Catatan Oleh : Sayuthi Asyathri – Bung Natalius Pigai dalam sebuah tulisan panjangnya yang beredar di group WA telah menjelaskan dengan bagus apa yang dimaksudkan Rocky Gerung (RG) dalam perspektif Kristiani. Sebuah penjelasan yang dibatasi oleh ruang keimanannya, karena menempatkan pengertian kitab suci sebagai fiksi dalam beberapa tinjauan dengan perspektif Kristiani. Artinya Bung Pigai justru mendukung apa yang dikemukakan Bung Rocky Gerung.

Tetapi ketika berkembang pembicaraan yang mengkaitkan pernyataan tersebut dalam pengertian Islam yaitu berkaitan juga dengan kitab Suci Al Qur’an, maka RG kemudian ‘dibawa’ masuk ke soal sensitif dalam agama.

Bagaimanapun juga, menyebut kitab suci Qur’an maka tidak bisa dipahami dalam kategori apapun sebagai fiksi atau mengandung fiksi. Pendapat ini bersifat final, karena Qur’an pasti bukan sebuah kitab yang berisi fiksi, betapapun relatifnya pengertian fiksi dalam rentang pengertian dari yang mengandung kebenaran sampai pada khayalan imajiner.

Meskipun ada di antara satu dua penulis muslim yang terpengaruh dengan perspektif Kristen ketika memaknai Kitab Suci sebagai fiksi yang bernuansa memasukkan kitab suci Islam dalam pengertian tersebut. Namun, hal itu pasti ditolak secara mutlak dan tidak pernah bisa diterima. Untuk itu kalau masih diperlukan penjelasan maka kita akan bicarakan dalam kesempatan yang lain.

BACA JUGA :  Jenderal Jadi Plt Gubernur, Sayuti Asyathri : Lebih Nekat Dari Jaman Pak Harto

Bukan secara kebetulan bila Rocky Gerung sama sekali tidak menyebutkan objek kitab suci yang dimaksud itu apa, karena dia hanya menyebut kitab suci titik. Artinya RG sudah memperhitungkan dengan sangat cermat ucapannya tersebut, yakni dengan hanya menyebutkan kitab suci sebagai fiksi maka  kitab suci yang dimaksud seperti apa hanya RG yang tahu dan itu hanyalah kitab suci yang berada dalam wilayah persepsi dan tafsirnya. Dia bisa isi ruang definisi dan atribusi kitab suci itu menurut persepsi dan tafsir dia dan itu adalah haknya untuk memaknai sebuah subjek yang tidak diberi batasan objek. Sehingga kitab sucinya RG tidak masuk dalam kategori hukum, karena tidak ada objek yang membatasinya sebagaimana yang dibicarakannya.

Sebenarnya wacana yang dibangun RG sangat bermanfaat bagi kalangan ummat beragama, khususnya Islam, agar berpikir kritis tentang kapan sebuah diksi yang dipakai di ruang agama dibedakan dengan yang digunakan di ruang publik. Bagi para sarjana Islam, wacana tersebut bisa juga mengingatkan bahwa sebuah istilah yang memiliki relasi subjektif keagamaan harus menjalani sebuah proses transformasi objektivikasi atau deobjektivikasi ketika dibahasakan di ruang publik, agar istilah yang digunakan miliki relasi ke belakang (backward) dengan teks dan konteks dan ke depan (forward) dengan ruang konteks yang bisa diadress oleh suatu wacana publik dalam suatu tatanan yang plural.

BACA JUGA :  Amblesnya Rupiah Dan Kepongahan Tidak Bertanggung Jawab

Maka kata kitab suci yang bermakna keimanan bagi Ummat Islam, harus dilengkapi dengan kata Al Qur’an, agar ia memiliki adress yang miliki makna keimanan dalam agama. Bila tidak, maka ia bisa berarti kitab suci apa saja, dan ummat beragama tidak bisa melakukan klaim keimanan dalam pembelaan atas suatu subjek yang tidak miliki objek sebagai pembatasan untuk menegaskan alamatnya dalam sistem keimanan.

Wacana Rocky Gerung justru bermanfaat bagi ummat Islam agar jangan lupa menambahkan objek Qur’an ketika menyebutkan kitab suci. Dan kalau kitab suci itu bermakna Qur’an maka ia bukan yang dimaksudkan sebagai fiksi karena ia tidak masuk dalam ruang tafsir RG yang tidak menyebutkan bahwa yang dimaksudkan adalah Qur’an.(Red).

 

Wallahu A’lam bisshowab.

Sayuti Asyathri

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini