindak, baik besar maupun kecil: “Apakah aku ini berlaku pada jalan Allah dan mengharap keridhaan Allah, ataukah aku ini hanya tertipu oleh amal perbuatanku sendiri?”

Mati Itu Hanyalah Pintu

Bila hakikat dan sifat perjuangan kita sudah begitu,  bila tujuan hasrat kita sudah demikian, janganlah kita gentar menghadapi gelombang dan angin bagaimanapun, yang selalu berkisar tujuannya. Jangan ragu-ragu bahwa sesungguhnya Allah itu selalu berada di pihak kita.

Ketahuilah! Mati itu hanya satu pintu.  Pintu yang semua kita pada satu ketika harus masuk ke dalamnya. Mau atau tidak.  Esok atau lusa.

Pilihlah di antara pintu-pintu yang banyak, gerbang masuknya kaum mujahidin kekasih-kekasih Tuhan. Bukan pintunya kaum tertipu dan ria-takabbur.

Mati itu hanya satu kali. Jagalah supaya mati kita yang satu kali itu,  mati yang mulia. Mulia di sisi Allah, dan terhormat di sisi dunia. Jangan sampai menjadi mati sebagai pengecut dan budak sahaya hawa nafsu sendiri.

Jagalah mati kita itu baik-baik sebagai satu-satunya kesempatan yang dikaruniakan Tuhan. Satu kali mati terhina atau tersesat, tak dapat diperbaiki lagi.

Marilah kita tempatkan mati kita yang satu-satunya itu pada tempat yang termulia. Entah di hutan belukar atau pantai laut,  akan tetapi pada jalan yang diridhai Allah untuk menegakkan agama, bangsa, dan tanah air.

Marilah kita berjuang dengan tujuan ini,  mengatasi semua yang dapat dipikirkan oleh nafsu dan akal manusia dengan semboyan: “Berjuang terus sampai kewajiban selesai atau hancur-binasa dalam menunaikan tugas-kewajiban sebagai hamba Allah yang ikhlas.”

Penulis : Penggiat Lukman Hakiem

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini