Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka)/Foto : Net

telusur.co.id | Jakarta | Catatan Redaksi | Kenangan H.M. Yunan Nasution (1913 – 1996)  mengisahkan dalam bukunya, “ Kenang-kenangan dari Penjara Rezim Orde Lama”. Buku ini ditulis dari bilik penjara rezim orde lama.

Yunan Nasution  yang biasa dipanggil dengan Pak Yunan oleh rekan-rekannya, adalah Sekretaris Jenderal Partai Politik Islam Masyumi itu “dijemput” di rumahnya di bilangan Cipinang Cempedak, Polonia Jakarta Timur, oleh Polisi Militer yang dipimpin seorang perwira berpangkat Kapten, menjelang Subuh, Rabu, 16 Januari 1962.

Perwira berpangkat Kapten tadi menyerahkan sepucuk surat perintah dari Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) untuk menangkapnya. Yunan paham apa yang sedang menimpa dirinya, dan bergegas mempersiapkan pakaian sekedarnya, peralatan mandi, Kitab Suci Al Qur’an dan beberapa buku.Menjelang dibawa Polisi Militer tadi, Isteri Yunan bertanya :” Mau dibawa kemana suami saya ini”. Sang Kapten menjawab , “ Ke Mess CPM (Corp Polisi Militer) di Jalan Hayam Wuruk”.

Bersamaan dengan itu, Yunan berbisik kepada isterinya agar memberi tahu peristiwa ini kepada teman-teman dekatnya, antara lain Ketua Umum Msyumi Prawoto Mangkusasmito dan Wakil Ketua Masyumi Mr. Mochammad Roem.

Penangkapan Politis
Setiba di Mess CPM, perwira penjemput mempersilahkan Yunan untuk beristirahat sembari berkata : “Di sebelah kamar Bapak, sudah ada Pak Subadio Sastrosatomo”. Subadio adalah tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI). Pahamlah Yunan bahwa penagkapan dan penahan ini berlatar belakang politis.

Sesudah mandi dan shalat subuh, Yunan duduk di depan kamar tahanannya,  di beranda salah satu kamar terlihat mantan Menteri Dalam Negeri Mohammad Roem. Tidak jauh dari kamar sebelah tadi,terlihat juga Ketua Umum PSI dan mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Kemudian, keluar pula dari salah satu kamar,teman satu partainya-Masyumi yaitu mantan Wakil Perdana Menteri Prawoto Mangkusasmito. Menjelang siang, terlihat datang sebuah mobil, dan dari mobil itu turun bekas Menteri Luar Negeri Anak Agung Gde Agung.

Setelah melihat wajah-wajah yang muncul yang berada ditahanan tersebut,, Yunan semakin yakin bahwa penangkapannya ini politis dengan sasaran para tokoh Masyumi dan PSI. Beberapa hari kemudian masuk pegwai tinggi Bank Indonesia Ir. Ondang dan tokoh Masyumi yang sangat anti komunis, KH.Isa Anshary.

Hampir empat bulan di Mess CPM, pada tanggal 7 April 1962, Yunan dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Budi Utomo, Jakarta. Di RTM ini Yunan ditahan selama delapan bulan.

HAMKA : “LAIN KALI SAJALAH”.
Di RTM ini ada semacam aula yang cukup besar, acapkali dijadikan tempat kegiatan keagamaan. Tempat ini juga dijadikan masjid untuk shalat berjamaah, terutama Maghrib, Isya dan Subuh. Shalat jumat juga dilaksanakan di tempat itu. Sedangkan untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha serta peringatan hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi, Isra Miraj dilaksanakan di lapangan tenis dengan pebceramah, imam dan khatib biasanya dari Pusat Rohani (Pusroh) TNI AD.

Peringatan maulid nabi pada tahun 1962, Pusroh TNI AD mengirim mubaligh yang sudah dikenal oleh Yunan, yaitu HAMKA. TNI AD meminta HAMKA untuk menjadi mubaligh dalam peringatan Maulid Nabi di RTM, tanpa berfikir dua kali,HAMKA langsung bersedia. “Malah pucuk dicnta ulam tiba”. Ujar HAMKA dalam hati.

Dalam maulid nabi di RTM itu, HAMKA bercerita tentang perjuangan Ibnu Taimiyah yang terpaksa meringkuk dalam penjara selama lebih dari tujuh tahun karena mempertahankan cita-cita dan keyakinannya. Di dalam penjara Ibnu Taimiyah menuangkan pikirannya dan setelah bebas dari penjara, terbitlah buku-bukunya yang ditulis selama masa uzlah itu.

Setalah selesai ceramah, Yunan dan kawan kawan penghuni RTM menghantar HAMKA sampai ke depan pintu bui. Secara berkelakar Yunan berkata kepada HAMKA,sahabatnya itu “ Bermalam di sini sajalah, Bung HAMKA”. HAMKA pun menjawab sembari tersenyum,”Lain kali sajalah”.  Tanpa terpikir dan dinyana oleh HAMKA, setahun kemudian diapun ditangkap dan ditahan oleh rezim Sukarno dengan tuduhan berdasarkan fitnah. HAMKA ditahan selama hampir tiga tahun.

Riwayat Ibnu Taimiyah yang diceritakan HAMKA dalam ceramah di RTM, ternyata dialaminya juga. Di penjara inilah dalam rezim Sukarno, HAMKA menulis karya monumentalnya : Tafsir Al Azhar.

Sutan Sjahrir Wafat
22 Desember 1962, Yunan dipindahkan dari RTM ke penjara Madiun menyusul Sutan Sjahrir, Roem,Prawoto dan lain lain yang lebih dulu berada di Madiun.

Dari Wisma Wilis di Madiun, Yunan dipindahkan  ke RTM dan kemudian dipindah lagi ke Wisma Keagungan di Jalan Gajah Mada Jakarta.

Di wisma Keagungan inilah, penyakit yang diidap Sutan Sjahrir semakin parah dan dibawa ke Zurich, SWISS untuk diobati. Pada 16 April 1966, perintis dan pejuang kemerdekaan yang dipenjara oleh rezim Sukarno, wafat.

Mengenang wafatnya Sjahrir, Yunan Menulis, “ Tuhan telah memperlihatkan keadilan dan kerahiman Nya dengan memanggil arwah almarhum pada hari kebangkitan orde baru, pada saat kekuatan PKI telah dihancurkan, sehingga almarhum meninggal sebagai pahlawan nasional dan dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

“ Bayangkan apa yang terjadi seandainya beliau wafat di zaman PKI masih berpengaruh dan menguasai pemerintahan dengan Orde Lamanya yang memandang pejuang sebagai “kontra revolusioner”.

Tumbuh Kembangnya Diktator
Yunan menjalani penahanan dari 16 Januari 1962 hingga 17 Mei 1966, penangkapan itu sangat politis dan tanpa didasari dengan alasan hukum yang kuat, namun itu memiliki hubungan dan kaitan dengan pertumbuhan sistem diktator di Indonesia yang berkembang jauh, pengaruh PKI dalam sistem kediktatoran ini sangat terasa. Betapapun demikian ”peristiwa itu hendaknya ditelaah dengan scoupe yang lebih luas dan tidak sewajarnya menimbulkan perasaan dendam dan lain-lain yang serupa itu”.

Seorang negarawan berjiwa besar seperti M. Yunan Nasution bisa menjadi tauladan . Tidak ada sedikitpun menaruh dendam terhadap rezimpenguasa yang telah menzaliminya. | Sumber : Lukman Hakiem “Merawat Indonesia”, Penerbit, Pustaka Al-Kautsar 2017 |

 

 

 

 

 

 

 

 

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini