Telusur.co.id | Kota Gaza | Puluhan ribu orang Palestina di Gaza memperingati 13 tahun kematian Presiden Palestina Yasser Arafat pada hari Sabtu untuk pertama kalinya sejak kelompok Hamas tersebut merebut wilayah Gaza satu dekade yang lalu.

Setelah sebuah rekonsiliasi pembuatan parlemen antara Hamas dan partai Fatah Arafat didirikan, pendukung Fatah dari seluruh wilayah pesisir berbondong-bondong datang ke Al-Saraya Square di Kota Gaza untuk memperingati peristiwa tersebut, orang-orang yang datangpun melambai-lambaikan bendera kuning serta mengangkat poster Arafat.

Arafat meninggal pada tahun 2004 di sebuah rumah sakit di Perancis setelah dua tahun dikurung Israel di markas West Banknya. Orang-orang Palestina menuduh Israel meracuni dia tapi tidak adanya bukti membuat kematiannya penuh dengan misteri.

Setelah memenangkan pemilihan legislatif pada tahun 2006, pasukan Hamas dengan keras menggulingkan Fatah di Gaza pada tahun berikutnya. Peringatan tersebut terjadi di tengah membaiknya hubungan antara Fatah dan Hamas, sebulan setelah kedua saingan tersebut menandatangani sebuah kesepakatan di Mesir yang membuka jalan untuk mengakhiri perpecahan internal di Palestina.

BACA JUGA :  Jadi Presiden Kelompok G77, Presiden Palestina Siap Hadapi Tantangan

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Hamas akan menyerahkan kendali Gaza kepada Otoritas Palestina pimpinan Fatah setelah satu dekade pemerintahan sepihak oleh gerakan Islam tersebut.

“Implementasi yang akurat dari kesepakatan dan pemberdayaan penuh pemerintah pasti akan menyebabkan berkurangnya penderitaan dan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi kita semua,” Presiden Mahmoud Abbas, penerus Arafat, mengatakan kepada orang banyak dalam sebuah pidato yang direkam sebelumnya dari Kantor pusat bank sentral

Awal bulan ini, Hamas mengalihkan kontrolnya pada titik-titik penyeberangan Gaza dengan Israel dan Mesir ke Otoritas Palestina pimpinan Fatah, yang melaksanakan bagian pertama dari rekonsiliasi yang ditengahi Mesir. Pembicaraan akan berlanjut di Kairo dalam sepuluh hari untuk membahas isu-isu yang lebih luas.

Seperi tentang kepengurusan gudang besar roket, terowongan serang dan bahan peledak yang dimiliki kelompok Hamas dan kelompok-kelompok kecil di Gaza. Dalam pidatonya, Abbas menegaskan kembali sikap tegasnya bahwa dia menginginkan “satu otoritas, satu undang-undang dan satu senjata sah” di Gaza. Hamas bersumpah untuk tidak melucuti senjata.

BACA JUGA :  Marah Dengan Fadli Zon, Mohammad Nuruzzaman Keluar Dari Gerindra

Pada bulan November 2007, beberapa bulan setelah Hamas mengambil alih Gaza setelah pertempuran berdarah selama seminggu, Fatah mengadakan demonstrasi untuk menandai kematian Arafat, namun berakhir dengan bentrokan antara pendukung Fatah dan pasukan bersenjata Hamas, di mana tujuh warga sipil terbunuh.

Acara hari Sabtu berakhir dengan damai setelah dua jam berpidato dan orang-orang bergoyang mengikuti lagu-lagu patriotik yang menggelegar dari pengeras suara yang sangat besar.

Tidak semua peserta adalah pendukung Fatah. Beberapa dari mereka datang karena mereka tidak ingin melewatkan momen dimana persatuan akhirnya tercapai. “Arafat adalah untuk semua orang di Palestina,” kata Ashraf Hamouda. | red-12/ VOA |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini