telusur.co.id – Sosiolog Musni Umar menilai maraknya Lesbian, Gay, Biseksual dan Transjender (LGBT) merupakan pengulangan sejarah, sehingga masyarakat harus melawan sikap LGBT.

“Kalau kita mengakui LGBT berarti mengingkari sejarah. Saya melihat ini pengulangan dari masa lalu, saat zaman nabi Luth. Sehingga setiap agama sepakat tidak mengizinkan perkawinan sejenis,” ungkapnya di komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (12/2/18).

Bukan hanya itu, ia juga mencium adanya aroma Politik untuk meloloskan suara LGBT. Dimana banyak kepentingan Pileg dan Pilres 2019.

“Lebih dari itu, saya melihat ini ada unsur politis jelang Pileg dan Pilpres dengan mengambil unsur HAM, apalagi LGBT telah didanai. Ada kepentingan politik melindungi mereka karena ingin mendapatkan suara mereka,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Menkominfo Minta Google Blokir Aplikasi Bermuatan LGBT

Hingga kini, LGBT terus tumbuh di Indonesia, karena terinspirasi dan mencontoh Amerika Serikat dan negara-negara maju yang mengakui LGBT.

“New Life Style bagi kaum muda perkotaan karena LGBT dianggap sebagai simbol kemodernan serta tidak adanya ketegasan terhadap LBGT karena kepentingan politik menjelang pemilu,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk meningkatkan pendidikan agama secara dini didalam keluarga dan sekolah-sekolah, mengembalikan merereka yang telah tersesat LGBT menjadi normal, serta membuat Undang-Undang yang melarang LGBT.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini