Telusur.co.id| Hubungan antara Israel dan Turki telah memburuk setelah para pemimpin mereka saling menghina beberapa hari setelah Presiden Trump memicu kemarahan dunia dengan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang telah memperingatkan konsekuensi keputusan presiden Trump, menyebut Israel sebagai “negara teroris” yang “membunuh anak-anak”.

Erdogan mengatakan: “Kami tidak akan meninggalkan Yerusalem untuk sebuah negara yang membunuh anak-anak”.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, berbicara pada sebuah konferensi pers dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris, membalas dengan memanggil Erdogan seorang pemimpin yang “membom penduduk Kurdi” dan “membantu teroris”.

Sejak tahun lalu, hubungan antara Israel dan Turki mulai membaik dengan Israel setuju untuk membayar kompensasi kepada keluarga sembilan orang Turki yang tewas dalam serangan Israel atas sebuah armada yang menuju ke Gaza pada tahun 2010.

BACA JUGA :  Turki Memenjarakan Keponakan Ulama Yang Dituduh Mendalangi Tawaran Kudeta

Tapi sekarang telah memburuk secara substansial.

Pengumuman kontroversial Trump pada hari Rabu bahwa dia akan merelokasi kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem telah membuat rakyat Palestina marah, sekarang hari-hari di Gaza diisi dengan demonstrasi dan bentrokan.

Liga Arab dan banyak negara Eropa, termasuk Inggris dan Prancis, telah menyatakan ketidaksetujuan atas keputusan Mr Trump.

Macron telah meminta seluruh pihak untuk untuk membuat situasi yang damai di Timur Tengah dan mendesak Netanyahu untuk “menunjukkan keberanian dalam berurusan dengan orang-orang Palestina agar membawa kita keluar dari jalan buntu yang saat ini terjadi”.

Netanyahu memuji keputusan Trump sebagai suatu hal yang “bersejarah” dan dia menjelaskan bahwa Yerusalem “selalu menjadi ibu kota kita dan tidak pernah menjadi ibukota orang lain”.

BACA JUGA :  MUI Akan Dalami Usulan Fahri Hamzah

Sejak pengumuman Presiden, puluhan ribu orang telah berdemonstrasi di negara-negara Muslim dan Arab, termasuk Yordania, Turki, Pakistan dan Malaysia.

Protes lebih lanjut diadakan di Lebanon, Indonesia, Mesir dan wilayah Palestina pada hari Minggu.

Polisi mengatakan seorang pria Palestina menusuk seorang petugas keamanan Israel di stasiun bus utama Yerusalem, meninggalkannya dalam kondisi kritis. Terduga Pelaku kemudian ditahan setelah ditangani oleh orang yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Pasukan keamanan Libanon menembakkan gas air mata dan meriam air ke ratusan demonstran di dekat kedutaan besar AS di Beirut.

Pengunjuk rasa mengibarkan bendera Palestina dan Lebanon dan meneriakkan slogan-slogan anti-Trump. Beberapa orang terluka oleh batu, gas air mata, dan peluru karet. | Deandra /skynews |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini