telusur.co.id | Pontianak | Pemerintah Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mendukung dibangunnya sarana dan prasarana olahraga berstandar nasional dalam memajukan bidang olahraga di kota itu.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji di Pontianak, Selasa, mengatakan guna memacu atlet berkiprah di tingkat nasional, sarana dan prasarana tersebut minimal juga berstandar nasional untuk capaian prestasi yang diinginkan tersebut.

“Makanya kalau Pontianak membangun sarana atau prasarana olahraga itu tetap acuannya standar nasional, bahkan standar Olimpik untuk beberapa fasilitas olahraga tertentu, supaya cukup sekali dalam membangun fasilitas olahraga tersebut,” kata Sutarmidji saat menghadiri pelantikan Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Pontianak periode 2017-2021.

Menurut dia, salah satu sarana olahraga yang berstandar Olimpik dibangun Pemkot Pontianak adalah kolam renang di Ampera. Hebatnya, kolam renang itu memiliki 10 jalur dan di Kalimantan hanya dimiliki oleh dua daerah yakni Pontianak dan Kutai Kertanegara.

BACA JUGA :  Simulasi Pengamanan Pilkada Serentak 2018 Dipusatkan di Pontianak

Beberapa sarana lainnya di Kota Pontianak adalah gedung gym angkat berat. Gedung bulu tangkis berstandar nasional dengan jumlah empat lapangan juga dimiliki Kota Pontianak.

Kemudian, lapangan futsal yang dibangun Pemkot Pontianak di sejumlah sekolah juga rata-rata memenuhi standar. “Itu yang harus dilakukan kalau kita bicara prestasi nasional, kalau kita bicara prestasi nasional sementara sarana olahraga belum memenuhi standar, percuma juga,” ungkapnya.

Diakuinya, lapangan sepak bola Keboen Sajoek yang dimiliki Pontianak masih belum memenuhi standar, karena ukuran yang dimiliki hanya 70 meter kali 90 meter. Padahal standar minimal yang harus dipenuhi adalah 90 meter kali 110 meter.

BACA JUGA :  Protes, Wali Kota Pontianak Minta Akses Film Kucumbu Tubuh Indahku Ditutup

Kaitan dengan prestasi atlet yang masih belum banyak menunjukkan kiprahnya di tingkat nasional, menurutnya ada beberapa hal yang menjadi penyebab, salah satunya, kurang disiplin. Selain itu, perusahaan-perusahaan yang merekrut para atlet bekerja di perusahaannya, ditempatkan pada posisi yang justru bisa mengganggu kondisi fisiknya sebagai olahragawan, misalnya, atlet direkrut jadi satpam.

“Kalau pun ingin merekrut mereka, rekrut lah mereka untuk posisi supaya dia bisa menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan gizinya selaku atlet. Apalagi atlet yang setelah latihan lalu merokok, karena kalau masih merokok, lebih baik berhenti jadi atlet,” ujarnya.

| Hamdan/ANT |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini