telusur.co.id | Bandung | Terus meningkatnya elektabilitas Dedi Mulyadi hingga mencapai angka 20 persen seperti dirilis Indo Barometer, Sabtu pekan lalu, disebut kalangan peneliti akan bisa menambah keyakinan partai pengusung untuk memenangkan Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Jabar) pada 2018 mendatang.

“Dari survei terakhir Dedi Mulyadi naik terus elektabilitasnya, hal ini juga bisa menambah keyakinan partai pengusung untuk menatap kemenangan,” terang Peneliti Nusantara Riset, Deni Yusuf, Senin (6/11) dalam keterangan tertulisnya, mengomentari perkembangan terkini jelang Pilgub Jabar yang semakin dinamis dan panas.

Terkait soal siapa partai pengusung yang dimaksud, peneliti muda yang memahami betul kondisi sosio-politik warga Jabar ini, menyebutkan bahwa PDIP sekarang ini terlihat semakin mesra dengan Dedi Mulyadi, Ketua DPD Golkar Jawa Barat yang kemungkinan besar urung diusung partainya sendiri.

“Ini pertanda DPP PDIP  bisa aja mengusulkan Dedi Mulyadi disandingkan dengan wakil pilihan PDIP untuk mengincar kemenangan di pilgub Jabar,” tegas Yusuf yang juga mantan aktifis HMI Cabang Garut ini.

Baca : Kesamaan Visi Ideologis Membangun Jabar, Jadikan Dedi Makin Lengket Dengan PDIP

Lebih jauh Yusuf mengungkapkan belum adanya kepastian siapa yang akan menjadi wakil gubernur mendampingi Ridwan Kamil, menurutnya akan semakin membuat dinamika parpol koalisi pengusungnya berlangsung alot dan semakin memanas.

Seperti diketahui parpol pengusung Ridwan Kamil masih belum sepakat menentukan siapa calon Wakil Gubernurnya, kini masih tarik menarik antara Daniel Mutaqien sebagaimana diklaim Golkar, atau Uu Ruzhanul Ulum seperti diinginkan PPP, sementara PKB juga keukeuh menyodorkan kadernya Syaiful Huda.

BACA JUGA :  Alhamdulillah, Tingkat Kerawanan Jabar Menurun

Baca : Parpol Pengusung Emil Belum Sepakati Calon Wagub Golkar, Koalisi Bakal Buyar?

“Begitupun dengan Dedi Mizwar yang awalnya disandingkan dengan Ahmad Syaikhu kader Partai PKS, masih tanda tanya, karena ada ketersingungan partai pendukung lainya, yang mengakibatkan duet pasangan menjadi belum pasti. Di disisi lain, calon Dedi Mulyadi yang di gandang-gadangkan oleh kader golkar untuk didukung full oleh partainya punah, karena ternyata DPP partai yang memiliki otoritas menentukan calon gubernur dan wakil gunernur lebih memilih Ridwan Kamil,” ungkap Yusuf.

Semua kemungkinan politik menurut Yusuf bisa saja terjadi, akan menambah panasnya suhu politik di Pilkada Jabar, khususnya rivalitas antara pasangan Ridwan Kamil dengan Dedi Mulyadi.

“Akan kelihatan makin memanas, dibandingan rivalitas Ridwan Kamil dengan Dedi Mizwar, rivalitas Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi pasti akan sangat panas karena melibatkan pertarungan emosional pendukung dari kedua belah pihak,” ujarnya.

Sebab menurut Deni Yusuf, pendukung stuktural dibawah DPD Partai Golkar Jabar yang notabene pendukung setia dari Dedi Mulyadi, justru menolak pencalonan Ridwan Kamil yang mendapat dukungan DPP Partai Golkar.

Baca : Akar Rumput Golkar Mulai Membangkang : Tanda-tanda Bakal Kalah di Pilgub Jabar?

Karena itu masih menurut Yusuf, pada bulan Desember mendatang, baru publik akan bisa melihat peta yang lebih jelas pertarungan antar kandidat, sampai pemilihan di bulan Agustus 2018.

BACA JUGA :  Duh... Dimentahkan Gerindra, Deddy Mizwar Tuntut Komitmen Prabowo

“Rentang waktu kurang lebih 8 bulan ini akan makin panas dan sangat dinamis peta pertarungannya, jadi survei saat ini belum bisa menjadi ukuranuntuk menentukan siapa pemenangnya,” tegasnya.

Semua akan tergantung konsolidasi dan kejelian tim sukses untuk mendapat dukungan sampai hari pemilihan, semua calon harus hati-hati dalam melakukan kegiatan konsolidasi, baik seragan darat dan udara.

“Kesalahan fatal akan akan merugikan dirinya sendiri, kita bisa melihat kesalahan fatal yang dilakukan ahok selaku gubernur DKI Jakarta, yang tidak bisa menjaga sikap ucapan dan prilakunya, mengakibatkan dia tumbang di pilkada DKI Jakarta selain ada faktor lain, sehinga dia tumbang,” tegas Yusuf.

Deni Yusuf juga berharap proses demokrasi di pilkada Jabar yang akan berlangsung lebih dinamis itu harus bisa memberikan pendidikan politik yang bermutu bagi masyarakat.

Dari persaingan yang panas antar calon dan partai pendukungnya yang sama- sama mengiginkan kemenangan,  masyarakat harus di sodorkan pembelajaran politik  untuk mendewasakan berdemokrasi.

Persaingan yang  dimunculkan harus berdasarkan ide dan gagasan membangun daerah, apalagi Jawa Barat sebagai salah satu barometer Indonesia, dengan jumlah penduduknya yang padat.

“Pilkada yang berkualitas harus bisa memunculkan pemimpin yang berintregritas memiliki komitmen yang kuat. Semoga calon yang ada saat ini bisa membuat  perubahan untuk Jabar lebih baik dan menjadi daerah yang nyaman untuk semua orang berkativitas dan bisa menjadi tolak ukur kemajuan bangsa,” pungkasnya. | red-03 |

 

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini