Jakob Oetama menerima Panitia Buku Prawoto 23April 2013.

Telusur.co.id | Catatan Sejarah Lukman Hakiem , Pengamat Sejarah| Jacob Oetama : SAYA BERSIMPUH DI SISI JENAZAH PRAWOTO MANGKUSASMITO

PADA bulan Mei 2012, saya diundang menghadiri tasyakkur 60 tahun Yayasan Asrama dan Pelajar Islam (YAPI) di Jalan Sunan Giri,  Rawamangun,  Jakarta Timur.

Keprihatinan Natsir

Segera sesudah perang kemerdekaan selesai,  banyak bekas pejuang bersenjata yang datang ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah.

Bagi Mohammad Natsir (1908-1993), kenyataan ini menerbitkan kegembiraan, sekaligus mendatangkan keprihatinan.

Perdana Menteri (1950-1951) itu gembira menyaksikan tingginya minat para bekas pejuang bersenjata itu melanjutkan sekolah. Natsir prihatin, karena para bekas pejuang bersenjata banyak yang kesulitan memperoleh tempat tinggal selama bersekolah di Jakarta.

Kegembiraan dan keprihatinan Natsir itu disampaikan kepada tokoh-tokoh pelajar dan mahasiswa yang akhirnya mengilhami mereka untuk membentuk suatu badan yang akan mendirikan asrama untuk para pelajar Islam. Gagasan itu makin menggelora sesudah terbentuk Perwakilan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Jakarta.

Dukungan Prawoto Mangkusasmito

Gagasan para pelajar yang diilhami oleh kegembiraan dan keprihatinan Natsir, didukung penuh oleh Prawoto Mangkusasmito (1910-1970). Tidak hanya mendukung dalam ucapan, Wakil Perdana Menteri (1952-1953) itu memerakarsai pembentukan sebuah badan hukum yayasan untuk membangun asrama pelajar Islam.

Bergerak lebih jauh, Prawoto menyediakan dirinya memimpin badan hukum itu sebagai ketua. Dia juga mengajak para koleganya dari Masyumi untuk mengelola yayasan yang akan dibentuk. Prawoto merekrut pegawai tinggi Kementerian Keuangan Mr. Sindian Djajadiningrat,  Mr. Mohamad Roem, Mr.  Jusuf Wibisono, H. Zainal Abidin Ahmad,  dan Ny. Hafni Abu Hanifah.

Selain koleganya di Masyumi, Prawoto juga menyertakan tokoh-tokoh muda seperti Joesdi Gazali,  Hariri Hadi,  Ismael Hasan,  dan Wartomo.

Maka pada 26 Mei 1952 terbentuklah Yayasan Asrama Pelajar Islam (YAPI) dengan Akta Notaris Nomor 63. Tidak lama sesudah itu dibangunlah asrama pelajar di Jalan Bunga.  Menyusul kemudian dibangun pula asrama pelajar di Jalan Sunan Giri.

Di antara yang pernah menjadi penghuni asrama YAPI antara lain Jimly Ashshiddiqie (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), Muliaman Hadad (mantan Ketua Otoritas Jasa Keuangan), Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat),  dan Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi).

Pada pidato tasyakkur 60 tahun, Ketua YAPI K. H. Ismael Hasan, S.H. yang akrab dengan sapaan Buya Ismael, menceritakan proses pembentukan YAPI dan peran signifikan Prawoto. Buya mengenang,  betapa di tengah kesibukannya sebagai Wakil Perdana Menteri, Prawoto tetap menyediakan waktunya menerima anak-anak muda,  merumuskan segala sesuatu menyangkut rencana pembentukan YAPI.

“Pukul berapapun saya dan teman-teman datang ke kediamannya, Pak Prawoto selalu menyambut kami dengan ramah,” kenang Buya Ismael, aktivis Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang selama Orde Baru berkiprah di Golongan Karya.

Jangan Cuma Dikenang

Seusai acara resmi,  saya hampiri Buya Ismael yang tengah bersantap siang. Kepada saksi sejarah perundingan delegasi Yogyakarta (M. Natsir, J. Leimena, dan A. Halim) yang datang untuk membujuk Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sjafruddin Prawiranegara agar pulang ke Yogya itu,  saya katakan: “Tidak cukup sekadar mengenang dan memuji-muji Pak Prawoto.”

Buya Ismael dan Pembina YAPI A. M. Fatwa (1939-2017) yang duduk di sebelahnya,  menghentikan makan dan menatap saya tajam.  “Maksud Saudara,” tanya Buya Ismael.

Saya jelaskan bahwa di antara tiga bekas Ketua Umum Partai Masyumi, Prawoto Mangkusasmito yang paling dulu meninggal dunia dalam usia relatif muda pada tahun 1970. Oleh karena itu,  wajar jika generasi muda yang lahir sesudah kurun 1960-1970, relatif tidak mengenal jejak hayat dan pemikiran Ketua Umum terakhir Partai Masyumi itu.

Padahal,  ketika negara Republik Indonesia (RI) menyerahkan kedaulatannya kepada RI Serikat, bersama Mr. Assaat,  Prawoto adalah penjaga gawang RI. Assaat menjadi Pejabat Presiden, Prawoto menjadi Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) yang berfungsi sebagai parlemen.

Kelak,  duet Assaat-Prawoto telah memperlancar proses pembentukan Negara Kesatuan RI.

Buya Ismael dan A. M. Fatwa tampak menyimak kata-kata saya.

“Satu-satunya buku yang cukup lengkap mendokumentasikan alam pikiran dan jejak perjuangan Prawoto Mangkusasmito terbit pada 1972. Buku yang terbit 40 tahun yang lalu itu,  kini sudah tidak ada di pasaran,” kata saya sembari mengajukan usul dengan nada agak prpvokatif,  “Jika YAPI ingin berterima kasih kepada Pak Prawoto, terbitkan ulang buku itu.”

Hampir bersamaan, kedua tokoh YAPI itu merespon usul saya: “Setuju!” Buya Ismael kemudian menambahkan,  “Tapi saya minta Saudara Lukman yang menangani. Soal fasilitas dan dana,  kami siapkan.” Sambil berseloroh, Buya Ismael menambahkan, “Uang YAPI banyak, Saudara jangan kuatir.”

Terlalu Tebal, Tidak Akan Laku

Sesudah itu,  saya bergerak.  Dibantu oleh staf A. M. Fatwa di Dewan Perwakilan Daerah (DPD): Muslihun Yakub,  Khairul Hamdan,  Hanief, dan Luqman Junaidi, buku “Alam Fikiran dan Djedjak Perdjuangan Prawoto Mangkusasmito” terbitan 1972 yang masih menggunakan ejaan Suwandi setebal XX + 463 halaman ditik ulang. Saya mengontak dua penerbit yang cukup ternama. Penerbit yang satu menjawab: “Sudah terlalu banyak buku Masyumi diterbitkan.” Artinya,  penerbit itu menolak.

Penerbit yang satu lagi menolak dengan cara yang lebih halus. Buku Prawoto dianggap terlalu tebal, sehingga tidak akan laku. “Yang membeli hanya pembaca khusus,” kata utusan penerbit dalam pembicaraan di kantor YAPI. Dia mengusulkan agar buku Prawoto itu ditulis ulang dalam bentuk novel-biografi.

Di tengah proses itu,  Buya Ismael sakit,  dan tidak lama kemudian,  wafat. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Proses penerbitan ulang dilanjutkan oleh A. M. Fatwa sebagai Ketua Panitia.

Dalam suatu kesempatan, Fatwa mengusulkan agar ada tokoh yang memberi Kata Pengantar untuk buku tersebut. “Siapa kira-kira yang cocok?”, tanya Fatwa kepada saya. Tanpa berpikir dua kali,  saya jawab: “Yusril Ihza Mahendra.”

Mengapa Yusril? Karena basis pemikiran Prawoto Mangkusasmito itu selalu hukum,  konstitusi, dan demokrasi. Dan Yusril selalu berargumen di tiga ranah itu.

Fatwa setuju. Surat dikirim,  saya menemui Yusril. Sayang,  pakar hukum tata negara itu terlalu sibuk sehingga tidak dapat memenuhi permintaan panitia. Sebagai gantinya, panitia meminta Kata Pengantar dari sosiolog Dr. Muchtar Naim.

Ketika pengetikan naskah sudah selesai, Fatwa mengusulkan agar untuk buku Prawoto itu dibuatkan semacam epilog atau catatan penutup. Dan karena Prawoto itu bukan hanya tokoh Masyumi, tetapi juga tokoh bangsa,  maka catatan penutup itu harus ditulis bukan oleh orang Masyumi. “Kalau mungkin,  tokoh non-Muslim,” ujar Fatwa dalam sebuah rapat.

Saya menambahkan, “Sedapat mungkin harus tokoh yang mengenal dan pernah bersentuhan langsung dengan Pak Prawoto agar tulisannya nanti tidak kering.”

Sesudah berdiskusi panjang,  pilihan jatuh kepada Jakob Oetama,  pemimpin harian Kompas. Meskipun salah seorang panitia menginformasikan bahwa konon Jakob Oetama sudah uzur,  rapat tetap menjatuhkan pilihan kepada  Jakob. “Kita coba dulu,” ujar Fatwa.

Ketika pilihan kepada Jakob Oetama sudah diputuskan, muncul gagasan agar sekaligus menjajagi kemungkinan penerbitan buku ini oleh penerbit Kompas-Gramedia.

Saya Bersimpuh di Sisi Jenazah Prawoto Mangkusasmito

Panitia mengajukan permintaan tulisan kepada Jakob Oetama, sekaligus mengajukan permohonan bertemu. Dalam waktu singkat, permohonan itu direspon.

Pada hari yang telah ditentukan, panitia bersama salah seorang putra Prawoto Mangkusasmito, Nuruddin Ahmad, datang ke kantor Kompas.

Jakob Oetama yang diberitakan sudah uzur, didampingi beberapa staf, menerima langsung kedatangan panitia.

Sesudah saling memperkenalkan diri,  Jakob bicara. Dia memulai pembicaraannya dengan mengatakan,  ketika Prawoto Mangkusasmito meninggal dunia,  Jakob datang ke rumah duka di Jalan Kertosono 4. “Saya duduk bersimpuh di samping jenazah Pak Prawoto,” ruangan hening menyimak cerita Jakob.  “Lima hari sesudah itu, saya menulis obituari kecil tentang almarhum Prawoto Mangkusasmito,” lanjut Jakob.

Dalam obituari kecil yang dimuat Kompas (25 Juli 1970), Jakob menyebut Prawoto sebagai tokoh yang mudah diajak bicara. “Gurat-gurat pada wajahnya memperlihatkan pendiriannya yang teguh, tidak bersedia mundur dalam hal-hal yang prinsipil. Sekalipun demikian,  ia orang yang terbuka menghadapi pendapat yang berbeda-beda dan tak pernah memaksakan pendiriannya sendiri.”

Dengan pandangan Jakob seperti itu, dia bukan saja bersedia menulis Catatan Penutup untuk buku Prawoto Mangkusasmito edisi revisi,  juga bersedia menerbitkannya. Kepada staf yang mendampingi, Jakob berpesan agar pencetakan dan penerbitan buku Prawoto menjadi prioritas.

Integritas Watak

Dalam pembicaraan dengan panitia, yang kemudian ditulisnya dalam Catatan Penutup, Jakob Oetama menyampaikan kekagumannya tentang tokoh-tokoh sezaman. Jakob menyebut Masyumi sebagai partai Islam moderen dengan ciri mengakui adanya pluralisme Indonesia.

Partai Masyumi bisa melakukan aliansi politik yang serasi bersama Partai Katolik dan Partai Sosialis Indonesia (PSI).  “Partai Masyumi, lahan perjuangan aspirasi politik di mana Prawoto ikut mengembangkannya dan ketua umum terakhir saat dibubarkan, memberikan pencerahan secara sincere kepada masyarakat,” tulis lelaki kelahiran 1931 itu.

Tugas mewariskan integritas watak dan cara berpolitik mereka merupakan tugas para ahli waris,  generasi muda kemudian. Mewariskan sikap terbuka dan saling percaya,  adalah keharusan mutlak menempatkan keluhuran, kepantasan,  keteladanan sebagai bagian integral perjuangan menegakkan dan mengembangkan NKRI.

Dengan nada getir, Jakob bertanya,  mengapa keadaan kini mesti berbeda semangatnya dengan dulu. “Kegetiran hati,” tulis Jakob, “memang tidak bisa diabaikan ketika menyaksikan fatsoen dan etika berpolitik kita berbeda jauh dengan para bapak bangsa.

Tentu tidak kita inginkan terus terjadi pembenaran seloroh: “Kita bangsa besar di zaman yang besar tetapi menghasilkan manusia-manusia kerdil,” pungkas Jakob Oetama. |  Alam Pikiran Dan Jejak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito. Penerbit Buku Kompas (Edisi Kedua ) |.

Bagikan Ini :