Wakil ketua DPR RI Fadli Zon, mengaku aneh dengan keputusan KPU.FOTO:telusur.co.id

telusur.co.id – Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menyatakan tantangan yang dihadapi oleh pers di tengah iklim demokrasi jauh berbeda dengan tantangan zaman otoritarian.

“Di hari pers ini, saya ingin mengajak insan pers Indonesia untuk mengingat kembali khittahnya,” ungkap Fadli memperingati Hari Pers Nasional di Jakarta, Jumat.

Menurut Fadli, para jurnalis harus kembali ke barak dan menjaga diri terhadap hegemoni kekuasaan. Rekan-rekan jurnalis harus menjaga kehormatan penanya.

“Karena sesungguhnya pena jurnalis jauh lebih tajam dari sebilah pedang! Selamat Hari Pers Nasional, semoga di tahun politik, pers menjadi oase yang mengawal demokrasi dengan profesional dan independen,” katanya.

BACA JUGA :  Utang BUMN Memprihatinkan Karena Kecerobohan Pemerintah

Tak hanya itu saja, Fadli juga mengingatkan kepada insan pers untuk menjaga situasi dan kondisi bangsa dengan baik. “Jangan sampai kita kembali lagi kepada zaman keemasan pers kolonial dulu, yang sepenuhnya dikendalikan oleh para pemilik modal.”

Diapun menceritakan pada awal abad ke-20, Surat Kabar AID de Preanger Bode, misalnya, adalah juru bicaranya para pemodal yang menguasai perkebunan teh, karet, dan kina. Sementara, Soerabajaasch Handelsblad, adalah corongnya para pemodal yang menguasai industri gula. “Jadi, semua media merupakan juru bicara dari para pemilik modal. Tentu kita tak ingin mengulang lagi semua itu,” tandasnya. ( red )

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini