telusur.co.id, Suriah – Sedikitnya 77 warga sipil, termasuk 20 anak-anak, tewas dalam serangan udara dan tembakan roket pada hari Senin, pengamat Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan.

Pasukan tersebut diyakini tengah bersiap melakukan serangan darat.

Hampir 400.000 orang tinggal di Ghouta Timur, yang dikepung sejak 2013.

Ini adalah daerah kantong oposisi terakhir yang tersisa di dekat ibu kota Damaskus.

Pasukan Suriah meningkatkan kampanye mereka untuk merebut kembali wilayah tersebut awal bulan ini, dilaporkan pemerintah telah membunuh ratusan orang dan melukai lebih banyak lagi.

Ini menyebabkan seruan untuk mendesak PBB untuk lakukan gencatan senjata agar pasokan kepada warga sipil yang tinggal di zona konflik dapat tersalurkan.

Serangan di wilayah Ghouta Timur sejak hari Minggu tidak hanya menyerang warga sipil tapi juga toko-toko tempat mereka mendapat pasokan makanan, seperti toko roti, gudang dan hal lain yang mungkin menyimpan persediaan makanan.

BACA JUGA :  Militer Suriah Klaim Menang Besar di Ghouta Timur

Ini adalah satu hari pengeboman terburuk yang telah dilihat orang di tahun-tahun sebelumnya. Orang-orang takut akan hal itu menjadi skenario Aleppo yang lain.

Pekerja bantuan mengatakan bahwa serangan tersebut menargetkan jalan-jalan utama di daerah tersebut, yang akan memblokir operasi bantuan atau penyelamatan dan menghambat pergerakan ambulans.

Jumlah korban tewas meningkat karena fasilitas medis juga terkena serangan. Empat rumah sakit sementara termasuk fasilitas bersalin, diserang pada hari Senin. Pemberontak telah menanggapi dengan serangan mortir ke Damaskus namun kekuatan militer pemerintah jauh lebih kuat.

Korban tewas Senin, dilaporkan oleh pengamat Suriah sebuah jaringan oposisi yang berbasis di Inggris yang memantau kekerasan belum diverifikasi secara independen.

Video dari Hamouria, sebuah kota di daerah kantong dimana setidaknya 20 orang dilaporkan terbunuh dalam serangan udara pada hari Senin, menunjukkan orang-orang melarikan diri dari bangunan yang rusak berat yang tertutup dalam debu dan puing-puing.

BACA JUGA :  Belanda Tolak Ikut AS Serang Suriah

Pada bulan Desember, organisasi bantuan internasional memperingatkan bahwa kondisi di daerah yang dilawan pemberontak telah mencapai “titik kritis” bagi warga sipil karena kekurangan makanan, bahan bakar dan obat-obatan.

Lavrov mengatakan pada hari Senin bahwa kondisi di daerah tersebut dibesar-besarkan oleh aktor internasional.

“Di PBB, topik masalah kemanusiaan di Ghouta Timur dan Idlib sedang didorong secara aktif,” katanya, menurut laporan media Rusia.

Bulan depan menandai tujuh tahun konflik sipil di Suriah. Ratusan ribu orang terbunuh dan sekitar lima juta orang telah melarikan diri dari negara tersebut. (der/bbc)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini