telusur.co.id | Sydney | Dalam sebuah proyek yang mereka harap bisa memulihkan ekosistem yang rusak di seluruh dunia, karang yang dibiakkan di salah satu bagian Great Barrier Reef Australia berhasil dipindahkan ke daerah lain, kata ilmuwan Australia, pada hari minggu (26/11).

Dalam sebuah percobaan di terumbu karang Pulau Heron, di lepas pantai Queensland, para periset mengumpulkan sejumlah besar bibit dan telur karang akhir tahun lalu, menanamnya menjadi larva dan kemudian mentransplantasikannya ke daerah-daerah terumbu karang yang rusak.

Ketika mereka kembali delapan bulan kemudian, mereka menemukan karang remaja yang bertahan dan tumbuh, dibantu oleh tangki mesh bawah laut.

“Keberhasilan penelitian baru ini tidak hanya berlaku untuk Great Barrier Reef namun memiliki potensi signifikansi global,” kata pemimpin peneliti Peter Harrison dari Southern Cross University.

BACA JUGA :  Luhut Binsar dan Bos IMF Ajak Masyarakat Dunia Investasi Terumbu Karang di Indonesia

“Ini menunjukkan bahwa kita dapat mulai memulihkan dan memperbaiki populasi karang yang rusak dimana persediaan alami larva karang telah dikompromikan.”

Harrison mengatakan bahwa pendekatan larva-restorasinya yang kontras dengan metode “coral gardening” saat ini untuk memisahkan karang sehat dan menyandarkan cabang yang sehat di terumbu dengan harapan mereka akan tumbuh kembali, atau menanam karang di pembibitan sebelum transplantasi.

Dia optimistis pendekatannya, yang sebelumnya berhasil diujicobakan di Filipina di daerah terumbu yang sangat terdegradasi oleh penangkapan ikan secara blast, dapat membantu terumbu pulih dalam skala yang lebih besar.

“Hasilnya sangat menjanjikan dan penelitian kami menunjukkan bahwa penambahan kepadatan karang yang lebih tinggi menyebabkan jumlah karang karang yang berhasil dijumlahkan lebih tinggi,” tambahnya.

BACA JUGA :  Luhut Binsar dan Bos IMF Ajak Masyarakat Dunia Investasi Terumbu Karang di Indonesia

The Great Barrier Reef, struktur hidup terbesar di Bumi, terhuyung-huyung dari tahun lalu yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat pemutihan karang karena suhu laut yang menghangat yang terkait dengan perubahan iklim.

David Wachenfeld, kepala ilmuwan Otoritas Taman Laut Great Barrier Reef, badan pemerintah yang mengelola kawasan tersebut, mengatakan bahwa ada kebutuhan untuk upaya semacam itu di tengah percepatan dampak perubahan iklim.

“Keberhasilan percobaan pertama ini sangat menggembirakan – tantangan selanjutnya adalah membangun ini menjadi teknologi skala yang lebih luas yang akan membuat perbedaan bagi terumbu karang secara keseluruhan,” kata Wachenfeld.
|red-11/Japan Times|

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini