Telusur.co.id| Gaza, Palestina |Serangan udara Israel di Gaza telah menewaskan dua warga Palestina, kata beberapa pejabat keamanan setempat.

Serangan udara tersebut menabrak basis sayap militer Hamas di Nusseirat di Jalur Gaza tengah.

Pejabat keamanan Palestina di wilayah tersebut mengatakan dua orang telah tewas dalam serangan tersebut.

Itu terjadi di tengah demonstrasi di wilayah Palestina setelah Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Dua orang Palestina ditembak mati oleh tentara Israel dalam bentrokan sebelumnya pada hari Sabtu pagi.

Mereka bernama Abdullah al-Atal 28  tahun dan Mohammed al-Safdi 30 tahun,dikutip dari pernyataan kementerian kesehatan Hamas.

Mereka mengatakan mayat kedua pria tersebut ditemukan beberapa jam setelah demonstrasi yang dilakukan menjelang fajar, di Nusseirat, Gaza tengah.

Hamas telah mengkonfirmasi bahwa mereka yang tewas adalah anggotanya.

Ini menyusul tiga serangan roket pada hari Jumat dari Gaza ke Israel selatan.

Sebuah pernyataan dari pihak Israel mengatakan “Hari ini … sebagai tanggapan terhadap roket yang ditembakkan ke wilayah Israel selatan sepanjang hari kemarin, pesawat udara udara Israel menargetkan empat fasilitas milik organisasi teroris Hamas di Jalur Gaza.”

BACA JUGA :  Presiden Macron Sesalkan Keputusan Trump Soal Yerusalem

Sasarannya adalah dua lokasi pembuatan senjata, gudang senjata, dan sebuah kompleks militer.

Kekerasan  meletus setelah Presiden AS Donald Trump akan memindahkan kedutaanya dari Tel Aviv ke Jerusalem sebagai wujud pengakuan AS bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel.

Presiden Iran Mahmoud Abbas menolak bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence saat berkunjung ke wilayah tersebut akhir bulan ini.

Semalam pada hari Jumat, Israel menanggapi tiga roket yang ditembakkan dari Gaza dengan serangan udara yang dikatakannya menargetkan sebuah kompleks pelatihan dan gudang amunisi Hamas.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan 25 orang terluka dalam serangan tersebut, enam di antaranya adalah anak-anak.

Mahmoud al Masri 30 tahun dan Maher Atallah 54 tahun tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan Israel.

Orang ketiga berada dalam kondisi “sangat kritis” setelah ditembak di kepala.

BACA JUGA :  Palestina Setuju Pemilu Dilakukan Pada 2018

Warga Palestina telah mengumumkan hari Jumat sebagai “hari kemarahan”, dengan melakukan demonstrasi di kota-kota termasuk Yerusalem, Ramallah dan Khan Younis di Gaza, tempat Mahmoud al Masri terbunuh dan setidaknya 40 lainnya terluka.

Keputusan Trump telah menuai kecaman dari seluruh dunia, tidak terkecuali para pemimpin eropa termasuk Theresa May, Recep Tayyip Erdogan dari Turki dan Vladimir Putin dari Rusia.

PBB pada hari Jumat, telah menyatakan keprihatinanya terhadap langkah yang di ambil oleh AS dan menilai langkah tersebut tidak tepat.

Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft mengatakan bahwa “langkah tersebut tidak membantu untuk mencapai perdamaian”, sementara Italia Sebastiano Cardi menyuarakan kekhawatiran akan “risiko meningkatnya kerusuhan dan ketegangan di wilayah tersebut”.

Sebagai tanggapan, duta besar AS Nikki Haley mengatakan bahwa Washington telah berkomitmen untuk perdamaian lebih “daripada sebelumnya dan kami yakin kita mungkin lebih dekat dengan tujuan itu daripada sebelumnya”. | Deandra /skynews |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini