Foto: Net

telusur.co.id – Senior Golkar Jusuf Kalla didaulat kembali menjadi pendamping Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. Namun, langkah JK untuk kembali menemani Jokowi terganjal konstitusi. Sebab, JK telah menjadi Wapres saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Wakil Koordinator Bidang Pratama Partai Golkar, Bambang Soesatyo mengungkapkan, jika JK tidak bisa maju sebagai cawapres lantaran terbentur undang-undang, maka pasangan ideal untuk Jokowi adalah Prabowo Subianto.

“Kalau Pak JK tidak boleh, maka yang ideal adalah pasangan Jokowi dan Prabowo,” kata Ketua DPR RI itu, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.

BACA JUGA :  KPU Panggil 12 Petinggi Parpol Peserta Pemilu

Menurutnya, jika Jokowi berpasangan dengan Prabowo di Pilpres 2019, maka potensi perpecahan di masyarakat akan dapat ditekan.

“Jadi supaya tanpa ada pertarungan sengit yang berpotensi menimbulkan luka terhadap kelompok bangsa-bangsa,” kata pria yang karib disapa Bamsoet itu.

Bamsoet pun mengakui, butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka akibat Pilpres 2014. Bahkan, lanjutnya, di parlemen sendiri, butuh waktu hingga dua tahun untuk mendamaikan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP).

“Akhirnya kinerja pemerintahan satu tahun kemarin pasca pilpres kan agak mandeg, tidak langsung bisa berlari karena parleman ada perpecahan,” kata dia.

BACA JUGA :  Urusan Cawapres, Nasdem Manut Keputusan Jokowi

Oleh sebab itu, dia berharap kejadian di Pilpres 2014 tidak terulang lagi di Pilpres 2019 mendatang, sehingga potensi perpecahan bisa ditekan jika Prabowo menjadi pendamping Jokowi.

“Saya pikir dibutuhkan kesadaran bagi anak bangsa mendahulukan kepentingan rakyat dan mendorong pasangan yang minim potensi perpecahan,” kata Bambang. [ipk]

Like :

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini