telusur.co.id | Beijing, Tiongkok | Donald Trump tiba di Beijing, Rabu (8/11) yang merupakan kunjungan pertamanya sebagai Presiden AS ke sebuah negara yang telah menjadi fokus utama dalam krisis di semenanjung Korea. Walaupun perdagangan menjadi agenda utama, tetapi tetaplah tentang Korea Utara yang menjadi sorotan.

Pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa presiden Trump bermaksud untuk mendesak China sekutu terdekat Korea Utara, agar tak lagi bermitra dagang dengan Korea Utara. Desakan kepada China ini dilakukan Trump, untuk mendorong Korea Utara agar meninggalkan program nuklirnya.

Bahkan Trump sempat berpidato di Seoul beberapa jam sebelum tiba di Beijing. Dalam pidato di Majelis Nasional Korea Selatan tersebut, Presiden Trump memiliki pesan kuat untuk Pyongyang dan meminta pemimpin Kim Jong Un untuk melepaskan semua senjata nuklirnya agar bisa melangkah ke jalur yang lebih baik.

“Jangan meremehkan kami dan jangan coba-coba menekan kami. Kami akan membela keamanan bersama, kemakmuran bersama dan kebebasan kita. ” kata Trump dalam pidatonya yang terasa sangat kuat dengan kehadiran tiga kapal induk AS dan satu kapal selam nuklir yang disiagakan di Semenanjung Korea.

Menurut Presiden Trump, kekuatan Amerika saat ini harus “diposisikan tepat” yaitu di dekat semenanjung Korea. Presiden AS menyebut Korea Utara sebagai “Negara yang gagal total,” dan sebuah “rezim yang dipelintir” yang berlandasan oleh pemujaan dan tirani untuk memperbudak rakyatnya. Ini adalah sebuah karakterisasi yang pasti dapat memprovokasi rakyat Pyongyang agar sadar dan bangkit.

“Dunia tidak dapat mentolerir ancaman rezim nakal yang mengancam dengan senjata nuklir,” kata Trump dalam pidatonya. Semua negara yang bertanggung jawab harus bergabung untuk mengisolasi rezim brutal Korea Utara – untuk menolaknya dalam bentuk dukungan apapun.

BACA JUGA :  Semua Faksi Politik Iran Diminta Bersatu Hadapi Serangan AS

Di sisi lain pemimpin AS ini, memberi pujian untuk Korea Selatan yang ekonominya terus tumbuh walaupun dalam bayang-bayang Korea Utara. “Semakin suksesnya Korea Selatan, semakin yakin kita dapat menyudutkan fantasi gelap dalam rezim Kim Jong Un,” ujarnya.

Pidato tersebut berakhir dengan sebuah catatan penuh harapan, yang merupakan impian Korea dan seluruh rakyat di dunia untuk penyatuan kembali semenanjung Korea dalam kedamaian. Tapi dengan senjata pemusnah massal yang dimiliki rezim Kim, akan menimbulkan ancaman dan ketakutan yang sangat besar. “Tapi semakin lama kita menunggu, semakin besar bahaya yang tumbuh dan akan sedikit pilihan yang nanti kita dapat,” ujar Trump memperingatkan.

Presiden Trump secara umum mengambil pandangan diplomasi yang lebih optimis selama kunjungannya ke Seoul, termasuk pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Dia mengatakan bahwa kemajuan telah dicapai untuk meredakan ketegangan yang meningkat di wilayah tersebut, sebuah penolakan yang sangat mencolok dari bunyi tweettan dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa perundingan dengan Pyongyang untuk menyelesaikan krisis nuklir ini hanyalah “buang-buang waktu.”

Pejabat senior Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden Trump dan pemimpin Korea Selatan telah menegaskan kembali komitmen mereka dalam sebuah kampanyenya untuk mengajak masyarakat global agar lebih terkoordinasi untuk membawa Korea Utara kembali ke “meja perundingan denuklirisasi yang otentik,” disamping juga tetap berkomitmen untuk menggunakan “kemampuan militer penuh” untuk membela Korea Selatan dan Jepang.

Trump mendesak Korea Utara setuju tanpa syarat, agar “mengurangi ancaman, mengakhiri provokasi, dan bergerak menuju langkah-langkah tulus untuk akhirnya melakukan denuklirisasi.” Satu-satunya langkah yang harus di ambil oleh Korea Utara adalah meletakan senjata nuklirnya dalam meja perundingan sebagaimana telah dilakukan dimasa lalu.

BACA JUGA :  Berlakukan Tarif Barang Senilai 60 Miliar Dolar, China Balas Amerika

Pejabat Gedung Putih juga mengatakan bahwa Presiden Trump akan memanggil Presiden China Xi Jinping untuk menekan Korea Utara antara lain dengan menutup jalur perdagangan antara China dan Korea Utara meskipun Korea Utara sudah terkena sanksi dari PBB.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan terpisah, Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan bahwa Presiden Trump juga akan membuat keputusan apakah Amerika Serikat akan menunjuk Korea Utara sebagai negara sponsor terorisme sebelum akhir kunjungannya ke China. Selain krisis nuklir Korea Utara, Trump juga akan mendesak tuan rumah China untuk melakukan surplus perdagangan besar-besaran di negara tersebut dengan AS.

Dalam pembicaraan yang terpisah, negosiator untuk kedua negara telah menandatangani 20 kesepakatan senilai sembilan miliar dolar AS. Meski rincian kesepakatan tersebut tidak diungkapkan, namun kantor berita Reuters mengatakan bahwa mereka menyertakan sebuah janji dari perusahaan eCommerce China JD.com untuk membeli lebih dari dua miliar dolar produk makanan dari AS selama tiga tahun.

Presiden dan Ibu Negara Melania Trump memulai kunjungan mereka dari ibukota China dengan pemberhentian akhir di kota yang dlupakan Beijing, kompleks istana kaisar masa lalu China, di mana mereka bergabung dengan Presiden Xi untuk melihat pemulihan peninggalan kuno. Kemungkinan besar Presiden Trump akan terus mengirim Tweet ke China, meskipun china telah memblokir aplikasi Twitter sejak 2011, tetapi berkat peralatan komunikasi yang terdapat di pesawat Air Force One milik AS pesan tersebut akan tetap bisa tersampaikan kepada China | red-12/VOA |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini