Telusur.co.id | Lahore, Pakistan | Selama hampir dua minggu, Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan telah menjadi salah satu kota dengan polusi udara yang tinggi. Beberapa alat untuk memonitor kualitas udara telah dipasang untuk mengawasi polusi udara di kota yang mengerikan itu.

Tercatat polusi udara di kota Lahore sudah mencapai lebih dari 30 kali lipat dari apa yang pemerintah Pakistan anggap batas amannya.

“Anda bisa melihat dan mencium bau asap sepanjang hari, Anda bahkan bisa menyentuh asap tersebut, “kata Amna Manan, seorang manajer berusia 26 tahun di sebuah perusahaan multinasional di Lahore, sebuah kota berpenduduk 11 juta. “seringkali aku merasa takut untuk bernafas.”

Bahkan peristiwa ini telah menjadi berita utama di seluruh dunia dalam beberapa hari belakangan, para ahli mengatakan bahwa udara di Lahore menyaingi polusi udara di ibu kota India. Pada tahun 2015, menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia, hampir 60.000 orang Pakistan meninggal akibat tingginya polusi di udara.

Saat panen terbakar, emisi yang tinggi dan cuaca dingin bergabung dan menyelimuti kota Lahore dan seluruh provinsi Punjab, bahkan warga sampai menyebut bahwa asap tebal yang tiap hari muncul sebagai “musim kelima.” Seperti di India

Namun hanya sedikit data resmi tentang dari mana sumber polusi itu berasal, atau seberapa buruk keadaan udara yang sebenarnya. Dalam sebuah pengumuman oleh pemerintah setempat, pemerintah Punjab mengakui bahwa data yang mereka dapat menunjukan bahwa kualitas udara di kota Lahore “kurang”, dan mengatakan bahwa batas aman polusi udara “sering terlampaui”.

Naseem-ur-Rehman, seorang direktur di Departemen Perlindungan Lingkungan Punjab, mengakui bahwa pemerintah telah membeli enam alat pemantau kualitas udara tahun lalu, namun tidak pernah memasangnya sampai minggu kemarin, ketika sebuah demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat yang peduli mengenai kurangnya data yang menyebabkan polusi di Lahore. Dia mengatakan departemen “memantaunya dengan ketat,” namun hingga Kamis pihaknya masih belum bisa merilis angka sebenarnya tentang kualitas udara yang sebenarnya di Punjab.

BACA JUGA :  Kalahkan Inkumben, Presiden Khan Dilantik Sabtu

“Ini adalah krisis data,” kata Ahmad Rafay Alam, seorang pengacara lingkungan dan aktivis di Lahore.

Dengan tidak adanya informasi resmi dari pemerintah, beberapa warga Pakistan yang peduli terhadap masalah ini telah mengambil inisiatif dengan memasang sendiri alat pengukur kualitas udara. Yang pertama adalah Mr. Omar, dia telah memasang monitor udara di Lahore, Islamabad, Peshawar dan Karachi, tempat dia tinggal. Dia telah membuat akun Twitter dan mempostingnya agar dapat dipantau secara langsung dan terus-menerus.

Omar terinspirasi oleh pengalamannya tinggal di Beijing, di mana Kedutaan Amerika disana dapat menyelesaikan permasalahan tentang seberapa bersih udara dengan menerbitkan bacaan tentang hal tersebut di Twitter. Pihak berwenang China pada akhirnya diminta untuk memasang alat pemantau polusi udara di ibu kota dan seluruh China.

“Saya menyadari bahwa agar kualitas udara menjadi masalah nasional seperti di China dan untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya dan bagaimana solusinya, kami memerlukan data yang dapat dijadikan sebagai acuan,” kata Omar, Pakistan Air Quality Initiative menerbitkan data tentang polusi udara dan informasi tentang pengaruhnya terhadap kesehatan.

Pembaruan Twitter oleh Omar telah mendorong banyak penduduk kelas menengah dan atas di Lahore untuk membeli pembersih udara dan masker wajah.

Aktivis lain, Aysha Raja, yang mengelola sebuah toko buku populer di Lahore, juga memulai sebuah kelompok di Facebook bernama Citizens for Clean Air, dengan tujuan membahas solusi yang mungkin berguna untuk mengatasi masalah asap dan memberi tekanan kepada pemerintah untuk mengatasinya.

“pemerintah sampai sekarang tidak melakukan apa-apa,” kata Raja. “Kami masyarakat perlu bertindak sebagai kelompok penekan, dan juga sebagai pengawas untuk memastikan pemerintah dapat melakukan sesuatu yang dapat menyelesaikan masalah ini.”

Peristiwa ini pun telah menciptakan masalah di luar masalah kesehatan yang sudah jelas terjadi. Pada hari Selasa saja, setidaknya belasan orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas yang terkait dengan berkurangnya jarak pandang di Lahore, menurut polisi, Jalan raya utama telah ditutup beberapa kali karena masalah keterbatasan jarak pandang.

BACA JUGA :  Perbatasan Mulai Mencekam Buat Ratusan Orang Melarikan Diri Dari Daerah Kashmir, India

Tiga belas pembangkit listrik berbahan bakar minyak telah ditutup sejak akhir pekan lalu, hal ini pun menjadi penyebab dipadamkannya listrik lebih dari 12 jam di banyak daerah. Di suatu rumah sakit di Lahore saja, lebih dari 500 orang telah datang setiap hari dengan keluhan kesulitan bernafas dan iritasi mata.

“Lahore terlihat seperti gurun yang mengerikan sekarang, seperti pemandangan di film ‘Blade Runner,'” kata Adil Ghazi, pemilik bisnis di Lahore.

Pemerintah Punjab mengatakan mereka telah melakukan beberapa tindakan darurat, termasuk larangan membakar tanaman dan limbah padat. Dikatakan bahwa lebih dari 100 orang telah ditangkap karena pembakaran tanaman dan ratusan pabrik telah ditutup karena tidak memiliki peralatan kontrol emisi yang tepat.

Polisi lalu lintas Lahore mengatakan bahwa mereka telah mendapatkan lebih dari $ 50.000 dalam beberapa hari dari pengemudi yang kendaraannya tidak memenuhi standar emisi, dan selanjutnya pemerintah telah membangun dua tempat khusus untuk memeriksa emisi kendaraan komersial.

Namun, para pemerhati lingkungan mengatakan bahwa solusi yang diperlukan adalah dengan meningkatkan kualitas bahan bakar, mengurangi konsumsi mobil dengan bahan bakar, mengenalkan sumber energi matahari dan sumber energi terbarukan lainnya, menanam pohon dalam skala besar dan meningkatkan transportasi umum untuk mengurangi jumlah mobil di jalan.

“permasalahan ini telah berlarut-larut dan membuat publik marah, jadi tindakan darurat harus segera dilakukan, namun solusi jangka panjang sepertinya tidak menjadi prioritas, “kata Alam. “Perasaan mendesak harus tetap dipertahankan.”

Yang terpenting, katanya, pemerintah perlu berhenti mencari orang lain untuk disalahkan, termasuk India.

“Tidak diragukan lagi asap Dari pembakaran tanaman di India adalah inti masalah ini, tapi mari kita tidak berpura-pura bahwa kita tidak punya kesalahan, kita sendiri yang terus bermain-main dalam krisis ini, “kata Omar. “Pemerintah perlu mengakui bahwa masalah ini adalah penting agar dapat menciptakan kesadaran bagi masyarakat luas.”

| red-12/nytimes |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini