telusur.co.id | Kongo | Tingkat kelaparan melonjak di Republik Demokratik Kongo, dengan 400.000 anak-anak berisiko kelaparan hingga meninggal akibat perang dan kurangnya pendanaan.

Pertempuran pemberontak yang terjadi di wilayah Kasai, Kongo pusat pada tahun lalu telah menyebabkan peningkatan sebesar delapan kali lipat dalam perkara kelaparan, mengakibatkan 3,2 juta orang kekurangan pangan, kata Badan Koordinasi Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Perang telah mengakibatkan jutaan orang di Kasai sangat menderita kelaparan dan dunia tidak dapat terus mengabaikan besaran penderitaan kemanusiaan ini,” kata Jose Garcia Barahona, direktur badan amal Oxfam, Inggris dalam pernyataan.

“Pemerintah dan pendonor internasional perlu segera menutup celah kekurangan pendanaan ini,” katanya. Ia menambahkan bahwa Oxfam dan PBB sudah menyalurkan dua ransum bantuan pangan darurat untuk ribuan orang.

BACA JUGA :  Korban Jiwa Penyakit Ebola di Kongo Bertambah 322 Orang

Lebih dari 3.000 orang tewas dan 1,7 juta lagi terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka di Kasai sejak awal pemberontakan yang dilancarkan oleh kelompok Kamuina Nsapu, yang menginginkan penarikan pasukan militer dari daerah tersebut.

Pertarungan telah menghentikan kegiatan petani dalam mengolah tanah mereka selama tiga musim bertani berturut-turut, kata Oxfam.

Karena keadan keamanan telah stabil di beberapa bagian daerah, beberapa orang sudah mulai kembali ke rumah mereka, kata badan anak-anak PBB (UNICEF) dalam pernyataan.

“Keluarga hanya memiliki sedikit hasil panen dari tanah mereka sendiri dan tidak ada yang dapat dijual ke pasar,” katanya. ia menambahkan bahwa keadaan tersebut diharapkan dapat membaik sebelum Juni.

BACA JUGA :  23 Personel FET Konga XXXIX-A Ikuti Peringatan International Women Day di Republik Demokratik Kongo

PBB telah mengajukan permintaan sumbangan bantuan sebesar 1,7 miliar dolar AS untuk Kongo pada 2018, pusat perhatian terbesar ketiga setelah Suriah dan Yaman, dan lebih dari dua kali lipat dari jumlah yang diminta pada tahun ini.

Pendonor hanya memberikan “beberapa bagian” dari jumlah keseluruhan yang dibutuhkan, kata Oxfam. Mereka menambahkan bahwa proyeknya mungkin harus ditutup pada Maret mendatang.

Lebih dari 200 pusat kesehatan hancur, dijarah atau rusak, kata UNICEF, meningkatkan risiko penyebaran penyakit seperti campak.

“Menjamin jangkauan terhadap layanan kesehatan dan gizi dasar untuk warga adalah sangat penting, guna membantu anak-anak mereka yang kekurangan gizi dalam masa perkembangannya,” kata Tajudeen Oyewale, perwakilan UNICEF di Republik Demokratik Kongo. | ant |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini