telusur.co.id, Depok – Di garasi itu, berdiri sebuah panggung berukuran 3×4 meter berwarna merah, tempat berlangsungnya adegan heroik, percintaan, dan kehidupan. Di sampingnya, terlihat seperangkat alat musik khas Tiongkok untuk mengiringi adengan-adegan itu.

Boneka-boneka Wayang Potehi yang terbuat dari kayu mahoni dan dibalut pakaian tradisional khas negeri Tirai Bambu itu, berjejer di atas lemari. Di rumah inilah, Dwi Woro Retno Mastuti, wanita Jawa yang berprofesi sebagai dosen Sastra Jawa UI mengadakan latihan Wayang Potehi bersama belasan anak muda yang tergabung dalam Sanggar Rumah Cinta Wayang (Sanggar Cinwa).

Woro telah lama mencintai wayang Tiongkok yang telah ada sejak masa Dinasti Tang ini. Kecintaannya itu ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Wayang Potehi Gudo yang ia tulis berdasarkan riset selama 10 tahun.

“Banyak orang menyenangi wayang kulit dan golek, tapi hanya segelintir yang peduli terhadap Potehi. Dunia Potehi seakan memanggil saya,” ujar Woro, saat ditanya alasannya memilih berkecimpung di dunia Potehi.

Bagi Woro, Wayang Potehi memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak seperti wayang dari Jawa yang berkonsep sebagai tatanan, tuntunan, dan tontonan, wayang Potehi justru dipersembahkan untuk para dewa sebagai wujud syukur dan permohonan.

Diungkapkan Woro, dahulu Potehi yang merupakan ritual umat Konghucu yang dipentaskan terbatas di Kelenteng dengan didanai donatur. Istimewanya, Pentas wayang Potehi tidak menganggap penonton sebagai elemen penting.

“Para pendahulu beranggapan walaupun tidak ada penonton sekalipun, para dewa akan menyaksikan,” ungkap Woro seraya mengatakan, bahwa seiring berkembangnya zaman, Potehi kemudian menjadi hiburan yang sarat pesan moral.

Dewasa ini, Potehi tidak hanya ditampilkan di kelenteng, tetapi juga di kampus, sekolah, dan mall. Pementasan Potehi kini telah dimodifikasi menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti tanpa menghilangkan suluk Hokian yang merupakan ciri khas Potehi. Nama-nama tokoh yang berbahasa Hokian pun beberapa sudah diadopsi menjadi nama Jawa, salah satunya Sie Djin Kwie, seorang ksatria pemberani yang meski melalui berbagai rintangan hidup akhirnya berhasil menjadi prajurit raja, diubah namanya menjadi Sudiro.

Meski telah beradaptasi dengan budaya Indonesia, Potehi masih saja sepi peminat, terutama di kalangan muda. Salah satu hambatannya adalah sulitnya regenerasi dalang karena mahalnya perlengkapan pentas serta sulitnya melafalkan suluk Hokian.

“Berbeda dengan regenerasi dalang wayang Jawa yang biasanya turun-temurun dalam keluarga, regenerasi dalang Potehi biasanya terjadi melalui belajar lewat pengalaman,” tandas Woro.

Keprihatinan Woro akan rendahnya minat anak muda terhadap Potehi mendorongnya mendirikan Sanggar Cinwa pada November 2014 di kediamannya di Depok, Jawa Barat. Ia mengajak belasan mahasiswa dan mahasiswi berlatih mementaskan Potehi. Dari benak anak-anak muda inilah tercetus ide-ide yang membawa angin segar bagi pementasan Potehi yang lebih sesuai dengan selera remaja dan anak-anak.

Menyiasati penonton usia muda yang cepat bosan, Sanggar Cinwa mementaskan pertunjukan dengan durasi 90 menit per episode. Pementasan ditutup dengan kuis seputar tokoh yang membuat penonton anak-anak antusias. Sanggar Cinwa juga melakukan promosi dan publikasi di media sosial instagram sehingga eksis menampilkan pementasan di mall besar.

Potehi telah berakulturasi dengan budaya Jawa, maka Potehi merupakan warisan leluhur yang patut kita jaga. Woro mengingatkan kita akan keberagaman budaya Indonesia, dan Potehi adalah salah satu bukti keberagaman itu.

“Wayang itu benda mati, tetapi menjadi hidup oleh kita. Sebaliknya, jiwa kita mati, dan menjadi hidup dengan wayang,” pungkasnya. | Kontributor : Hanifah Rahadianty Kusmana (Danty), Mahasiswa International Relations Major, Universitas Parahyangan – Bandung (red)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini