telusur.co.id – Presiden Abdel Fattah al-Sisi, memerintahkan angkatan bersenjata untuk mengalahkan gerilyawan dalam waktu tiga bulan setelah sebuah serangan di sebuah masjid menewaskan lebih dari 300 orang, insiden paling mematikan di negara dunia Arab yang paling padat penduduknya itu.

Operasi keamanan yang diluncurkan pada Jumat (9/2) melibatkan pasukan dari angkatan udara, angkatan laut dan tentara Mesir serta polisi dan penjaga perbatasan.

“Angkatan udara menarget dan menghancurkan 66 sasaran yang digunakan oleh elemen teroris untuk bersembunyi dari serangan udara dan artileri, dan melarikan diri dari markas mereka selama penggerebekan,” kata Sisi.

Angkatan Udara Mesir menyerang sasaran-sasaran militan di bagian utara dan tengah Sinai pada Sabtu pagi (10/2), kata militer.

BACA JUGA :  Mesir Sahkan UU Anti Hoax

Serangan hari kedua itu dilakukan untuk menumpas pemberontakan yang telah membunuh ratusan orang sejak tahun 2013.

Pihak militer menyatakan pesawat-pesawat tempurnya menyerang “tempat-tempat konsentrasi dan persembunyian teroris” di bagian utara dan tengah Sinai sepanjang malam hingga beberapa jam di waktu Sabtu pagi, menyasar gudang-gudang senjata-senjata dan kawasan-kawasan pendukung logistik.

Di darat, pasukan khusus yang bekerja sama dengan kepolisian, melancarkan operasi di dalam kota-kota di Sinai untuk menangkap para militan, kata Kolonel Tamer al-Rifai, juru bicara militer.

Penjaga perbatasan dan pasukan angkatan laut mengamankan Terusan Suez guna menjamin pelayaran melalui perairan internasional itu tak terkena dampak, demikian pernyataan tersebut.

BACA JUGA :  Langgengkan Kekuasaan El-Sisi Hingga 2030, Mesir Gelar Referendum

Sebelumnya, Gerilyawan membidik pasukan keamanan sejak 2013 ketika tentara, yang dipimpin Sisi sebagai panglima militer, menggulingkan Presiden Mohamed Mursi dari kelompok Ikhwanul Muslimin setelah unjuk rasa besar menentang pemerintahannya.

Sebanyak 16 militan terbunuh, katanya, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Sumber medis mengatakan Rumah Sakit Umum Ismailia pada Minggu pagi menerima mayat 10 militan yang terbunuh di Sinai dan sampel DNA diambil untuk mengidentifikasi mereka. ( red )

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini