telusur.co.id | Catatan Sejarah Kang Lukman “Sjafruddin Prawiranegara dan Emas 29 Kilogram” |┬áLukman Hakiem,┬áPeminat Sejarah | Jakarta, 14 Desember 2017

Tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti Korupsi. Untuk membangkitkan semangat anti korupsi, sejak 9 Desember 2014, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengangkat jargon “Berani Jujur Hebat” sebagai semboyan.

Kisah Nyata
Kisah nyata yang dikutip dari buku Ajip Rosidi, “Sjafruddin Prawiranegara Lebih Takut kepada Allah SWT”, Jakarta, Pustaka Jaya, 2011, halaman 341-344, semoga mengilhami kita untuk bersikap jujur, anti korupsi.

Berikut ini kisah nyata yang ditulis oleh Ajip Rosidi: “…. pada tanggal 17 Agustus 1961, Presiden Sukarno menetapkan dan mengundangkan Keputusan Presiden Nomor 449/1961 yang memberi amnesti dan abolisi kepada semua orang yang terlibat dalam PRRI/Permesta….”

Pada hari itu juga, sebagai Presiden Republik Persatuan Indonesia (RPI), Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989) mengeluarkan instruksi “supaya semua petugas dan pejuang Republik Persatuan Indonesia menghentikan segala tindakan dan perlawanan kepada pemerintah Republik Indonesia.”

BACA JUGA :  Kepentingan Rakyat Dalam Pemikiran Ekonomi Mr. Sjafruddin Prawiranegara

Sjafruddin sendiri bersama-sama dengan mantan Perdana Menteri Mr. Boerhanoeddin Harahap (1917-1987) dan mantan Pejabat Presiden Mr. Assaat turun di Pinarik, Tapanuli Selatan, lalu dijemput dengan jip dan bis ke Padang Sidempuan.

Beberapa hari setelah Sjafruddin dan keluarga tiba di Padang Sidempuan, mereka didatangi utusan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal A.H. Nasution, yaitu adik Sjafruddin sendiri Kolonel Abdurrahman Prawirakusumah. Kepada adiknya, Sjafruddin melaporkan bahwa RPI masih mempunyai sejumlah emas, berupa batangan dan uang emas yang ditinggalkan di sekitar Koto Tinggi, dipendam baik-baik. Hanya Sjafruddin dan seorang stafnya yang mengetahui persis di mana emas itu ditimbun.

Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) itu, ingin agar emas tersebut selekas mungkin digali untuk diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. Jumlah semuanya ada 29 kilogram.

Diserahkan kepada Djuanda
Tempat penyimpanan emas itu kemudian digali, dan betul, terdapat 29 kilogram emas. Secara resmi “harta karun” PRRI/RPI itu kemudian diserahkan Sjafruddin kepada Pejabat Presiden Ir. H. Djuanda pada bulan Maret 1962, yang kemudian oleh Djuanda diteruskan kepada Menteri/Gubernur Bank Indonesia Sumarno, S.H., sebagai kekayaan negara.

BACA JUGA :  Posisi Syariat Islam di Dalam Pancasila

Sesudah menyerahkan 29 kilogram emas kepada pemerintah, pada permulaan tahun 1962, Sjafruddin dan kawan-kawannya dibawa dari Padang Sidempuan ke Jakarta, dan dari sana dibawa ke Cipayung, Bogor. Mereka tidak boleh meninggalkan kota kecil itu tanpa izin dari perwira yang bertugas mengawasi mereka.

Hanya orang yang jujur sajalah yang dengan hebat, tidak mempedulikan emas 29 kilogram, dan dengan berani menyerahkannya kepada pemerintah yang dia tahu pasti akan memenjarakannya.

Kader Partai Masyumi dan orang Indonesia pettama yang menjabat Gubernur Bank Indonesia itu telah memberi teladan berharga kepada kita. Pertanyaannya, maukah kita meneladani Sjafruddin? | priyono/LH |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini