Kecelakaan di Tanjakan Emen Subang

telusur.co.id – Kecelakaan bus yang menewaskan 27 penumpang di tanjakan emen, Subang mendapatkan perhatian dari Wakil Ketua komisi V DPR RI Sigit Sosiantomo.

Menurut Sigit peristiwa kecelakaan bus seharunya tidak boleh terjadi kembali. Karena Keselamatan transportasi umum seharusnya menjadi prioritas nasional melihat angka kecelakaan lalu lintas Indonesia masih tinggi.

“Kami prihatin dengan musibah ini dan mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk keluarga korban. Kedepan, kami berharap keselamatan angkutan umum menjadi prioritas nasional karena angka kecelakaan lalu lintas kita masih tinggi.” ungkap Sigit dalam pesan singkat, Jakarta, Senin (12/2/18)

Ia mengungkapkan, angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia termasuk tertinggi di Asean dengan jumlah korban jiwa mencapai 26.000–30.000 korban tewas per tahun.

Menurutnya, Faktor manusia dan faktor kualitas kendaraan masih menjadi dua penyebab utama terjadinya kecelakaan lalu lintas.

“Masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas khususnya kecelakaan transportasi umum ini menunjukan lemahnya pembinaan dan pengawasan pemerintah dalam hal ini kementerian perhubungan. Karena itu, kata Sigit, sebagai regulator pemerintah harus lebih progresif dalam melakukan pembinaan dan pengawasan”

Terlebih lagi, lanjutnya, UU No.22 tahun 2009 tentang lalu lintas angkutan jalan sudah mengatur secara komprehensif upaya-upaya pencegahan kecelakaan, baik melalui kewajiban pemenuhan kelaikan jalan kendaraan, kewajiban setiap calon pengemudi untuk mengikuti kursus menyetir, hingga sanksi tegas.

“Jika ini dijalankan, angka kecelakaan bisa ditekan dan roadmap to zero accident bisa diwujudkan,” tegasnya

Oleh karena itu, Politikus PKS ini meminta Bus pariwisata PO Premium Fassion menanggung biaya perawatan dan memberikan santunan kepada seluruh korban kecelakaan bus pariwisata itu. Sesuai dengan Pasal 188, 234 dan 235 Undang-Undang Lalu Lintas.

“UU LLAJ sudah mengatur mengenai kewajiban perusahaan angkutan umum dan pengemudi untuk bertanggung jawab atas kerugian yang diderita akibat terjadinya kecelakaan. Jadi, tidak ada alasan bagi perusahaan angkutan untuk tidak menanggung seluruh biaya perawatan dan santunan bagi korban yang meninggal. Apalagi, UU LLAJ juga sudah mewajibkan setiap perusahaan angkutan umum untuk ikut asuransi,” kata Sigit.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini