telusur.co.id | Badung | Jagat perpolitikan Bali kembali kehilangan salah satu tokohnya. Politikus senior yang terkenal dengan julukan “Akbar Tanjung dari Bali”, I Gusti Ketut Adhiputra berpulang ke pangkuan-Nya dalam usia 73 tahun, Minggu (24/12/2017) malam akibat penyakit diabetes dan komplikasi yang didapnya sejak tahun 2015.

Putra pertama IGK Adhiputra, Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra alias Gus Adhi mengatakan bahwa kondisi kesehatan ayahnya mulai drop usia memutuskan rehat dari jagat politik pada akhir tahun 2014 silam, usai purna tugas sebagai Anggota DPR RI Fraksi Golkar Dapil Bali. Kondisi almarhum akhirnya kian drop pada tahun 2016 silam, bahkan beberapa kali almarhum beberapa keluar-masuk rumah sakit, baik di Bali maupun di Jakarta.

“Udah lama Ajik sakitnya, dari habis rehat dari politik,” katanya saat ditemui di rumah duka, Krobokan, Selasa (26/12/2017).

Dirinya menambahkan bahwa atas nama keluarga pihaknya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali dan para kolega atas kesalahan-kesalahan almarhum, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

“Tidak ada manusia yang sempurna. Saya sebagai putra mewalili keluarga memohon maaf apabila ada kesalahan-kesalahan selama ayah kami mengabdikan diri kepada masyarakat terutama saat bertugas di kejaksaan, DPRD Badung, DPRD Bali, DPR RI,” tandas pria yang juga Anggota Komisi IV DPR RI ini.

BACA JUGA :  ARB Minta Pemerintah Harus Makin Tegas Pada Teroris

Semasa hidupnya, IGK Adhiputra sudah enam periode menjabat sebagai anggota dewam di berbagai tingkatan sejak Pemilu 1977. Adhiputra mengakhiri karir politiknya dengan bertarung dan lolos ke kursi DPR RI Dapil Bali dalam Pileg 2009 lalu, ketika mengantongi 37.079 suara.

Sebelumnya, politikus asli Krobokan ini sudah 5 kali periode menjadi anggota Dewan di Bali. Ia pertama kali menginjakkan kaki di Gedung Dewan pada 1977, ketika menjadi anggota Fraksi Golkar DPRD Badung 1977-1982. Saat itu, Adhiputra yang seorang jaksa dikaryakan oleh Golkar yang pada masa itu masih menganut sistem Jalur ABG (ABRI-Birokrasi-Golkar). Saat itu bahkan, Adhiputra ketika itu langsung dipercaya sebagai Ketua Fraksi Karya Pembangunan DPRD Badung 1977-1982.

Di Pemilu 1982, Adhiputra terpilih kembali dan diamanahi memegang jabatan Wakil Ketua DPRD Badung 1982-1987. Sementara, di Pemilu 1987, Adhiputra terpilih kembali dan didapik sebagai Ketua DPRD Badung 1987-1992. Pada masa ia menjadi Ketua tersebut, lahir Kotamadya Denpasar sebagai pecahan dari Kabupaten Badung.

BACA JUGA :  Pleno Putuskan Idrus Plt. Sementara Ketum Golkar Sampai Ada Putusan Praperadilan Setnov

Menjelang Pemilu 1992, Adhiputra tidak maju kembali di hajatan tersebut. Pasalnya, ia ditarik kembali Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali sebagai Kepala Humas Kejati Bali. Selama 6 tahun, ia diminta memegang jabatan di Kejaksaan itu. Namun, pada masa awal Reformasi di 1998, diminta oleh Golkar untuk terjun mengelola partai tersebut. Hal ini membuat dia memilih menanggalkan jabatan sebagai jaksa. Semenjak itulah dia total mengabdi untuk Golkar, yang sedang babak belur dihujat reformasi. Pada 1998, Adhiputra dapat tanggung jawab sebagai Ketua DPD II Golkar Badung dengan Ketut Sudikerta sebagai Sekretarisnya saat itu.

Adhiputra pun maju lagi tarung ke Pemilu 1999 dan terpilih sebagai anggota DPRD Bali 1999-2004 dan duduk di Komisi B. Pada Pileg 2004, Adhiputra kembali maju tarung dan lolos ke kursi DPRD Bali 2004-2009 hingga meraih jabatan Wakil Ketua Dewan. Pada periode 5 tahun berukutnya (periode ke-6), Adhiputra tarung ke DPR RI Dapil Bali dan lolos ke Senayan. Setelah purna tugas, kiprahnya di DPR RI Dapil Bali diteruskan sang putra sulung, Gus Adhi. | Made Ariawan |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini