telusur.co.id | Jakarta | Ketua komisi IX DPR RI, Dede Macan Yusuf menegaskan, komisinya akan segera memanggil pihak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Hal itu, untuk meminta klarifikasi pihak BPJS terkait pembagian biaya kesehatan pasien (cost sharing).

“Harus di dudukkan dengan DPR dulu Karena ini menyangkut amanah Undang-Undang,” ujarnya di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Senin (27/11).

Dikatakan politisi Partai demokrat, Seharusnya, cost sharing bisa dilakukan jika seorang pasien mengalami penyakit langka yang menghabiskan biaya besar.

Namun, jika penyakit masyarakat seperti jantung, stroke dan kanker, gagal ginjal dinilai sudah masuk kategori resiko umum.

“Bahkan orang desa pun sekarang berpotensi penyakit demikian. Jadi apa bedanya jaminan sosial dengan asuransi lain jika manfaat dikurangi,” jelasnya.

BACA JUGA :  Dewan Minta Masyarakat Tak Terprovokasi Aksi Orang Sakit Jiwa

Sebelumnya, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus mencari jalan untuk mengatasi defisit keuangannya. Salah satu caranya, dengan melibatkan peserta BPJS mendanai biaya perawatan (cost sharing) untuk penyakit yang butuh perawatan medis lama dan berbiaya tinggi (katastropik)

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris mengatakan, pembiayaan perawatan penyakit katastropik selama ini cukup menguras kantong BPJS Kesehatan. Setidaknya ada delapan penyakit katastropik yang akan dipilih untuk dibiayai dengan skema cost sharing. Yakni, jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hepatitis, thalasemia, leukimia dan hemofilia.

BACA JUGA :  Tolak Tawaran Nomor 2, Dede Yusuf : Kalau Wakil Gubernur Saya Sudah Pernah

Untuk penyakit jantung misalnya, sepanjang Januari-September 2017 saja ada 7,08 juta kasus dengan total klaim mencapai Rp 6,51 triliun. Pada tahun 2016, ada 6,52 juta kasus dengan total biaya Rp 7,48 triliun. Bahkan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, ada 10,80 juta kasus dari delapan penyakit katastropik yang menguras biaya BPJS Kesehatan sebesar Rp 12,29 triliun.

Jumlah itu setara dengan 19,68 persen dari total biaya pelayanan kesehatan yang BPJS Kesehatan hingga September 2017. “Cost sharing¬†ini harus kami sampaikan supaya masyarakat tidak kaget,” kata Fahmi, Kamis (23/11/2017).| red-06 |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini