telusur.co.id | “Kesadaran Untuk Memelihara Persatuan dan Kesatuan Bangsa serta Memahami ke-Bhineka-an Seorang Ustadz” | Kolom DR. Maiyasyak Johan, Advokat Senior | Jakarta 10 Desember 2017

Pemerintah, Parlemen dan Partai-Partai Politik sepertinya kehilangan orientasi untuk menjaga maupun memelihara “Persatuan” dan “kesatuan” Bangsa, dalam menyikapi serta membaca Aksi Bela Islam. Faktanya, selain hanya mampu membuat aksi tandingan yang ternyata gagal dan melanggar aturan, juga aksinya hanya mampu membuat jargon “Aku Indonesia”, “Aku Pancasila” tanpa makna dan hanya pemborosan.

Aksi para “penguasa” ini, juga hanya mampu sekedar melakukan tindakan represif terhadap ulama dan para aktivis. Bahkan, tidak menegakkan hukum serta cenderung membiarkan terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak konstitusional ulama dan umat islam, dengan potensi konflik horizontal dan berbagai tudingan yang menyakitkan umat islam yang disebut sebagai “intoleran” dan lain sebagainya.

Kini dari kalangan umat Islam tiba-tiba muncul seorang ulama, seorang Ustadz yang meng-ingatkan Pemerintah, Parlemen dan Partai-Partai Politik serta semua anak bangsa tentang Persatuan dan Kesatuan Bangsa serta Ke-Bhinekaan dalam perspektif yang jujur dan pilihan kata yang terang dan jelas.

Ulama Islam itu adalah Ustadz Abdul Somad, Lc, M.A., yang dengan cerdas di dalam salah satu ceramahnya mengatakan, “Kita memang bukan dipersaudarakan oleh akidah, tetapi kita dipersaudarakan oleh sejarah dan nilai kebangsaan…..”.

Tiga Catatan Penting Merawat Persatuan dan Kebhinekaan
Saya yakin sulit orang untuk menolak kebenaran yang dikandung dalam pernyataan cerdas Ustadz Abdul Somad di atas. Setidaknya, ada 3 (tiga) fakta penting yang strategis dan mendasar dari akidah Islam dalam merajut, memelihara dan menjaga “Persatuan”, “Kesatuan” dan “Kebhinekaan” kita sebagai sebuah bangsa yang selama ini tidak pernah dibuka secara substansial.

Pertama, akidah Islam memang merupakan faktor yang membuat kita berbeda. Dengan begitu cukup jelas, bukan suku atau etnis yang dominan membuat kita berbeda seperti yang sering ditonjolkan selama ini. Namun, akidah islam yang menjadi pembeda itu, juga menyatakan bahwa mayoritas kaum pribumi Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan etnis itu dipersaudarakan oleh akidah Islam. Karena itu, bangunan kebangsaan Indonesia sekalipun tidak seluruhnya dirajut oleh akidah Islam, tapi sebahagian besar akidah islam mendasarinya dan mempermudah terbentuknya.

Sebab, Akidah islam itu telah mempersatukan berbagai etnis dan suku pribumi di berbagai tempat di seluruh kepulauan Nusantara. Jauh sebelum ikrar “Persatuan dan kebangsaan” digulirkan, bahkan jauh sebelum Indonesia ada, telah terajut tali persaudaraan antar suku dan etnis warga negara-negara Islam untuk memerangi penjajah Belanda dan orang asing lainnya.

BACA JUGA :  Catatan Pedih Ketua DPR Dari Surabaya: Teroris Libatkan anak-anak Tak Berdosa

Kedua, prinsip hidup bersama dan berdampingan di dalam masyarakat plural yang di atur dan ditentukan dalam al-qur’an, yaitu La Ikroha Fiddin, tidak ada paksaan dalam agama (Qur’an Surah Albaqarah 256). Ketentuan ini menunjukkan Karakteristik Islam sebagai pembebas dan tidak pernah memaksa, apalagi menindas suku dan agama lain untuk menjadi Islam.

Hidup berdampingan dan saling menghormati di atas bangunan hukum yang memelihara hak dan kewajiban bersama, adalah merupakan contoh yang ditunjukkan dalam keteladanan Kepemimpinan Rasulullah ketika menjadi Penguasa di Madinah. Dimana kaum Yahudi yang mengkhianati perjanjian (konstitusi bersama), dihukum berdasarkan hukum yang termaktub di dalam Taurat dan peradilannya dipimpin oleh anggota kaumnya yang jujur.

Demikian juga, Ketika Khalid bin Walid di bawah perintah Khalifah Umar bin Khatthab membebaskan Al-Quds (Jerusalem) pertama sekali. Tidak ada Gereja dan Sinagog yang dirusak, tak ada Pendeta Nasrani atau Rabi Yahudi disakiti, semua dilindungi dan dijamin menjalankan ibadah menurut agamanya. Begitu juga ketika Shalahuddin Al-Ayubi membebaskan Al-Quds untuk kedua kalinya. Bahkan, hingga masa Khilafah Islamiyah Ottoman Turki, tak ada satu pun penindasan terhadap kaum Nasrani dan Yahudi terjadi – semua dilindungi dan dijamin.

Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan, satu-satunya agama dalam sejarah di muka bumi ini yang tidak pernah membangun koloni dan menjajah negara dan suku bangsa lain, dalam kedudukannya sebagai penguasa adalah Penguasa Islam. Demikian juga di Indonesia, tak pernah ada satu agama pun di luar Islam yang ditindas dan dipaksa agar masuk Islam. Dengan kata lain,Iislam adalah agama yang menerima, mengakui dan menjamin realitas pluralisme sosial, budaya dan agama.

Bahkan Sejarah Indonesia mencatat, ketika rapat telah memutuskan dan menyetujui negara memberikan jaminan filosofis dan konstitusional kepada umat Islam untuk menjalankan syariat dan agamanya – sebagaimana tercantum dalam piagam jakarta – ternyata ada tangan-tangan dan unsur masyarakat non Islam yang berusaha agar jaminan dan perlindungan itu dihapus.

Pertanyaan kita sekarang adalah, (1) umat Islamkah yang tidak siap hidup berdampingan dalam pluralisme kebangsaan di bawah jargon Kebhinekaan atau umat lainnya?, (2) Umat Islamkah yang menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa ini, atau mereka yang mengusir ulama dan membubarkan pengajian? Mari kita jawab sama-sama dua pertanyaan ini dengan jujur, jika kita ingin merawat ke-Indonesiaan dan NKRI.

BACA JUGA :  Perda Syariah: Ada Atau Tidak Ada

Selain La Ikroha Fiddin, dengan begitu jelas umat islam juga berpegang pada surat al-kafirun yang menentukan Lakum Dinukum Waliyadin, untukmu agamamu, untukku agamaku. Umat Islam sangat toleran dan menerima serta menghargai perbedaan yang ada serta siap hidup berdampingan dalam ke-Indonesiaan. Sebab, bagi umat Islam, perbedaan akidah tidak pernah menjadi halangan untuk membangun dan memelihara kehidupan berbangsa.

Secara demikian jelaslah, yang merusak sendi kehidupan kita berbangsa, bukan umat islam.

Ketiga, betapa banyak kata-kata yang menyesatkan selalu diungkapkan tidak saja oleh orang biasa, bahkan oleh tokoh politik sembari mengenyampingkan peranan akidah islam dalam mempersatukan Indonesia dan mengedepankan masalah etnis atau suku. Padahal disemua tempat dan semua bangsa di dunia ini, terdiri dari berbagai macam suku dan yang menyatukan mereka adalah sejarah dan akidahnya, bukan yang lain.

Seperti dijelaskan di atas, akidah Islam bukan saja membuat perbedaan, tetapi juga berperan besar merajut ke-Indonesia pada semua suku/etnis kaum pribumi di kepulauan nusantara.

SBY kini bersaudara dan berkeluarga dengan Marga Pohan dari Sibolga, Sumatera Utara, itu karena akidah Islam. Lalu, Jokowi sekarang bersaudara dan berkeluarga dengan Marga Nasution dan Siregar dari Mandailing dan angkola/Padang Lawas, itu juga terjadi karena akidah Islam. Sofyan Djalil berkeluarga dengan Orang Sunda, Akbar Tanjung dengan Orang Solo, Jusuf Kala dengan orang Minang dan lain sebagainya. Semuanya bertemu karena akidah.

Dengan begitu bisa dikatakan, orang Aceh, Melayu, Batak, Mandailing, Padang Lawas, Angkola, Sibolga, Padang, Bugis, Jawa, Madura, Sunda, Betawi, Banjar, Papua, Maluku, Dayak, Madura, Bima dan lain sebagainya, termasuk dengan orang Arab, India, Pakistan, Tamil dan Cina – lebih banyak bersaudara dan berkeluarga karena akidah.

Karena itu, jangan pernah jadikan etnis dan suku sebagai faktor pembeda. Karena untuk kasus Indonesia, akulturasi terjadi lebih mudah terjadi karena akidah.

Penutup
Mungkin, karena Ustad Abdul Somad bukan politisi, bukan ketua partai, bukan ketua ormas, hanya seorang ulama/Ustadz dan dosen. Maka pemerintah, parlemen dan partai politik serta tokoh-tokoh kritis, kurang memperhatikan atau mengabaikan apa yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Somad tersebut di atas.

Namun bagi saya, pernyataan Ustadz Somad itu adalah sebuah solusi untuk merawat ke-Indonesia-an dan Ke-Bhinekaan kita dengan cara kembali menyadari arti dan makna Kebhinekaan dan kebangsaan tersebut. | disunting red.telusur |

 

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini