telusur.co.id | Jakarta | Wakil Sekjen DPP PPP, Ahmad Bay Lubis mengatakan persekusi internasional yang menimpa Ustad Abdul Somad (UAS) di Hongkong (HK) masih dipertanyakan publik. Pasalnya, penolakan tanpa dasar dan alasan yang jelas.

“Mungkin karena dugaan yang berbau fitnah, Hongkong “menolak” kedatangan UAS. Ada banyak dugaan dan spekulasi tentang sebab penolakan Hongkong kepada UAS. Dugaan yang paling kuat ialah “ahok effect”,” duganya.

Kata dia, Hongkong tampaknya “ikut-ikutan” menaruh dendam kepada orang-orang yang selama ini dianggap sebagai penyebab kekakalan ahok dalam Pilkada Jakarta setahun lalu. Dendam dan kemarahan itu masih begitu kuat, sampai harus menolak kedatangan UAS tanpa alasan yang jelas. “Hingga hari ini alasan penolakan itu masih nihil dan belum ada konfirmasinya.”

Kejadian yang hampir sama (bahkan lebih parah), juga menimpa Jenderal Gatot Nurmantyo, pada saat ditolak masuk Amerika Serikat (AS), padahal kunjungan itu atas dasar undangan dari pejabat AS kepada Panglima TNI (ketika masih dijabat Gatot).

Dua peristiwa di atas terjadi dalam rentang waktu yang sangat berdekatan, dan sama-sama tak ada konfirmasi maupun klarifikasi yang jelas tentang sebab penolakan tersebut, setidaknya belum ada penjelasan resmi dari pemerintah.

UAS dan Gatot, menurut Bay adalah tokoh yang sangat dekat dengan umat Muslim di Indonesia, terutama UAS. Ustad asal Riau ini bukan hanya dekat, bahkan salah satu ikon dari aksi 212. Ustad ini memegang spirit aksi 212. Aksi damai ummat Muslim Indonesia, sedangkan Jenderal Gatot terkesan parallel dengan aksi tersebut.

Masalahnya adalah, aksi 212 dan aksi-aksi ummat muslim inilah yang menyebabkan kekalahan Ahok pada Pilkada Jakarta itu, sementara Hongkong sudah berharap banyak dan menaruh harapan besar (mungkin sudah sangat yakin) dengan kemenangan Ahok.

Akibatnya, Hongkong kecewa berat, dendam dan marah luar biasa kepada tokoh-tokoh muslim di Indonesia. Hongkong yang selama ini dianggap modern dan demokratis, ternyata belum mampu memahami demokrasi itu sendiri. “Tampak dengan nyata, Hongkong belum bisa menerima kekalahan itu,” sindirnya.

Persekusi lain yang sebelumnya menimpa UAS ialah, persekusi di Bali. Jarak persekusi domestik dan internasional itu tidak begitu jauh, hanya berjarak paling lama 1 bulan sebelumnya. Persekusi di Bali ini tentu saja lebih “kampungan” jika dibanding persekusi Hongkong.

“Di Bali, ada teriak-teriak, ada segerombolan orang beringas, bahkan bawa golok (khabarnya). Yang paling aneh ada tuntutan dari para persekutor agar UAS baca Pancasila, nyanyi lagu kebangsaan, cium bendera kebangsaan,” katanya.

Tuntutan para persekutor ini jelas aneh dan ngawur, sebab UAS itu bukan orang asing di Indonesia. Ia bukan berasal dari China daratan atau China Hongkong. UAS itu orang Indonesia asli. Ia lahir dari orang Indonesia asli, lahir, bersekolah, remaja dan tumbuh besar di Indonesia, punya KTP dan Pasport Indonesia.

Warna kulitnya yang sedikit gelap itu bahkan sama gelapnya dengan kulit orang-orang yang melakukan persekusi itu. Bahkan wajah, warna kulit dan kurus-kurusnya mirip dengan Presiden Jokowi. “Lho jadi kok para persekutor ini nuntut yang aneh-aneh. Para persekutor ini rupa-rupanya masih terobsesi dengan masa kanak-kanak dulu, masih terobsesi dengan jaman old. Romantika saat di SD atau SMP dulu ternyata masih jadi obsesi.”

“Tuntutan yang bersumber dari obsesi seperti ini jelas saja ngawur-ngawuran, apalagi nuntutnya kepada UAS yang nota bene adalah pribumi (indigenous).”

Baginya, kejadian aneh-aneh dan ngawur sebagaimana yang dialami UAS dimaksudkan sebagai “ahok effect”. Bukan tidak mungkin akan terulang lagi pada masa mendatang, terutama menimpa para ulama atau tokoh-tokoh muslim di Indonesia.

Bahwa ternyata, demokrasi yang hari ini diterapkan di Indonesia masih menunjukkan anomalinya dan kecenderungan rusak. Demokrasi yang dipraktekan dalam pemilu dan pemilukada di Indonesia itu ternyata masih galau.

Sekelompok orang yang kalah dalam pemilukada akhirnya membuat jargon-jargon dan secara munafik seakan-akan mencintai jargon tersebut, Padahal sebaliknya. Orang-orang yang terkena “ahok effect” ini terlihat aneh perilakunya dan dengan mudah pula menuduh yang aneh-aneh.

Halusinasi akibat dari “ahok effect” yang menimpa kalangan domestik itu bermacam ragamnya. Namun yang paling mencolok adalah munculnya prilaku sosial sebagian kecil orang yang merasa paling nasionalisme dan tanpa rasa malu menuduh orang lain tidak nasionalis.

“Merasa paling pancasilais, paling indonesianis, paling toleran, dan pada saat yang sama (tanpa rasa malu) menuduh ulama/tokoh muslim dengan tuduhan-tuduhan keji. Tuduhan yang paling keji sering dilontarkan pasa saat ini intoleran, anti pancasila, anti kebhinekaan, dan lain sebagainya,” tandasnya. | red |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini