telusur.co.id | Jakarta | Meski sempat mendapat aksi penghadangan dan fitnah dari sekelompok kecil massa yang berjumlah puluhan orang di Hotel Aston Bali,kegiatan ceramah Ustad Abdul Somad berlangsung lancar pada Jumat (8/12/2017) lalu. Safari Dakwah Ustad Abdul Somad di Pulau Dewata ini telah berlangsung sukses yang dipadati ribuan jamaah.

Terkait beredarnya penolakan dan fitnah dari segelintir orang yang mengatasnamakan rakyat Bali, kini beredar luas di jejaring sosial klarifikasi yang diyakini berasal dari Ustadz kondang asal Riau ini.

Dalam klarifikasinya ustadz yang memiliki gaya komunikasi khas melayu ini menyebutkan pada Kamis (712) lalu, dirinya mendapat berita di group WA, bahwa KRB menetapkan syarat bahwa saya diterima di Bali jika mau berikrar di Rumah Kebangsaan.

“Saya menolak karena, aaya bukan pemberontak, saya tidak terdaftar di ormas terlarang, saya mendapat beasiswa Mesir-Indonesia tahun 1998 setelah lulus Pancasila dan P4. Saya lulus tes PNS 2008 karena bukan anti Pancasila,” ujar Abdul Somad seraya menegaskan dirinya sampai sekarang mengajarkan cinta kebangsaan dari kampus sampai desa terpencil.

Lalu pada hari itu juga sekitar jam 22.15 WIB Ustadz Abdul Somad mengaku langsung mengirim pesan WA kepada pak Nadlah yang berbunyi, “Pak, kalau mereka tetap meminta saya ikrar kebangsaan. Saya tidak hadir,” yang kemudian dibalas Pak Nadhlah yang menulis, “Kita masih dialog dengan Polda”.

Untuk diketahui, pak Ustad Nadlah Arif adalah Ketua Panitia yang mengundang Ustadz Abdul Somad yang juga sekaligus Takmir Masjid Baiturrahman, Wanasari, Kampung Jawa di Denpasar Bali.

Kemudian lanjut Ustadz Abdul Somad, pada Jumat (8/12) dini hari pukul 00.15 dirinya kembali mengirim pesan WA kepada pak Nadlah “Bagaimana pak, sudah ada keputusan?” ujarnya.

“Jam 04:17 WA pak Nadlah masuk, kami koordinasikan ke berbagai pihak, tafadh-dhol ustad untuk berangkat…” jelas Abdul Somad seraya mengatakan yang difahaminya dari WA ini, bahwa masalah clear.

Karena itu pada Jumat, jam 13.00 Ustad Abdul Somad dan rombongan sudah tiba di Airport Denpasar Bali, menunggu pak Nadlah menjemputnya. “Kami dibawa ke hotel Aston. Makan dan istirahat,” terang Abdul Somad.

BACA JUGA :  Muntahkan Awan Panas

Masih di hari Jumat pada jam 16:00 Dai Muda ini kemudian dibangunkan, ustadz Abdul Somad mengaku dirinya curiga akan disidang. Karenanya dirinya segera meminta timny untuk membeli tiket kembali pulang.

“Kita pulang, karena ini di luar kesepakatan. Kelihatannya kita dijebak,” ujarnya saat itu seraya menceritakan dirinya kemudian dibawa ke salah satu ruang di hotel Aston, disana sudah menunggu sekitar 10-15 orang yang memintanya untuk berikrar.

“Saya klarifikasi bahwa semua yang dituduhkan ke diri saya adalah fitnah. Karena saya menolak berikrar mereka melontarkan kata-kata tidak layak, ngeles!, seperti PKI, Panitia mendatangkan ustad otak SD, pulangkan saja, dan lain-lain,” ungkap Abdul Somad

Karena itu Abdul Somad dalam klarifikasinya mengaku lebih memilih pulang dan kembali ke kamar hotel, bersiap-siap ke airport untuk pulang.

Namun seperti tertulis dalam klarifikasinya, sekitar pukul 17:00 Ketua PW NU Bali yang dari awal mendampingi, menangis memikirkan apa yang akan terjadi kalau dirinya pulang.

Dari pihak Aston menyampaikan bahwa situasi tidak terkendali, hotel tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seorang bapak polisi masuk menyampaikan ada jalan belakang hotel menuju mobil, jika ingin meninggalkan hotel karena pintu depan tidak terkendali. Kapolres dan Dandim masuk. Meminta agar mempertimbangkan, selamatkan ummat. Di masjid an-Nur ada 5000an jamaah yang siap datang ke Aston. Di Aston memanas. Suasana mencekam, seperti ditulis Abdul Somad dalam klarifikasinya.

“Sekitar jam 18:00, Bismillah. Saya dan semua yang ada di kamar menuju ruangan mediasi awal. Pak Kapolres memberikan sambutan singkat. Gus Yadi membawa bendera, dicium semua yang ada di ruangan. Keluar ruangan menuju loby hotel. Pengunjuk rasa bergemuruh,” ungkapnya.

Dengan pengawalan ketat, pengunjuk rasa tetap berteriak: “nyanyikan dari hati. Jangan di mulut saja!”. Usai menyanyikan Indonesia Raya kembali ke kamar dan saat bersalaman menurut penuturan Abdul Somad, mereka menarik dan mencengkeram kuat.

BACA JUGA :  Cegah Kader Tersandung Narkoba, PDIP Sebut Miliki MoU Dengan BNN

Lalu selepas Isya, Ustadz Abdul Somad menuju Masjid an-Nur dan berceramah selama lebih kurang 100 menit, rbuan jamaah pun antusias. Saat kembali ke hotel, TvOne minta livecall jam 22.00 Wib. “Saya sampaikan untuk menenangkan Netizen yang heboh, saya dalam keadaan aman. Sudah tabligh akbar. Sudah di hotel,” ujarnya.

Keesokan harinya kajian shubuh, Sabtu (9/12) di masjid Baiturrahmah juga berjalan lancar. “Sehari penuh istirahat dan menyambut tamu-tamu dan jamaah di hotel. Menjelang maghrib hadir PW NU, Muhammadiyah, MUI Bali, GNPF dan lain-lain,” ungkap Abdul Somad seraya mengatakan saat ba’da Isya dirinya kemudian kembali ke Masjid Baiturrahmah tabligh Akbar terakhir.

Saat Ahad (10/12) selepas shalat shubuh Ustadz Abdul Somad dan timnya menuju airport didampingi MUI, GNPF, dan pihak Kepolisian. “Mereka masih memunculkan berita-berita di Medsos, bahwa saya menolak ikrar karena benar anti NKRI,” ujarnya.

Jamaah menurutnya tersakiti, karena mereka menuduh tidak berani pulang karena sudah termakan honor. “Saya sampaikan ini fitnah. Semua honor di Bali sudah saya kembalikan ke pak Nadlah. Kami orang Riau walau tidak kaya masih tumbuh sebatang dua batang pokok sawit yang menghantarkan kami ke Cairo thn 1998 saat 1 Dolar Rp.20.000.- karena ongkos dibebankan ke siswa,” tegasnya.

Karena itu Ustadz Abdul Somad berharap, perlu diambil tindakan hukum terhadap mereka yang sudah merusak kebinekaan yang terjaga di Bali selama ini. Hadirnya Raja Bali DR.Ida Cokorde Pemecutan XI dan beberapa tokoh Hindu pada tabligh akbar tadi malam membuktikan bahwa para provokator ini tidak mewakili rakyat Bali.

“Muslim Bali agar membentuk Aliansi Muslim Bali untuk menjaga interen dan eksteren, tetap menjaga kerukunan dengan saudara Hindu Bali dan untuk mengantisipasi para provokator yang dapat merusak kerukunan di masa akan datang. NKRI Harga Mati,” pungkasnya | priyono |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini