telusur.co.id | Jakarta |¬† Langkah Partai Golkar dinilai sangat mencengangkan, karena punya kursi yang besar dan kader mumpuni yang berprestasi untuk duduk di Jabar 1, tapi lebih memilih membidik kursi Jabar 2, Rabu (8/11) disoroti sejumlah pihak pada diskusi media bertajuk¬†“Peta Koalisi Pilgub Jabar : Ada Apa Dengan Golkar?”

Diskusi yang menghadirkan Jeirry Sumampow, Usep S. Akhyar, Arif Susanto, dan Ray Rangkuti itu, menilai posisi Dedi Mulyadi Ketua DPD Golkar yang urung didukung partainya sendiri, sesungguhnya menjadi pemegang kunci pertarungan di Pilgub Jabar.

Ray Rangkuti misalnya, menilai selain Jabar menjadi target lumbung suara, Golkar juga menargetkan ingin berkuasa. Namun langkah Golkar yang membangun koalisi dengan 3 parpol itu, justru berbanding terbalik dengan target yang diharapkan partai berlambang pohon beringin ini.

“Mestinya besarnya koalisi parpol dengan calon gubernur yang diusung harusnya menang, ini malah sebaliknya koalisi yang kecil malah bisa menang. Ini yang jadi perhatian di jabar,” ujar Ray Rangkuti dalam diskusi yang digelar di D’Hotel di kawasan Guntur, Menteng, Jakarta Pusat tersebut.

BACA JUGA :  Pilgub Jabar, Formulir C Kurang 3.000 Lembar

Apalagi jika dilihat pilgub Jabar ini, menurut Ray tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan partai saja. Di Pilgub nanti, dukungan suara Golkar itu menyebar antara Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi. Karena itu posisi Dedi Mulyadi justru akan menjadi kunci dalam pertarungan di Pilgub Jabar ini, jika PDIP benar-benar akan mengusungnya.

Di sisi lain Usep S Akhyar melihat, hasil Pilgub Jabar akan sangat menentukan, siapa yang akan jadi Gubernur akan berpengaruh di Pilpres 2019. Karena itu dinilainya koalisi parpol di Pilgub Jabar ini belum mencapai kesepakatan, terkait belum dealnya kesepakatan untuk pilpres.

Misal PKS dan Gerindra belum ketemu siapa calon Gubernur yang akan diusung, apalagi Gerindra punya pengalaman buruk. Menurut Akhyar komitmen dari calon Gubernur yang akan diusung ini masuk ke parpol jadi pertimbangan, termasuk untuk koalisi jelang Pilpres.

BACA JUGA :  Bahas Pilgub Jabar, Dedi Bertemu Ical

Namun Ray, mengingatkan sebenarnya PDIP merupakan partai yang tidak perlu koalisi, sehingga berhak mencalonkan tanpa harus koalisi. “Cuma kan kalah cepat dengan parpol lain terkait calon Gubernur,” ujarnya.

PDIP menurutnya selain ingin mencalonkan salah satu kadernya menjadi cawagub, juga ingin menghindari pertarungan head to head. Sehingga menghindari benturan yang keras dengan cagub dari parpol lain. Di jabar itu PDIP masih ditunggu kemana arahnya.

“Soal PDIP, ini yang masih ditunggu, karena belum menentukan dukungan. Ada beberapa kandidat dari PDIP, seperti Dedi Mulyadi ataupun Anton Charlian untuk jadi cagub,” pungkasnya | red-03 |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini