telusur.co.id| Istanbul | Kabar tentang niat Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel mendominasi pembicaraan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Raja Abdullah II dari Yordania. Dalam pernyataan ke media di istana presiden, kedua pemimpin tersebut menyuarakan keprihatinan.

“Jika salah mengambil langkah mengenai status Yerusalem, ini akan menjadi awal kemarahan umat Islam,” kata Erdogan, seraya menambahkan bahwa pihaknya akan menjebatani perdamaian, sehubungan dengan ketegangan dan bentrokan yang baru-baru ini terjadi.

Abdullah, yang menggarisbawahi peran Jordan sebagai penjaga situs Muslim dan Kristen di Yerusalem, mengatakan bahwa dia telah berbicara  dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan telah mengemukakan keprihatinannya. Raja mengatakan bahwa Palestina tetap menjadi isu utama di kawasan ini dan ketegangan saat ini atas Yerusalem menegaskan kembali kebutuhan akan sebuah penyelesaian perdamaian.

BACA JUGA :  Gus Yahya Ke Israel, Ma'ruf Amin: Kami Tidak Mendukung

“Sangat penting sekarang untuk bekerja dengan cepat untuk mencapai solusi status akhir dan kesepakatan damai antara orang-orang Palestina dan Israel, dan ini harus memungkinkan orang-orang Palestina untuk mendirikan negara mandiri mereka dan hidup berdampingan dengan Israel dan ibukotanya di Yerusalem Timur,” Abdullah berkata. “Mengabaikan orang-orang Palestina dan hak-hak Kristen di Yerusalem hanya akan mendorong ekstremisme lebih jauh.”

Abdullah mendukung seruan Presiden Turki untuk sebuah pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam, OKI, di Istanbul pada hari Rabu depan. Turki saat ini memimpin kelompok 57 negara Muslim.

BACA JUGA :  Pasca Klaim Trump, Presiden Palestina Minta PBB Ambil Alih

“Saya ingin membuat panggilan berikut ke seluruh dunia dari sini: Setiap langkah untuk mengubah status hukum Yerusalem harus dihindari,” kata Erdogan. “Langkah seperti itu hanya akan berjalan ke tangan organisasi teroris.”

Erdogan telah berbicara kepada para pemimpin Muslim untuk melobi terhadap tindakan apapun oleh Washington untuk mengubah status Yerusalem.

Upaya presiden Turki diperkirakan akan meningkat menjelang pertemuan pemimpin negara-negara Muslim pekan depan di Istanbul. | Deandra / VOA |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini