Telusur.co.id | Zimbabwe | Militer Zimbabwe mengatakan pada hari Rabu bahwa pihaknya tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah dan bahwa Presiden Robert Mugabe dan keluarganya dalam keadaan aman.

“Kami hanya menargetkan pihak-pihak yang ada di sekitarnya yang melakukan kejahatan yang menyebabkan penderitaan sosial dan ekonomi di negara tersebut untuk membawa mereka ke pengadilan,” kata pihak militer dalam sebuah pernyataan di televisi pemerintah.

Pengumuman tersebut menyusul laporan saksi sedikitnya terdengar tiga kali ledakan dan suara tembakan senjata berat di ibu kota Harare Rabu pagi.

Saksi mata juga mengatakan bahwa kendaraan militer dan tentara berada di jalan-jalan Rabu dini hari, beberapa jam setelah tentara mengambil alih stasiun penyiaran negara Zimbabwe, ZBC. Penduduk setempat mengatakan militer mengambil alih tempat tersebut selama 11 jam. Tidak ada siaran berita, tapi sebagai gantinya mereka menyiarkan acara musik.

Seorang juru bicara di kedutaan A.S. di Harare mengatakan bahwa jalan-jalan tampak sepi pada Rabu malam dan tidak mengkonfirmasi adanya penampakan kendaraan militer. Tetapi kedubes tersebut memperingatkan orang-orang Amerika yang berada di Zimbabwe melalui situs webnya untuk “berlindung di tempat tinggal mereka” dan bekerja di rumah pada hari Rabu. Mereka mengatakan bahwa kedutaan akan ditutup untuk umum.

BACA JUGA :  Presiden Zimbabwe Harapkan Barat Cabut Embargo Ekonomi

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan Amerika Serikat “mendorong semua warga Zimbabwe untuk tetap tenang dan damai sambil mengikuti proses demokratis yang transparan yang sesuai konstitusional untuk menyelesaikan perbedaan.”

Pada hari Selasa, partai berkuasa Zimbabwe menuduh kepala angkatan bersenjata militer Zimbabwe “melakukan tindakan yang tidak masuk akal” setelah dia mengancam akan ikut campur tangan dalam urusan politik negara tersebut.

Pernyataan dari partai ZANU-PF dilkeluarkan di tengah-tengah kekhawatiran bahwa militer mungkin akan melakukan tindakan untuk melakukan kudeta terhadap Mugabe.

Saksi melaporkan melihat tank dan truk pengangkut personel bersenjata yang bergerak di jalan-jalan di luar ibukota; Namun, pemerintah Harare seolah-olah bersikap tenang dan kedutaanpun tidak mengeluarkan peringatan keamanan untuk warganya.

Ketegangan saat ini dipicu tindakan Mugabe memecat wakilnya pada pekan lalu, Emmerson Mnangagwa, dan menuduhnya tidak setia dan merencanakan untuk merebut kekuasaan yang dia pimpin saat ini. Banyak pengamat melihat langkah tersebut sebagai langkah menuju pemasangan istri Mugabe, Grace Mugabe, sebagai wakil presiden. Itu akan menempatkan wanita pertama dalam posisi tersebut untuk menjadi presiden saat suaminya yang berusia 93 tahun pensiun atau meninggal dunia.

BACA JUGA :  Robert Mugabe Akan Cek Kesehatan di Singapura

Pada sebuah konferensi pers hari Senin, kepala angkatan bersenjata Zimbabwe, Jenderal Constantino Chiwenga, memperingatkan bahwa dia tidak akan “ikut campur” kecuali Mugabe berhenti berusaha untuk membersihkan pendukung Mnangagwa dari partai ZANU-PF yang berkuasa. Puluhan telah ditangkap sejak wakil presiden dipecat pada 5 November.

Pernyataan ZANU-PF hari Selasa, yang ditandatangani oleh sekretaris informasi partai Simon Khaya Moyo, mengatakan bahwa komentar Chiwenga “secara jelas dihitung sebagai tindakan provokatif yang mengganggu perdamaian dan stabilitas nasional” dan hal tersebut dimaksudkan untuk “mendorong pemberontakan dan tantangan perubahan Papan Konstitusional di Zimbabwe.”

Presiden Mugabe telah memerintah negara Zimbabwe sejak negara tersebut merdeka dari Inggris pada tahun 1980.

Mnangagwa, 75 tahun, yang digadang-gadang sebagai pengganti presiden, dan mendapat dukungan kuat dari tentara. Dia sekarang diyakini berada di Afrika Selatan.

Grace Mugabe, 52, memiliki dukungan dari sayap pemuda partai tersebut dan diyakini telah merekayasa penembakan wakil presiden lain, Joice Mujuru, pada tahun 2014.

| red-12/VOA |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini