telusur.co.id | Medan | Pengusaha nelayan pemodal besar, ternyata masih menggunakan alat penangkap ikan pukat hela (trawl) dan pukat tarik (seine nets) secara sembunyi-sembunyi dibeberapa daerah di Sumut.

Meski kedua alat tangkap tersebut telah lama dilarang, kenyataannya menurut Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumatera Utara, masih tetap beroperasi dan digunakan nelayan pemodal besar.

“Kedua alat tangkap yang masih digunakan oleh nelayan pemodal besar itu, harus segera dihentikan dan jangan lagi beroperasi di perairan Indonesia,” kata Wakil Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumut Nazli, Rabu (1/11) di Medan.

BACA JUGA :  Berkah Hari Kemerdekaan, 544 Napi Sumut Bebas

Ditegaskan Nazli, Pemerintah melarang penggunaan alat tangkap tersebut, menurutnya tidak hanya karena meresahkan nelayan tradisional, tetapi juga merusak sumber hayati yang terdapat di dasar laut.

“Selain itu, alat tangkap tersebut juga dianggap tidak ramah lingkungan dan selalu merusak rumpon yang dipasang nelayan, serta menghancurkan terumbu karang,” ujar Nazli.

Ia mengatakan alat tangkap yang dilarang oleh pemerintah itu, jangan lagi dioperasikan para pengusaha ikan di perairan Sumatera Utara (Sumut).

Pelarangan alat tangkap tersebut, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 tahun 2015.

BACA JUGA :  Kejati Tetapkan PPK Bapemas Sumut Tersangka Korupsi Senilai 40 Miliar

“Para nelayan harus tetap mematuhi larangan penggunaan alat tangkap ilegal tersebut,” ucapnya.

Hal tersebut, harus menjadi perhatian serius bagi Pemprov Sumut, Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Sumut, dan Badan Keamanan Kelautan (Bakamla) untuk menertibkan alat tangkap yang melanggar peraturan.

“Petugas TNI AL, dan aparat terkait lainnya diharapkan dapat bekerja sama mengamankan kapal ikan yang menggunakan alat tangkap yang melanggar peraturan tersebut,” katanya. | red-03/ant |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini