telusur.co.id | Jakarta | Juru bicara Komisi Pemberahtasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan, KPK akan terus berkoordinasi dengan Polisi Militer (POM) TNI terkait penyelesaian dugaan korupsi helikopter Agusta Westland (AW) 101.

“Tentu kalau ada perkembangan akan disampaikan. Penyidik perlu berkoordinasi dengan pihak POM TNI karena ada saksi dari pihak militer yang perlu diperiksa,” ucap Febri di gedjng KPK, Jakarta, Kamis (20/12).

Tidak itu saja, Febri pun mengungkapkan sangat memuji komitmen Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, yang mendukung penuntasan kasus tersebut.

Untuk itu Ia berharap, TNI terus bekerja sama dengan KPK dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi.

“Komitmen dari Panglima TNI yang kita dengar dan baca di media saya kira positif ketika mengatakan komitmennya untuk menuntaskan kasus dugaan korupsi ini. Harapannya juga ada kerja sama yang kuat untuk upaya pencegahan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menegaskan kasus dugaan korupsi eli (AW) 101akan diusut tuntas.

Tak hanya itu, KPK juga pernah memanggil mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn) Agus Supriatna. Namun Agus tak bisa hadir karena sedang umrah.

POM TNI dalam kasus ini,telah menetapkan lima orang tersangka. Tiga orang di antaranya terlebih dulu ditetapkan, yakni Marsma TNI FA, yang bertugas sebagai pejabat pembuat komitmen dalam pengadaan barang dan jasa; Letkol WW, sebagai pejabat pemegang kas; serta Pelda S, yang diduga menyalurkan dana terkait pengadaan kepada pihak-pihak tertentu.

Kemudian, ada juga Kolonel Kal FTS, berperan sebagai WLP; dan Marsda SB, sebagai asisten perencana Kepala Staf Angkatan Udara.

Sementara itu, KPK menetapkan Irfan sebagai tersangka pertama dari swasta pada Jumat (16/6). Irfan diduga meneken kontrak dengan AgustaWestland, perusahaan joint venture Westland Helicopters di Inggris dengan Agusta di Italia, yang nilainya Rp 514 miliar.

Namun, dalam pengadaan helikopter dengan TNI AU, nilai kontraknya Rp 738 miliar, sehingga terdapat potensi kerugian keuangan negara sekitar Rp 224 miliar.| red |

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini