Gubernur ke 9 DKI Jakarta

telusur.co.id |Jakarta | Catatan Redaksi | GUBERNUR  Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta (1966-1977), Letnan Jenderal Marinir (Purnawirawan), Haji Ali Sadikin yang akrab dipanggil Bang Ali, ternyata menaruh kesan khusus kepada dua tokoh, yaitu, Buya Hamka dan Mohammad Natsir. Kesan itu diungkapkan dalammemoar pribadinya yang ditulis oleh Ramadhan K.H.,  Bang Ali Demi Jakarta, 1966 – 1977 (Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1992, halaman 385, 386 dan 387).

Berikut ini, penuturan Bang Ali :

“Sekitar tahun 1973, ada dua-tiga kali Buya Hamka menulis kritik dan usul di surat kabar yang dialamatlan kepada saya. Ditulisnya mengenai judi dan soal kuburan serta usulnya agar tempat WTS ( Wanita Tuna Susila ) disisihkan. Membaca tulisannya itu, saya menelepon dan mengundangnya, jika tidak keberatan, untuk bertemu dengan saya. Maka Buya Hamka pun datang menemui saya. Lalu kami bertukar pikiran, Dan saya menerima usulnya mengenai WTS itu.  Saya rasakan, Buya itu selalu arif dan bijaksana. Kalau bicara dengannya terasa enak. Selalu beliau memberikan bahan-bahan pemikiran kepada saya. Pembicaraan kami dengannya selalu produktif. Beliau tidak pernah bicara di depan saya bahwa ini ‘tidak benar, ini salah’, melainkan memberikan pemikiran-pemikiran secara langsung,” ujarnya.

Buya Hamka sendiri menyebut Gubernur Ali Sadikin sebagai “orang yang paling tahan dikritik, sangat spontan, terbuka, terus terang, tidak birokratis dan tidak munafik. Hal itulah yang membuat rakyat Jakarta bersimpati padanya”.

Tentang Mohammad Natsir yang ditemui saat Bang Ali menunaikan ibadah haji tahun 1974, Gubernur Jakarta itu menuturkan :

“Satu kegembiraan lainnya adalah bahwa dalam kesempatan ini  saya bertemu dengan Pak Natsir di Makkah. Kalau tak salah, ini kesempatan yang pertama saya bicara agak panjang dengannya. Satu kali lagi perjumpaan dengannya di rumah seniman Ajip Rosidi, waktu disana ada suatu selamatan, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Perasaan tidak suka yang pernah hinggap pada diri saya terhadap Pak Natsir karena beliau melawan Bung Karno, hilang lenyap dengan pertemuan kami di Makkah itu. Ini terasa hikmah buat saya, dan seterusnya saya merasakan bahwa orang macam beliau ini adalah pejuang yang mementingkan rakyat banyak, agama dan juga konsisten!”

Bang Ali dikenal sebagai Gubernur yang keras dan tegas. Buya Hamka dan Pak Natsir pun dikenal sebagai tokoh yang keras dan teguh memegang prinsip perjuangan. Akan tetapi, betapapun tajamnya perbedaan pandangan di antara mereka, ketiga tokoh ini tidak pernah menutup pintu dialog.

Mereka para tokoh itu melakukan dialog secara dewasa dan cerdas, sehingga mampu menemukan solusi terbaik yang manusiawi dan bermartabat untuk pembangunan Daerah Ibukota Jakarta.

Pada 5 Mei 1980, Bang Ali dan Pak Natsir sama-sama menandatangani Pernyataan Sikap Keprihatinan, mengeritik dua pidato Presiden Soeharto yang mengindentikan dirinya dengan Pancasila. Akibatnya, bertahun-tahun setelah itu, Bang Ali, Pak Natsir dan seluruh Penandatanganan Petisi Keprihatinan yang berjumlah 50 orang  (Petisi 50), dibunuh hak-hak sipilnya oleh rezim Orde Baru.

Hubungan persahabatan yang akrab antara Bang Ali, Buya Hamka dan Pak Natsir berlangsung hangat, sampai ketiganya kembali ke rahmatullah. | sumber : Lukman Hakiem, “Merawat Indonesia hal 170-172, Penerbit, Pustaka Alkautsar 2017 |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini