Telusur.co.id |JAKARTA | Asisten Deputi Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia pada Kedeputian bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK, Ade Rusman, mengungkapkan, keberpihakan terhadap penyandang disabilitas masih menghadapi banyak tantangan.
“Isu disabilitas adalah multi-sektor. Meski tidak disebut dalam program prioritas, penanganannya melibatkan banyak kementerian/lembaga,” ungkap Ade, melalui keterangan tertulisnya, Kamis (9/11/2017).
Belum adanya pemetaan yang jelas tentang jumlah penyandang disabilitas di daerah juga disebutnya sebagai tantangan. Kondisi ini akan mempengaruhi cara penanganan yang melibatkan banyak K/L.
“Termasuk untuk menyesuaikan anggaran dengan kebutuhan, karena bamyak yang terlibat,” ujarnya lagi.
Belum adanya kaidah formal dalam perencanaan dan penganggaran inklusif membuat percepatan penanganan penyandang disabilitas terkesan jalan di tempat. “Usulan dari Musrenbang juga seringkali tidak sampai ke level atas, sehingga ada hambatan informasi,” tambahnya.
Ade mengingatkan, dukungan keberpihakan bagi penyandang disabilitas, harus dilakukan dengan berlandaskan pada 7 prinsip desain universal antara lain, dapat digunakan semua orang; menekankan pada kesederhanaan dan keamanan sehingga dengan mudah dapat digunakan oleh setiap orang, terutama mereka yang memiliki keterbatasan
Selain itu harus fleksibel dalam penggunaan, mampu mengakomodasi pilihan dan kemampuan hampir semua orang.
Ade menyontohkan toilet yang dirancang juga harus dapat diakses semua orang, ramah disabilitas atau tidak, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, menggunakan tangan kanan atau kiri.
“Unsur kemudahan dan intuitif dan mengedepankan kepraktisan penggunaan, tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat memanfaatkan fasilitas. Misalnya kartu dengan huruf braille atau disertai suara panduan dan visual untuk membuka pintu hotel, mengakses transportasi umum, peron, dan lainnya,” ungkap Ade.
Selain itu, informasi harus jelas. Informasi yang diberikan efektif untuk semua orang tanpa melihat kondisi. Harus terdapat petunjuk sederhana yang sistematis agar dapat diakses oleh mereka yang tidak dapat mendengar atau melihat.
Toleransi terhadap kesalahan. Desain dibuat dengan toleransi tinggi sehingga mampu mengatasi kesalahan tanpa mencelakakan pengguna.
Minim usaha fisik, bersifat otomatis, sehingga para pengguna tidak perlu melakukan kegiatan fisik maksimal yang membuat lelah untuk memanfaatkan fasilitas itu.
“Ukuran dan ruang harus sesuai, sehingga mudah diraih dan digunakan oleh siapapun, baik ketika duduk atau berdiri, orang yang pendek maupun tinggi,” pungkasnya. | Red-05 |

BACA JUGA :  Kemenko PMK Percepat RPP Penyandang Disabilitas

 

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini