Presiden Joko Widodo (kanan) dan Ketua PWI Margiono (kiri)/Net

telusur.co.id – Hari Pers Nasional 2018 yang baru saja selesai dirayakan di Padang, Sumatera Barat, diwarnai insiden yang memunculkan tanda tanya besar.

Pertama, tepat pada saat perayaan HPN 2018, situs Dewan Pers diretas. Dimana, pada halaman muka muncul layar putih bertuliskan “Hacked by vlyn &Dev19Feb“. Kemudian, muncul tampilan “under maintenance“.

Kedua, secara mengejutkan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Margiono atau yang tenar dengan sapaan Pak MG, saat memberikan sambutan di HPN 2018, mengajak masyarakat Sumbar kembali memilih Joko Widodo di Presiden 2019 mendatang.

Ucapan Margiono mengundang reaksi, salah satunya dari pengacara senior Arman Garuda Nusantara. Melalui akun media sosial twitter miliknya @armangn8, dirinya menulis Ketua Umum PWI hilang akal.

Kok Ketua Umum PWI jadi hilang akal begini ya?? Pantas Pers banyak yg tidak netral dan tidak berimbang dalam pemberitaan wong Ketum PWI nya aja begini,” tulis Arman yang juga mencantumkan berita yang dimuat media online Tempo.co berjudul “Ketua PWI Ajak Masyarakat Sumbar Pilih Jokowi di Pilpres 2019

Tidak hanya itu, ajakan Margiono untuk memilih kembali Jokowi juga berbuntut panjang. Reaksi keras datang dari sejumlah wartawan dan pengamat media di Sumatera Utara.

Salah satunya wartawan senior, Sugeng Satya Dharma yang menolak pernyataan Margiono.

“Apa yang disampaikan Margiono dalam peringatan HPN, di Sumatra Barat itu tidak pantas. Harus ditentang kalau PWI mau berpolitik silakan tapi itu bukan suara pers Indonesia. Pers Indonesia bukan PWI,” kata dia seperti diberitakan media masa lokal.

Protes yang sama juga disampaikan wartawan senior lainnya, Fadmin Prihatin Malau.

“Kok kampanye pilpres. Memangnya sudah tahun 2019,” kata dia.

Sementara itu, mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, Darma Lubis mengatakan, pernyataan itu merupakan pelanggaran kode etik jurnalistik.

“Mestinya PWI dalam kesempatan itu harus mendorong pers supaya lebih sehat dan kebebasannya makin terjamin. Wartawan itu tidak boleh berpihak pada organisasi. Keberpihakannya hanyalah pada fakta,” katanya.

PWI Sumut sendiri pada Kamis (1/2/2018) lalu telah menegaskan sikapnya untuk netral dalam pilgub, pileg, dan pilpres. Keputusan itu ditetapkan dalam rapat Pengurus PWI Sumut bersama Dewan Kehormatan di Gedung PWI Sumut, Jalan Adinegoro No 4, Medan.

BACA JUGA :  Sandi Minta Pendukung Tak Marah Sama Prabowo

Diberitakan sebelumnya, pakar media dari Universitas Indonesia, Dr. Irwansyah mengatakan, saat ini hanya sebagian kecil pers yang berusaha membangun kecerdasan masyarakat. Bahkan, sangat disayangkan peran pers saat ini cenderung mengikuti pasar global dan liberal.

“Pers kita telah hadir sebagai bagian dari masyarakat untuk menjadi mediator dan melakukan mediatisasi. Sayangnya perannya cenderung mengikuti pasar global dan liberal. Sebagian berusaha menyejukkan hati namun sebagian cenderung membuat pembaca menjadi emosi. Hanya sebagian kecil yang berusaha membangun kecerdasan,” kata Irwansyah dalam keterangan yang disebar luaskan, Sabtu (10/2/18).

Begitu juga dengan pers yang menjalankan pilar demokrasi, sangat ditentukan oleh kepemilikan dan ideologi pasar.

Sayangnya lagi, kata dia, demokrasi yang dibangun tidak memperlihatkan pers yang berdaulat, membangun kesadaran berbangsa, dan mensejahterakan rakyat.

Apalagi di tahun politik, yang mana setiap pihak mulai menunjukan keperpihakannya. Sehingga perjuangan mempertahankan pers yang kuat menjadi tergerus karena keterlibatannya dalam percaturan politik.

“Netralitas pers juga diragukan karena beberapa anggota dan pengurusnya (seperti Persatuan Wartawan Indonesia) ikut dalam proses demokrasi bukan sebagai penguat kebebasan, tetapi cenderung menjadi birokrat pemerintah yang prosesnya didukung beberapa partai politik,” kata dosen komunikasi itu.

Artinya, menjadi tokoh pers negarawan dan memiliki wawasan kebangsaan tidak lagi populer karena terjun sebagai salah satu partisan dalam proses demokratisasi.

Dikutip dari Tempo.co, Ketua Umum PWI Margiono memberikan sambutan dalam peringatan HPN 2018 di Padang, Sumatera Barat. Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat Sumatera Barat kembali memilih Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam Pemilu Presiden 2019 mendatang.

Margiono bercerita, bahwa saat menginjakkan kaki di Sumatera Barat, Ia melihat begitu banyak baliho dan spanduk sambutan acara HPN 2018. “Luar biasa banyaknya ucapan selamat datang dan terima kasih, banyak saya lihat bertuliskan mokasi,” katanya, Jumat, 9 Februari 2018.

Margiono mengaku, bertanya ke Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, arti dari “Mokasi”. Irwan pun, katanya, menjelaskan bahwa arti dari Mokasi adalah Terima Kasih.

BACA JUGA :  Urusan Cawapres, Nasdem Manut Keputusan Jokowi

“Bukan mau kasih ?” kata Margiono. “Nah bisa juga itu,” katanya menirukan jawaban dari Irwan Prayitno.

Kepada Gubernur, Margiono pun mengatakan, “Kalau Bapak Presiden sudah kasih ke Sumbar (Sumatera Barat), Sumbar kasih apa? kasih aja bapak presiden suara yang banyak untuk 2018.” Selorohan dari Margiono ini sontak memicu gelak tawa dari peserta acara.

Ia melanjutkan bahwa jika terbukti kinerja Jokowi baik, maka tentu akan dipilih kembali oleh masyarakat. “Saya takut dimarahi soal ini, tapi tidak apa apa.”

Margiono belum berhenti. Ia mengatakan bahwa di sepanjang jalan di Kota Padang, Baliho Irwan Prayitno pun juga banyak dipasang. “Saya pikir untuk apa, kan sudah dua kali juga,” katanya yang lagi-lagi membuat peserta acara tertawa. Irwan memang saat ini tengah menjabat sebagai gubernur Sumatera Barat untuk periode kedua.

Jokowi yang tampil memberikan sambutan setelah Margiono tampak tak tinggal diam. Ia mengatakan, “Ini Pak Margiono juga ngapain di sini, padahal lagi mencalonkan jadi kepala daerah.” Margiono sendiri saat ini memang tengah mencalonkan diri sebagai calon bupati Tulungagung, Jawa Timur.

Namun kemudian Jokowi menambahkan, ” Ya artinya dia (Margiono) sudah yakin kalau akan menang di sana.”

Dihubungi redaksi telusur.co.id, Ketua PWI Kalimantan Barat Gusti Yusri mengatakan jika apa yang disampaikan Margiono bukan merupakan ajakan untuk kembali memilih Jokowi di Pilpres 2019.

Menurutnya, apa yang disampaikan Margiono dalam bentuk pantun, apa bila kita punya pemimpin yang baik, kenapa tidak pilih sekalilagi. Itu, kata dia, disampaiakannya dalam guyonan.

“Itu guyon. Jadi tidak ada (ajakan memilih Jokowi) yang nyatakan secara langsung,” kata Gusti.

Menurutnya, pemberitaan yang ramai terkait itu, barang kali, kata dia, wartawan menyimpulkan itu untuk Jokowi karena Presiden ke-7 RI itu hadir dalam acara HPN 2018.

“Kemudian Pak Jokowi kan membalas. ‘ini Pak Margiono juga ngapain di sini, padahal lagi mencalonkan jadi kepala daerah’,” kan begitu dalam pantun juga.

“Saya kan hadir disitu, itu bukan, bukan ajak masyarakat pilih Jokowi. Bukan seperti itu kalimatnya. Itu disampaiakan dalam berntuk pantun,” tegas Gusti. [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini