telusur.co.id | Jakarta | Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK, Agus Sartono menilai tindakan perundungan (bullying) tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun dan atas nama apapun.

Untuk itu dia mengajak semua pihak menghentikan perundungan dan mengakhiri kekerasan.

“Ini repotnya kan, kalau pelakunya anak-anak, lalu tidak bisa dipidanakan. Jadi dilematis ya. Tetapi bukan berarti anak-anak boleh melanggar aturan,” ujar Agus melalui pesan singkatnya, Selasa (7/11), di Jakarta, menanggapi aksi kekerasan yang viral di dunia maya, yang ternyata dilakukan oleh seorang siswa korban bullying.

Sebelumnya, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad menjelaskan kejadian video viral tersebut, pelakunya bukan guru tapi antar siswa. Siswa tersebut posturnya seperti orang dewasa, karena gemuk. Karena postur tubuhnya itu, dia sering dibully oleh teman-temannya.

“Bukan kasus penganiayaan seorang guru terhadap siswa, melainkan pertengkaran antarsiswa akibat sering dibully,” ujarnya.

Agus mengaku belum memperoleh informasi dari Kemdikbud ihwal kejadian sebenarnya. Namun dia mengingatkan, perundungan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun dan perlu diberi sanksi.

Kendati pelakunya seorang siswa, tetap harus diberi sanksi. Siswa tidak boleh begitu. Orangtua, menurut Agus, harus diminta memberi sanksi.

“Di sinilah saya kira peran orangtua untuk mendidik anaknya. Sekarang kenaikan kelas kan, mempertimbangkan budi pekerti. Maka kalau misalnya melakukan pemukulan brutal seperti itu, selain harus di cek kejiwaannya juga perlu pendampingan khusus,” kata Agus.

Sanksi lain bagi siswa yang mengumbar aksi kekerasan adalah pertimbangan untuk tidak naik kelas.

“Kita perlu sadari bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter. Jadi justru tidak baik dan berbahaya jika kecerdasan tinggi tetapi tidak berkarakter,” paparnya.

“Semua harus terlibat dan bertanggung jawab, karena pendidikan itu ada formal, non formal dan informal. Jadi sekali lagi orang tua harus menjadi ‘guru’ utama bagi anak-anaknya,” ujarnya.

Terkait bullying antara senior dan junior, Agus tegas mengatakan, “Atas nama apapun dan alasan apapun tidak boleh!”
Oleh sebab itu Kemdikbud, Kemenristekdikti dan Kemenag kan sudah mengubah cara orientasi sekolah. Tidak lagi diserahkan kepada siswa senior tetapi ditangani guru/dosen.

Agus mengingatkan kasus kematian Taruna Akpol di Semarang akibat perundungan dan pelakunya telah diproses secara hukum.

“Saya kira langkah-langkah tegas seperti itulah yg bisa menghentikan tindak kekerasan,” pungkasnya. | Red-05 |

 

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini