telusur.co.id | Jakarta | Dari 171 wilayah yang menggelar pilkada di tahun 2018, peta politik di Jawa Barat yang menarik perhatian publik dan media karena tarik menariknya cukup kuat. Diprediksi situasi dan kondisi akan semakin memanas menjelang pengumuman pasangan calon kepala daerah di Jabar.

Analis politik Jakarta, Tengku Zulkifli Usman mengatakan duet Sudrajat dan Syaikhu cukup potensial untuk memenangkan pertarungan. Keyakinan itu karena pasangan yang diusung Gerindra, PKS dan PAN ini Sudrajat “otak kanan” nya Jabar dan Syaikhu adalah “otak kiri” nya.

Berikut wawancara Tengku Zulkifli Usman.

Dengan mendukung Sudrajat, apakah PKS mengkhianati Deddy Mizwar? Tidak ada istilah khianat dalam politik, politik adalah pilihan, seperti Ridwan Kamil yang telah memilih Nasdem dan Deddy Mizwar yang memilih Demokrat, maka hal biasa jika akhirnya PKS memilih Sudrajat untuk dipasangkan dengan kadernya sendiri Ahmad Syaikhu. Terbukti hubungan PKS dan Deddy Mizwar sendiri baik-baik saja pasca batal bersama, kalau Deddy Mizwar sudah legowo, mau apalagi?

Benarkah Sudrajat itu mantan pengurus Nasdem Jawa Barat? Mayjend Sudrajat pernah diajak Surya Paloh untuk bergabung dalam ormas Nasdem bukan Partai Nasdem, karena dulu Surya Paloh pernah berjanji bahwa Nasdem tidak akan menjadi partai politik, makanya Sudrajat mau, begitu Nasdem menjadi partai, Sudrajat keluar dari Nasdem.

Kenapa Ridwan Kamil tidak bersama PKS? Sekali lagi politik adalah pilihan, dan salah memilih akibat minim jam terbang juga pengetahuan, maka itu adalah resiko sendiri, bukankah PKS dan Gerindra yang awalnya memenangkan Ridwan Kamil untuk kursi waliokta bandung, jasa ini seharusnya diingat oleh Ridwan Kamil saat memutuskan menerima ajakan Nasdem yang merupakan partai kecil di Jabar dengan hanya 5 kursi di DPRD nya.

Bagaimana dengan Sudrajat yang tidak tidak populer seperti Deddy Mizwar? Popularitas saja tidak cukup dalam hal kandidasi pilkada, masih ada faktor elektabilitas, akseptabilitas, dan efektabilitas. Seorang calon jika memiliki kans untuk mendapatkan elektabilitas dan akseptabilitas yang bagus kedepan, maka mereka sudah bagus untuk diajukan sebagai calon, dan hal ini ada pada Sudrajat Syaikhu, popularits tidak menjamin dipilih, maka dari itu, fokus nya adalah mesin partai pengusung dan pendukung agar maksimal melakukan marketing politik.

BACA JUGA :  Tolak Tawaran Nomor 2, Dede Yusuf : Kalau Wakil Gubernur Saya Sudah Pernah

Dalam teori politik ada istilahnya split-ticket voting, dimana paratai kadang mementingkan sosok figur dan melupakan kader ideologi sendiri, dan ini terjadi pada pasangan lain lawannya Sudrajat Syaikhu, baik Ridwan Kamil maupun Deddy Mizwar, Sudrajat jelas kader Gerindra dan Syaikhu jelas kader PKS, sudah komplit.

Jika seorang calon memiliki peluang meningkatkan elektabilitas dan akseptabilitas yang bagus kedepan dalam masa kampanye dan proses pertarungan, maka hal itulah yang menjamin seseorang akan bernasib baik, pasangan sudrajat syaikhu memiliki dan memenuhi syarat ini.

Bagaimana efektifitas mesin politik Sudrajat-Syaikhu? Justru inilah fokus bersama yang harus dikalkulasikan dengan baik dan cermat, oleh sebab itu jangan membuang energi untuk hal yang tidak perlu yang justru akan membuat mesin berjalan lambat bahkan macet, sedangkan waktu berperang hanya 5 bulan efektif nya, mesin politik yang paling kuat ditingkat grass root saat ini justru dipegang oleh PKS dan Gerindra, ini hal hal yang sangat menguntungkan, tinggal dimaksimalkan dengan benar-benar maksimal.

Bagaimana tinjauan sisi psikologis pemilih Jabar? Secara psikologis, pasangan Sudrajat-Syaikhu lebih dekat dengan masyarakat Jabar. Sudrajat “otak kanan” nya Jabar dan Syaikhu adalah “otak kiri” nya, keduanya orang sunda dan dapat diterima dengan baik, perlu diketahui bahwa Deddy Mizwar bukan asli orang sunda dan ini bisa jadi peluang lawan untuk menyerang, dalam medan tempur, sebisa mungkin meminimalisir peluang lawan untuk menjebol banteng pertahanan kita, harus ketat dijaga

BACA JUGA :  Ridwan Kamil Kecewa, Aksi Pasangan Asyik Menimbulkan Kericuhan

Bagaimana masalah pendanaan kampanye Pilkada Jabar? Poin ini semakin menguatkan argumentasi kenapa PKS, PAN dan Gerindra harus bekerjasama, masalah dana, PAN tidak mampu sendiri, PKS juga demikian, tidak akan mampu mengcover sendiri dana pemenangan dengan wilayah Jabar yang merupakan propvinsi terbesar di indonesia, bergabung dengan Gerindra menjadikan tiga partai ini otomatis menjadi bahan komplementer yang saling emelengkapi satu sama lain, berjuang harus rasional, tidak bisa modal fanatik apalagi modal emosi, hitungan harus ril dan jelas dari semua sisi, termasuk sisi logistik perjuangan, apalagi untuk sebuah “perang” skala besar begini.

Apakah pasangan ini sudah ideal? Tidak ada gading yang tak retak, siapa yang mencari kesempurnaan, maka dia tidak akan pernah mendapatkannya meskipun masuk ketujuh lapis bumi sekalipun, namun begitu, jika ditinjau dari sisi konstelasi politik Jabar saat ini, begitu juga dari sisi kondisi lawan lawan dalam pilkada ini, maka pasngan Sudrajat-Syaikhu adalah masuk kategori pasangan kuat dan ideal untuk dijual dan dimenangkan, dalam hal ini PKS, PAN dan Gerindra sudah memutuskan sebuah keputusan terbaik, meskipun tidak dapat dipahami oleh semua pihak, apalagi memuaskan semua pihak.

Koalisi PKS PAN dan Gerindra ini termasuk koalisi minim resiko karena dibangun atas pertimbangan dasar kepentingan umat dan rakyat Jabar, tidak seperti pasangan lain yang begitu panas dan begitu kuat aroma kepentingan individu dan golongan, sehingga sampai telat mengumumkan calon calonnya. Terjadi tarik ulur dan terkesan kebingungan meskipun mereka adalah partai penguasa di Jabar dengan kursi terbanyak, ini indikasi bahwa koalisi Sudrajat-Syaikhu telah memberi keteladanan dalam proses kandidasi kepada lawan lawannya, tinggal dimenangkan saja. | red |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini