Peminat Sejarah Lukman Hakiem/telusur.co.id

telusur.co.id | Jakarta | SETIAP hari Senin dan Selasa, bus angkutan umum dari Sukabumi menuju Jakarta, pasti penuh sesak oleh penumpang, baik penumpang yang hendak kembali sesudah berlibur di Sukabumi, maupun oleh para pekerja yang tinggal di kawasan antara Ciawi-Sukabumi. Hari itu, saya yang menyetop mobil di kawasan Cicurug, sudah bersiap untuk berdiri berdesak-desakan sampai Jakarta. Di luar dugaan, ternyata saya masih kebagian duduk. Alhamdulillah. Sepanjang jalan, bus terus menambah penumpang, sehingga makin banyak mereka yang berdiri. Di pertigaan Cinagara, selepas Lido, bus kembali berhenti untuk menaikkan penumpang.

 

Di antara sejumlah penumpang yang naik, ada seorang yang sangat saya kenal: Djohan Effendi! Betapapun sudah mengenal Mas Djohan –demikian saya menyapanya–saya tetap terkejut dan hampir tidak percaya melihat seorang pejabat eselon I di Kementerian Agama mau berdiri berdesak-desakan di bus. Alumni HMI Cabang Yogyakarta itu terus berjalan ke dalam bus dan berdiri tidak jauh dari tempat saya duduk. Saya berdiri, menyapa, dan mempersilahkan senior yang saya hormati itu untuk duduk di kursi yang akan saya tinggalkan. Betapapun saya mendesaknya untuk duduk, Mas Djohan tetap menolak. Akhirnya kursi saya serahkan kepada orang lain. Saya memilih menemani Mas Djohan berdiri sampai Jakarta. Sambil berdiri kami mengobrol berbagai hal. terutama rencana Mas Djohan mendirikan perpustakaan di Desa Tangkil, daerah Cinagara, Bogor. Saya bertanya tentang Yayasan Wakaf Paramadina yang belum lama didirikan oleh Dr. Nurcholish Madjid dan kawan-kawan, tetapi Mas Djohan lebih antusias menjelaskan rencana pembangunan perpustakaannya.

 

Di daerah pegunungan yang sejuk, Mas Djohan membayangkan alangkah nyamannya membaca buku di perpustakaan yang dikelilingi kolam ikan. Pergolakan Pemikiran Islam Pada 1981, terbit buku Ahmad Wahib yang disunting oleh Mas Djohan dan Ismet Natsir, “Pergolakan Pemikiran Islam”. Buku ini langsung menyita perhatian publik. Pendapat pro dan kontra bermunculan. Pengurus HMI Cabang Yogyakarta yang saat itu dipimpin oleh Zulkifli Halim melakukan dua kali diskusi buku Wahib itu. Pertama dilaksanakan di Sekretariat HMI Cabang Yogya, Jalan Dagen 16, dihadiri oleh para aktivis HMI, Djohan Effendi selaku editor buku, A. R. Baswedan yang disebut-sebut sebagai sahabat Ahmad Wahib, dan Samhudi –seorang tokoh yang dalam pengantar editor disebut sebagai tokoh Ahmadiyah Lahore yang menyebal. Diskusi kedua diselenggarakan di rumah bekas Ketua Umum HMI Cabang Yogya, Djoko Prabowo Saebani, di Jalan Sultan Agung, Yogyakarta. Karena aktivitas itulah, saya yang saat itu menjadi pengurus HMI Cabang Yogya, mengenal Djohan Effendi. Resensi saya atas “Pergolakan Pemikiran Islam” di salah satu majalah ibukota rupanya dibaca oleh Mas Djohan. Dia memberi apresiasi terhadap resensi saya.

 

Di masa itu pula, Mas Djohan mengenalkan saya kepada K. H. Abdurrahman Wahid, dan menyarankan agar Katib Syuriah PBNU itu diundang diskusi di Dagen. Saran itu langsung kami eksekusi, dan Gus Dur –tokoh yang kelak menjadi Presiden RI– dengan murah hati memenuhi undangan HMI. Asas Tunggal Pancasila Sejak itu, hampir setiap ada acara di Yogya, Mas Djohan menghubungi saya. Ketika pada akhir 1982 Presiden Soeharto muncul dengan gagasan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi sosial politik, perdebatan pro dan kontra segera muncul. Mereka yang menolak berpendapat bahwa Pancasila dimaksudkan sebagai asas negara. Bukan sebagai asas organisasi atau individu. Dalam hal ini, mereka merujuk kepada pidato Presiden Sukarno pada 1954 di depan Gerakan Pendukung Pancasila (GPPS) yang antara lain mengingatkan agar jangan ada satu partai pun yang mengaku-aku berasas Pancasila. Di tengah kukuhnya kekuasaan Orde Baru, pendapat yang kontra tentu saja berlalu begitu saja. Gagasan Soeharto itu tanpa banyak cakap diamini oleh Sidang Umum MPR 1983. Sesudah keharusan berasas tunggal Pancasila masuk ke dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), perdebatan berikutnya ialah mengenai apakah keharusan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas (populer dengan istilah asas tunggal Pancasila) hanya untuk partai politik atau mencakup juga organisasi kemasyarakatan? Mantan Wakil Perdana Menteri, Mr. Hardi, dan banyak pakar hukum berpendapat keharusan berasas tunggal itu hanya untuk parpol. Tidak mencakup ormas. Akan tetapi para pendukung Soeharto bersikukuh pada pendapat bahwa ormas pun harus berasas tunggal Pancasila. Ketika disodorkan fakta di dalam GBHN hanya tertulis “organisasi sosial politik” dengan enteng seorang menteri bahkan mengatakan: “MPR kelupaan.”

BACA JUGA :  A.M. FATWA, A.R. BASWEDAN, DAN KASMAN SINGODIMEDJO

 

Di tengah perdebatan hangat tentang asas tunggal itu, di sela-sela sebuah seminar di IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Mas Djohan menanyakan pendapat saya selaku Ketua Umum HMI Cabang Yogya, mengenai asas tunggal. Secara ringkas saya jelaskan tiga hal. Pertama, HMI Cabang Yogyakarta terikat kepada keputusan Kongres XV HMI di Medan yang masih tetap berasas Islam. Kedua, HMI Cabang Yogyakarta membedakan antara Pancasila sebagai dasar negara, dengan gagasan politik menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Ketiga, terhadap Pancasila sebagai dasar negara sikap HMI tercermin dalam alinea terakhir Mukaddimah Anggaran Dasar yang menyatakan tekad untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila. Terhadap gagasan politik menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas, HMI berpendapat ketentuan itu tidak berlaku untuk ormas. Meskipun demikian HMI tetap terbuka untuk mendiskusikan secara cerdas dan dewasa. Mas Djohan manggut-manggut mendengar penjelasan saya. Seraya mengaku paham, Mas Djohan memberi informasi bahwa Presiden Soeharto berpendapat, ketentuan asas tunggal Pancasila itu mencakup organisasi sosial politik dan organisasi kemasyarakatan. Bahkan mencakup juga organisasi keagamaan seperti MUI, Majelis Wali Gereja Indonesia (MAWI), dan Dewan Gereja Indonesia (DGI). Mas Djohan menambahkan info bahwa sikap Soeharto itu sudah final, dan akan disampaikan dalam pidato pada suatu peringatan hari besar keagamaan.

 

Mas Djohan –yang saya ketahui sebagai penulis pidato Presiden Soeharto– menyampaikan informasi penting itu dengan nada biasa-biasa saja. Tidak ada kesan menekan atau menakut-nakuti seperti gaya sementara alumni HMI dan sementara pejabat. Dengan tetap pada sikapnya yang ramah, dan dengan gaya seorang kakak yang mengasihi adiknya, Mas Djohan berpesan agar saya tetap berpegang pada pendapat yang diyakini, tetap membuka ruang dialog, dan berhati-hati. Untuk pesan yang terakhir itu, setengah berbisik Mas Djohan berkata: “Pemerintah masih sangat kuat.” Imannya Baru Segitu Di masa itu, jika ke Jakarta, saya suka menyempatkan mampir ke kediaman Mas Djohan di Jalan Proklamasi 51. Dua atau tiga kali saya menyambangi Mas Djohan, sesuai pesannya: di sore hari. Setiap mememuinya, Mas Djohan selalu sedang berdiskusi dengan sejumlah anak muda. Dia kenalkan saya kepada teman-teman mudanya itu, tetapi sebagai tamu saya menahan diri untuk berkomentar. Saya memilih menjadi pendengar yang budiman. Belakangan saya tahu, anak-anak muda yang rutin berkumpul di rumah Mas Djohan itu adalah para aktivis mahasiswa Jakarta. Di tengah gurita birokrasi yang membelenggu kebebasan berpendapat di kampus, kelompok-kelompok diskusi seperti di rumah Djohan Effendi itu merupakan alternatif cerdas. Melihat cara Mas Djohan melayani teman-teman mudanya, seperti yang saya lihat dalam dua-tiga kali silaturrahmi, saya membayangkan seperti itulah dahulu H. Agus Salim melayani anak-anak muda aktivis Jong Islamieten Bond (JIB) seperti Kasman Singodimedjo, Mohamad Roem, Mohammad Natsir, dan Prawoto Mangkusasmito. Ketika masuk waktu shalat Maghrib, Mas Djohan “minta izin” untuk melaksanakan shalat Maghrib. Saya dan beberapa peserta diskusi mengikuti Mas Djohan ke tempat shalat, sebagian lain tetap di tempat duduknya. Seusai shalat, saya bertanya kepada Mas Djohan apakah mereka yang tidak ikut shalat itu non-Muslim? Mas Djohan tersenyum seraya mengatakan bahwa teman-teman mudanya itu Muslim, tetapi “iman mereka baru segitu. Belum sekuat Anda.” Ucapan datar Mas Djohan menohok saya. Telepon Agus Lenon Tahun-tahun berlalu, ketika saya bekerja di majalah Kiblat beberapa kali saya bertemu Mas Djohan. Kantor kami memang relatif berdekatan. Saya di Jalan H. Agus Salim, Mas Djohan di Jalan M. H. Thamrin. Ketika saya bekerja di majalah Media Dakwah di Jalan Kramat Raya 45, beberapa kali saya bertemu Mas Djohan di toko buku di sekitar Kramat dan Kwitang. Meskipun lama tidak bertemu, ketika bertemu dalam seminar mengenai A. R. Baswedan (1908-1986) di Universitas Atmajaya pada 2011, Mas Djohan masih tetap hangat dan ramah dengan senyum khasnya. Pada seminar tersebut, kami (saya, Djohan Effendi, dan Ramlan Mardjoned) oleh moderator diminta memberi kesaksian tentang jejak hayat mantan anggota BPUPKI dan mantan Menteri Muda Penerangan Baswedan. Sekitar dua tahun yang lalu, saya mendapat telepon dari Agus Edy Santoso yang akrab disapa Agus Lenon. Konco lawas itu menyampaikan pesan dan salam dari Mas Djohan. “Mas Djohan nanyain Ente. Dia pengen ketemu,” ujar Agus seraya meminta saya hadir pada pertemuan dengan Djohan Effendi di suatu tempat di Jakarta. Saya yang sangat ingin memenuhi undangan Bung Agus itu, ternyata tidak bisa memenuhinya. Banyak pendapat tentang Mas Djohan. Ada yang memuji, ada yang mengecamnya. Kesan saya, Mas Djohan tidak terlalu peduli kepada pujian maupun kecaman. Sepanjang pergaulan dengannya, saya tidak pernah mendengar Mas Djohan ngrasani seseorang.

BACA JUGA :  DIPLOMASI HAMZAH HAZ DI AMBON

 

Ketika kemarin terdengar kabar Djohan Effendi meninggal dunia di Australia, saya teringat kembali kepada pesan yang disampaikannya kepada saya 34 tahun yang lalu: tetaplah berpegang kepada yang Anda yakini, perkuat argumentasinya, tetapi tetaplah juga membuka pintu dialog. Pesan kepada saya itu, tentu sudah dia amalkan. Dan karena itu Mas Djohan dengan senyum teduhnya tetap sederhana, percaya diri, rendah hati dan berjiwa besar. Selamat jalan Mas Djohan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. | Red-Jack |.

 

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini