telusur.co.id, Gaza –┬áLembaga sektor swasta di wilayah Palestina Jalur Gaza pada Senin (19/2) menyerukan dihentikannya Mekanisme Pembangunan Kembali Jalur Gaza oleh PBB (GRM) di tengah kesepakatan Palestina-Israel untuk mengkaji rencana pembangunan kembali internasional.

“Rencana itu telah gagal mencapai sasarannya di lapangan dan semakin memperketat blokade atas Jalur Gaza di bawah pengawasan PBB,” kata satu pernyataan yang dikeluarkan oleh lembaga swasta tersebut.

Jumlah semen yang diizinkan memasuki Jalur Gaza untuk sektor swasta sejak pertengahan Oktober lalu sampai akhir tahun tidak melebihi dua juta ton, atau 30 persen jumlah yang diperlukan, kata pernyataan itu.

Pernyataan tersebut menyoroti keperluan mendesak akan semen untuk membangun kembali rumah yang hancur oleh Israel selama agresi militernya terhadap wilayah yang menghadapi blokade itu pada 2014, demikian laporan Xinhua, Selasa.

BACA JUGA :  Keputusan PBB Tolak Yerusalem Ibu Kota Israel, ketua Komisi I: Dunia Ingin Palestina Merdeka

GRM adalah kesepakatan sementara di kalangan Pemerintah Otonomi Nasional Palestina, Israel dan PBB berlaku setelah serangan besar Israel pada tahun 2014 ke Jalur Gaza.

Mekanisme itu dimaksudkan untuk memfasilitasi masuknya bahan dasar bangunan ke Jalur Gaza, yang telah menghadapi blokade ketat Israel sejak HAMAS memalui kekerasan mengambil-alih wilayah tersebut pada 2007.

Israel membatasi masuknya ke Jalur Gaza banyak barang yang dikatakannya bisa digunakan untuk kegiatan militer seperti kerikil, beton, besi batangan, semen dan kayu selain barang seperti mesin sinar-X dan pompa yang diperlukan buat tenaga listrik dan saluran pembuangan.

Pada Kamis (15/2), Koordinator Khusus PBB Nickolay Mloadenov –yang bertemu dengan para pejabat Palestina dan Israel pekan lalu– menyatakan semua pihak setuju mengenai perlunya kajian bersama atas GRM guna meningkatkan fungsi, transparansi dan kemungkinannya untuk diramalkan.

BACA JUGA :  Keluarga Minta Jenazah Dosen Asal Palestina Dipulangkan ke Gaza

Sementara itu, Menteri Urusan Perumahan dan Pekerjaan Umum Palestina Mufid Al-Hasayneh pada Senin mengatakan dalam satu pernyataan pers agresi Isdrael ke Jalur Gaza pada 2014 telah sangat memperburuk krisis sebab serangan tersebut mengakibatkan kerusakan parah pada rumah; tak kurang dari 200.000 rumah rusak total atau rusak sebagian akibat agresi militer Israel.

Ia menyatakan 20 persen keluarga Palestina di Jalur Gaza hidup di rumah yang penuh penghuni, sementara angka pertumbuhan penduduk di daerah kantung Palestina tersebut berjumlah 3,3 persen.

Serangan militer Israel selama 51 hari pada 2014 menewaskan 2.251 orang Palestina dan menghancurkan ratusan rumah, demikian data PBB. (der/xinhua)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini