telusur.co.id – Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) yang juga Ketua Wilayah Kalimantan DPP Partai Hanura, Totok Sugiyarto mengatakan siapa pun kader sejati Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) pasti sepakat bahwa partai ini harus solid menghadapi Pemilu 2019.

Tujuannya, agar bisa lolos dari parliamentary threshold (PT) atau ambang batas suara parlemen 4 persen, sesuai amanat Pasal 222 Undang-Undang (UU) No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, sehingga bisa eksis di DPR RI.

- Advertisement -

“Jadi, jangan ada yang kebakaran jenggot ketika ada kader sejati yang mengusulkan langkah terobosan demi solidnya Hanura menghadapi Pemilu 2019,” ungkap Totok melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (13/3/2018).

Pernyataan Totok yang merupakan loyalis Wiranto ini merespon pernyataan kubu OSO yakni Sekjen Partai Hanura Harry Lontung Siregar dan Yus Usman Sumanegara yang terkesan emosional dan seperti orang kebakaran jenggot menanggapi usulannya agar dicari jalan tengah untuk mengatasi dualisme kepengurusan antara kubu OSO dan kubu Daryatmo.

Jalan tengah yang diusulkan Totok sebagai solusi tersebut ialah menjadikan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Jenderal (Purn) TNI Moeldoko, yang juga Kepala Staf Presiden (KSP), sebagai Ketua Umum Partai Hanura yang baru, bukan lagi OSO atau Daryatmo.

Totok tidak menampik saat Harry Lontung mengklaim Hanura solid. Hanya saja, soliditas itu dinilai Totok baru terjadi di permukaan. “Yang terjadi sesunggunya ibarat api di dalam sekam. Faktanya, kubu Daryatmo menggugat ke PTUN. Bila Pak Moeldoko jadi ketua umum, niscaya soliditas itu akan bersifat menyeluruh, bukan hanya di permukaan yang sifatnya rapuh,” jelasnya.

Sebab itu, kata Totok, mau lewat Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) atau mekanisme lain, yang penting tidak melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), mendaulat Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Hanura adalah suatu keniscayaan agar kesiapan partai ini lebih baik lagi menyongsong Pemilu 2019.

Totok mengaku tak punya hidden agenda (agenda terselubung), vested interest (kepentingan pribadi) atau mabisi apa pun terkait usulannya itu, apalagi mengincar jabatan di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang tak ada hubungannya dengan Hanura. Usulan Totok itu semata-mata demi menyelamatkan Hanura agar lolos dari PT 4%. “Kalau tidak lolos PT, buat apa susah-susah ikut pemilu,” cetusnya.

Dengan Moeldoko menjadi ketua umum, menurut Totok, niscaya rekonsiliasi akan terjadi secara natural, alami, tanpa paksaan, baik di tingkat elite maupun grass roots (akar rumput), sehingga akan terjadi win-win solution (solusi menang semua) antara kubu OSO dan kubu Daryatmo, serta tidak ada yang kehilangan muka (loss face).

Jadi, lanjut Totok, kedua kubu hendaknya legawa (ikhlas) dan berjiwa besar, jangan “rebut balung tanpa isi” atau ibarat anak-anak berebut layang-layang putus, di mana ketika satu anak sudah mendapatkan layang-layang itu, anak-anak lainnya akan merobeknya sehingga kedua pihak tidak ada yang bisa mengunakan layang-layang itu. “Jangan sampai gara-gara konflik internal yang berkepajangan, Hanura tak lolos PT 4%,” tegasnya.

Ketulusan, keikhlasan, dan rasa ikut memiliki (melu handarbeni) terhadap Hanura itulah yang menjadikan Totok merasa melu hangrungkebi (ikut bertanggung jawab) terhadap eksistensi dan maju-mundurnya Hanura, dan kemudian mulat sarira hangrasawani (introspeksi diri) sebagai otokritik. “Kalau ada otokritik, jangan pula alergi. Sekali lagi, jangan ada yang kebakaran jenggot ketika ada kader sejati yang menawarkan terobosan demi kemajuan Hanura,” tandasnya. ( red )

Bagikan Ini :