Ardi Mahmudi SE, MM, Ketua Kajian di Centre For Studies In Islamic Finance Economic And Development (CISFED) | Foto Ist

telusur.co.id | Jakarta | Pakar ekonomi syariah, Ardi Mahmudi SE, MM menyebutkan meski Indonesia merupakan muslim terbesar, namun belum berdaulat untuk menerapkan ekonomi syariah. Hingga ekonomi yang berbasis keadilan dan bebas riba tersebut, menurut Ketua Kajian Centre For Studies In Islamic Finance Economic And Development (CISFED) ini justru lesu laju pertumbuhannya.

“Terbukti industri perbankan syariah sudah berjalan hampir 26 tahun tetapi market share nya hanya tumbuh 5% saja,” Ardi Mahmud, Kamis (21/12) menyampaikan kepada awak telusur.co.id di Jakarta.

Diungkapkan Ardi, berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia yang market share perbankan syariahnya hampir 23%. Di negri jiran ini menurutnya ekonomi syariah tumbuh dikarenakan adanya dorongan dari pemerintah (Goverment Drive) yang masif, seperti intensif pajak, dan mengkonversi bank milik pemerintah menjadi bank syariah.

“Belum lagi kalau melihat secara kualitas dimana produk-produk keuangan syariah hampir sama dengan produk-produk keuangan konvensional, dan banyaknya akad-akad syariah yang belum di aplikasikan secara murni,” ujarnya.

Masih menurut Ardi yang juga akademisi  Perbanas itu, kendala besar lesunya ekonomi syariah juga arena kesadaran umat muslim di Indonesia yang sangat rendah tentang bahaya ekonomi riba.

“Walaupun MUI sudah mengeluarkan fatwa no 1 Tahun 2004 tentang haramnya bunga bank karena termasuk riba,” imbuhnya.

Karena itu menurutnya, ada 4 (empat) solusi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kompetensi dan fokus pada literasi serta penyadaran umat akan pentingnya hijrah dari ekonomi ribawi.

Pertama,  adalah langkah literasi yang masif ke umat muslim baik di masjid2, masuknya kurikulum ilmu ekonomi syariah mulai dari tingkat sekolah dasar. Kedua, harus ada inovasi produk-produk keuangan syariah yang berbeda dari konvensional. Ketiga, peningkatan SDM keuangan syariah yang handal dan menguasai ilmu ekonomi syariah dan ushul fikih, dan keempat adanya saling sinergi antar industri syariah seperti sektor keuangan dan pariwisata.

Dukungan dari pemerintah menurutnya memang dibutuhkan, tetapi jangan menjadikan itu sebagai ketergantungan. Sebab ekonomi syariah harus tumbuh secara alamiah dari kesadaran umat muslim di indonesia.

“Walau demikian, ekonomi syariah bukanlah ekonomi eksklusif hanya untuk umat islam saja tetapi inklusif untuk seluruh umat manusia apapun agamanya,” tegas Ardi.

Ardi juga meyakini, bahwa ekonomi syariah adalah solusi dari krisis ekonomi global yang sudah sangat akut terkena racun ribawi serta pemerataan ekonomi dunia yang timpang dimana saat ini kekayaan dunia hanya dikuasai 2-3% penduduk dunia.

Karena itu dikatakan pakar ekonomi syariah ini, jika melihat jejak sirah nabawiyah saat Rasulullah SAW hijrah membangun peradaban Islam di Madinah, ada dua langkah penting yang dilakukan.

“Pertama membangun Masjid sebagai pusat peribadatan dan simbol spriritual, dan yang kedua adalah menguasai pasar yang saat itu didominasi oleh kaum Yahudi dengan ekonomi ribanya,” pungkas Ardi. | red |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini