telusur.co.id – Mata uang Republik Indonesia, Rupiah yang diperkirakan bakal melemah hingga Rp 15.000 per dolar AS, memang mengkhawatirkan.

Menanggapi itu, Direktur Centre For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi menilai melemahnya Rupiah terkesan ada pembiaran dari Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati (SMI).

- Advertisement -

“Kalau loyo ke Rp 15.000, ini disebabkan ada kesan, adanya pembiaran dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani untuk mengantisipasi atas laju naik nilai dolar dan juga akan terjadi depresiasi,” kata Uchok kepada telusur.co.id, Selasa (13/3/18).

Uchok melihat Sri Mulyani sedang asyik dengan dirinya sendiri, yakni melakukan pencitraan untuk menjadi calon Wakil Presiden di Pilpres 2019.

“Mentari Keuangaan kelihatan asyik dengan pencitraan dirinya untuk meraih tiket calon wakil presiden, untuk mendampangi Jokowi daripada menjaga nilai Rupiah,” kata dia.

Dirinya menyarankan Sri sebaiknya fokus untuk menjaga nilai tukar Rupiah, agar para pengusaha di Indonesia tidak menjerit, jika mata uang tercinta harus menyentuh Rp 15.000 per satu dolar.

“Sebaik Menteri Keuangaan fokus menjaga nilai Rupiah agar para pengusaha tidak teriak,” kata Uchok.

Sebelumnya, Pelemahan rupiah terhadap dolar AS diperkirakan tembus ke Rp 15.000, seperti yang pernah terjadi tahun 2015.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan lembaga pemeringkat Internasional S&P Global Ratings, kepada wartawan dalam konferensi pers hari Selasa (13/3/18).

Disampaikan Senior Director Corporate Ratings S&P Global Ratings, Xavier Jean, tembusnya Rupiah ke level tersebut harus jadi perhatian serius.

“Kami sudah mengestimasi bahwa depresiasi rupiah menuju Rp 15.000 per dolar AS adalah level yang harus diperhatikan,” kata dia. [ipk]

Bagikan Ini :