telusur.co.id, Stockholm, Swedia – Lembaga penelitian yang berpusat di Swedia pada Senin (12/3) menyebut, impor senjata ke Timur Tengah telah naik dua kali lipat selama 10 tahun belakangan, yang dipicu oleh perang dan konflik di wilayah tersebut.

Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mengatakan di dalam studi terkininya mengenai pengiriman senjata global ke negara di Timur Tengah naik sampai 103 persen antara 2008 dan 2017.

- Advertisement -

“Konflik dengan kekerasan yang tersebar luas di Timur Tengah dan keprihatinan mengenai hak asasi manusia telah mengakibatkan perdebatan politik di Eropa Barat serta Amerika Utara, mengenai pembatasan penjualan senjata,” kata peneliti senior SIPRI Pieter Wezeman.

“Namun Amerika Serikat dan negara Eropa tetap menjadi pengekspor utama senjata ke wilayah itu dan memasok lebih dari 98 persen senjata yang diimpor oleh Arab Saudi,” kata Wezeman.

Menurut studi tersebut, yang memantau pengiriman senjata berdasarkan volume setiap lima tahun untuk merancang fluktuasi jangka-pendek, Arab Saudi adalah importer senjata terbesar kedua setelah India. Dan Amerika Serikat mengimpor 61 persen senjata ke Arab Saudi, sementara Inggris mengirim 23 persen senjata. (dan/ant)

Bagikan Ini :