Telusur.co.id | Cairo | Pejabat keamanan Mesir, yang dikutip oleh media pemerintah, mengatakan 235 orang tewas akibat serangan teroris dalam sebuah aksi di sebuah masjid yang penuh sesak oleh jemaah sholat Jumat di Semenanjung Sinai.

Warga yang ketakutan melarikan diri dari pusat kota Bir al Abed, setelah militan yang diduga Isis menembaki orang-orang baik di dalam maupun di luar masjid Rawda. Sejumlah mayat bertebaran di lantai karpet masjid.

Seorang pria yang mengaku berada di dalam masjid selama serangan tersebut mengatakan kepada media Arab bahwa militan di kendaraan berisi empat orang melepaskan tembakan ke dalam masjid setelah sebelumnya meledakannya.

Saksi mata juga mengatakan militan tersebut menembaki ambulans saat petugas darurat mencoba mengevakuasi korban yang terluka ke rumah sakit di dekat Arish. Media Mesir melaporkan bahwa beberapa target pemerintah juga diserang di dalam kota.

Pesawat tempur pemerintah Mesir dilaporkan menyerang sasaran teroris di Sinai menyusul pembantaian di masjid tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bereaksi terhadap aksi tersebut, menyebutnya sebagai “serangan teroris yang mengerikan dan pengecut terhadap jemaah tak berdosa dan tak berdaya di Mesir.” Presiden menambahkan, “Dunia tidak dapat mentoleransi terorisme, kita harus mengalahkan mereka secara militer dan mendiskreditkan ideologi ekstremis yang menjadi dasar keberadaan mereka!” dalam sebuah tweet yang dikirim dari negara bagian A.S. Florida, di mana dia menginap selama liburan Thanksgiving akhir pekan.

BACA JUGA :  Hadapi Amerika Serikat, Mesir Siapkan Resolusi PBB

Israelpun ikut memberikan rasa bela sungkawa ke Mesir menyusul serangan tersebut. Israel dan Mesir menandatangani sebuah perjanjian damai pada tahun 1979 dan menjaga kerjasama keamanan yang ketat.

Perang yang sedang berlangsung

Menteri Kebudayaan Mesir Helmy Namnam mengatakan di televisi Mesir bahwa serangan tersebut adalah “bagian dari sebuah perang yang sedang berlangsung di Mesir.”

Beberapa pejabat pemerintah lainnya membuat klaim serupa. Ikhwanul Muslimin membantah bertanggung jawab menyusul serangan teror sebelumnya.

Menteri Wakaf Islam Mesir mengatakan kepada media pemerintah militan menggunakan serangan yang sangat brutal karena mereka putus asa:

Dia mengatakan bahwa menyerang masjid adalah kartu terakhir yang harus mereka mainkan. Mereka telah menyerang gereja sebelumnya, mengklaim bahwa korban adalah orang-orang kafir, tapi sekarang mereka menyerang masjid, karena serangan mereka sebelumnya gagal. Dia mengatakan bahwa mereka membuktikan bahwa merekalah yang sebenarnya adalah musuh Tuhan.

BACA JUGA :  Di Depan Wapres AS, Presiden Mesir Tegaskan Dukung Palestina

Media Arab telah melaporkan masuknya militan Islam baru-baru ini dari Irak dan Suriah ke beberapa wilayah di Afrika Utara, termasuk Mesir dan Libya. Media Mesir menuduh Qatar dan Turki membantu teroris untuk melarikan diri dari Irak dan Suriah ke Afrika Utara. Qatar dan Turki membantah tuduhan tersebut.

Editor dan penerbit veteran Mesir Hisham Kassem baru-baru ini mengatakan bahwa pasukan keamanan Mesir memerlukan pelatihan yang lebih baik untuk menangani tindakan terorisme.

“Selama bertahun-tahun, ada pembicaraan bahwa perlu untuk mengkalibrali ulang kepolisian dan setidaknya sebagian dari militer menjadi pasukan kontraterorisme dan, sayangnya, kami mengetahui sedikit sekali program yang benar-benar terjadi untuk melakukan perubahan yang serius,” Kassem.

Media Mesir melaporkan bahwa Presiden Abdel Fattah el Sisi bertemu dengan pejabat keamanan utama, termasuk menteri pertahanan dan menteri dalam negeri, segera setelah serangan tersebut terjadi keamanan langsung ditingkatkan di sekitar gedung-gedung pemerintah dan infrastruktur utama.

Daerah sinai telah menjadi medan perang sejak militan yang berasal dari irak dan suriah mencoba merebut daerah tersebut dari mesir.
| red-12/ VOA |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini